Oleh : Putri Wahyuni
(Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam)
Mereka sudah bersama selama tiga tahun. Selama itu, banyak hal yang mereka lewati bersama. Mulai dari hal-hal kecil seperti makan bersama, bertukar cerita setiap malam, sampai saling menemani ketika salah satu sedang menghadapi masalah.
Bagi Naya, tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Ia sudah terbiasa menceritakan hampir semua hal kepada Raka. Karena itu, ketika Raka mulai berubah, Naya menjadi orang pertama yang menyadarinya.
Raka mulai jarang menghubunginya. Pesan yang dulu selalu dibalas dengan cepat mulai dibiarkan berjam-jam. Percakapan mereka juga semakin singkat.
“Rak, kamu kenapa akhir-akhir ini beda?” tanya Naya suatu malam.
“Enggak kenapa-kenapa. Aku cuma lagi banyak pikiran,” jawab Raka.
Naya mencoba percaya. Ia berpikir mungkin Raka memang sedang lelah atau memiliki masalah yang tidak bisa diceritakan. Ia tidak ingin menjadi pacar yang terlalu menuntut.
Namun, perubahan itu terus terjadi.
Raka semakin jarang mengajak bertemu. Ketika Naya mengajak berbicara, Raka terlihat tidak tertarik. Bahkan beberapa kali Raka memilih bermain dengan ponselnya ketika Naya sedang bercerita.
Naya mulai merasa sendirian meskipun masih memiliki pacar.
Ia berusaha mempertahankan hubungan itu. Ia mengurangi tuntutan, mencoba lebih memahami keadaan Raka, dan menunggu Raka kembali seperti dulu.
Tetapi yang berubah bukan hanya sikap Raka.
Suatu hari, Naya menemukan percakapan Raka dengan perempuan lain. Awalnya ia mengira itu hanya percakapan biasa. Namun semakin dibaca, semakin jelas bahwa hubungan mereka sudah melewati batas.
Naya menatap layar ponselnya cukup lama. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak menangis.
“Ini siapa?” tanyanya ketika Raka pulang.
Raka terdiam.
Tidak ada jawaban yang bisa membuat keadaan menjadi lebih baik.
“Aku minta maaf,” kata Raka akhirnya.
Naya menatapnya. “Jadi selama ini aku benar-benar sendirian dalam hubungan ini?”
Raka tidak menjawab.
Hari itu Naya sadar bahwa masalah mereka bukan hanya karena Raka berubah. Ada orang lain yang sudah masuk ke dalam hubungan mereka.
Naya sempat marah, kecewa, dan mempertanyakan dirinya sendiri. Ia bertanya-tanya apa yang kurang dari dirinya sampai Raka memilih orang lain.
Namun setelah beberapa hari, ia mulai memahami sesuatu.
Perselingkuhan Raka bukan kesalahan yang harus ia tanggung.
Naya kemudian mengambil keputusan yang selama ini paling ia takutkan.
“Kita selesai,” katanya.
Raka mencoba meminta kesempatan. Ia berjanji akan berubah dan tidak mengulanginya lagi.
Namun, Naya sudah terlalu lelah untuk kembali ke hubungan yang sama.
“Aku sudah memberikan tiga tahun untuk hubungan ini. Aku enggak mau memberikan lebih banyak waktu hanya untuk menunggu kamu kembali menjadi orang yang dulu.”
Setelah itu, Naya pergi.
Awalnya tidak mudah. Tiga tahun tidak mungkin hilang hanya dalam beberapa hari. Ia masih sering mengingat kebiasaan mereka, tempat-tempat yang pernah didatangi, bahkan lagu yang pernah mereka dengarkan bersama.
Tetapi Naya tidak kembali.
Ia mulai menjalani hidupnya tanpa Raka. Ia kembali berkumpul dengan teman-temannya, fokus pada kuliahnya, mengejar hal-hal yang sempat ia abaikan selama menjalin hubungan.
Perlahan, nama Raka tidak lagi menjadi hal pertama yang ia pikirkan ketika bangun tidur.
Beberapa bulan kemudian, Naya menyadari bahwa ia sudah baik-baik saja.
Ia tidak lagi menunggu pesan Raka. Tidak lagi ingin tahu dengan siapa Raka pergi. Tidak lagi berharap Raka menyesal.
Baginya, hubungan itu memang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Namun, bukan berarti sesuatu yang pernah penting harus dipertahankan selamanya.
Tiga tahun itu tidak sia-sia. Dari sana Naya belajar mencintai, bertahan, kecewa, dan akhirnya belajar melepaskan.
Ia tidak menyesal pernah mencintai Raka.
Ia hanya menyesal pernah mengira bahwa mempertahankan seseorang yang sudah tidak memilihnya adalah bentuk dari cinta.
Pada akhirnya, Naya memilih dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, ia merasa benar-benar bebas