Satu Janji untuk Ibu

Sumber: Najwalin Syofura.

Oleh: Putri wahyuni
(Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam)

Sejak lulus SMA, Aisyah sudah memiliki satu keinginan yang sangat besar, yaitu melanjutkan kuliah. Ia ingin belajar lebih tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik agar suatu hari bisa membantu keluarganya.

Namun, keinginan itu tidak mudah diwujudkan. Keadaan ekonomi keluarganya membuat ibunya tidak sanggup membiayai kuliah.

“Sudahlah, Nak. Ibu rasa kamu tidak usah kuliah dulu. Biayanya besar. Kita makan sehari-hari saja kadang masih susah,” kata ibunya.

Aisyah terdiam. Ia tahu ibunya bukan tidak mendukungnya. Ibunya hanya takut tidak mampu memenuhi kebutuhan kuliahnya.

“Tapi, Bu, Aisyah ingin kuliah. Aisyah akan cari beasiswa. Aisyah janji, Ibu tidak perlu memikirkan semua biayanya,” jawab Aisyah.

Ibunya masih ragu. Baginya, mendapatkan beasiswa bukan sesuatu yang mudah. Banyak anak yang memiliki nilai bagus juga ingin mendapatkannya.

“Kamu yakin bisa?” tanya ibunya.

Aisyah mengangguk. “Insyaallah bisa, Bu. Kalau Aisyah belum mencoba, Aisyah tidak akan pernah tahu.”

Akhirnya, dengan berat hati, ibunya mengizinkan Aisyah mendaftar kuliah. Sejak saat itu, Aisyah berusaha belajar lebih giat. Ia mencari berbagai informasi tentang beasiswa, mengikuti seleksi, mengurus berkas, dan tetap berusaha mendapatkan nilai yang baik.

Tidak semuanya berjalan lancar. Beberapa kali ia gagal dalam seleksi beasiswa. Ada saatnya Aisyah merasa lelah dan mulai berpikir bahwa mungkin ibunya benar.

Suatu malam, Aisyah menangis setelah melihat hasil seleksi yang kembali tidak sesuai harapan. Ia kemudian berdoa.

“Ya Allah, kalau kuliah ini memang baik untukku, bukakanlah jalan. Aku tidak ingin menyusahkan Ibu.”

Setelah itu, Aisyah kembali mencoba. Ia percaya bahwa kegagalan bukan berarti Allah menutup semua jalan.

Beberapa bulan kemudian, saat sedang berada di kampus, Aisyah menerima sebuah pesan. Ia membukanya dengan tangan gemetar.

Ia dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa.

Aisyah tidak mampu menahan air matanya. Ia langsung menelepon ibunya.

“Bu, Aisyah dapat beasiswa.”

Di seberang telepon, ibunya terdiam beberapa saat. Kemudian terdengar suara tangis bahagia.

“Alhamdulillah, Nak. Ibu bangga sama kamu.”

Aisyah tersenyum sambil menangis. Janjinya kepada ibunya akhirnya benar-benar terwujud.

Tahun demi tahun berlalu. Aisyah menyelesaikan kuliahnya dengan beasiswa yang ia perjuangkan sejak awal. Pada hari wisuda, ia berdiri di samping ibunya dengan mengenakan pakaian wisuda.

“Terima kasih sudah mengizinkan Aisyah kuliah, Bu.”

Ibunya tersenyum dan memeluknya.

“Bukan Ibu yang membuat kamu sampai di sini, Nak. Allah yang membukakan jalan.”

Aisyah mengangguk. Ia akhirnya memahami bahwa terkadang manusia hanya melihat kesulitan di depan mata, sementara Allah sudah menyiapkan jalan yang belum terlihat.

Keadaan ekonomi mungkin pernah membuatnya hampir menyerah. Namun, selama masih ada usaha, doa, dan keyakinan kepada Allah, selalu ada kemungkinan untuk menemukan jalan.

Allah Maha Baik. Kesulitan bukan berarti akhir dari segalanya. Bisa jadi, di balik kesulitan itu, Allah sedang menyiapkan jalan yang jauh lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Tiga Tahun yang Selesai

Related Posts

Hirap

Oleh: Evrilia Rahayu Mustafa(Mahasiswi MPI UIN Imam Bonjol Padang) Lukisan bianglala menyerka dindingButiran debu menyisir pewarna batasAyu parasnya…
Selengkapnya