Oleh: Verlandi Putra (Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris UIN Imam Bonjol Padang)
Alkisah seekor musang kecil
hidup di liang senyap bawah akar beringin tua
ia bukan siapa-siapa
hanya segumpal napas yang lelah dikejar dunia
Ia menemukan tempat itu saat badai pertama menggulungnya
liang kecil, pengap, lembab,m
Tapi penuh bisikan hangat tanah dan wangi jamur
Di sanalah ia belajar menjadi tenang tanpa alasan
Ia menyusun sarangnya dari rambut malam
Dari daun-daun gugur yang tak menuntut untuk dikagumi
Ia hafal detak akar dan irama hujan di atas tanah
Dan diam-diam menyebut liang itu: dada keduanya
Musang itu tak punya jam
Tapi waktu ia hitung dari gores cakarnya di batu
Dan dari jumlah hari ia tidur tanpa mimpi buruk
Karena liang itu tahu caranya menimang luka tanpa bertanya
Namun datanglah manusia
Membawa peta dan sekop nan membawa alasan dan rencana
Dan dalam satu pagi yang tak pernah dimimpikan musang
liangnya dikoyak lalu tanahnya diangkat
Akar-akar tempat hatinya menggantung dicabut.
Ia terbangun pada kehampaan
Mencari dirinya sendiri di antara reruntuhan tanah
Tapi ia tak menemukan
Karena dirinya ternyata tertinggal di sarang yang sudah tiada
Mereka bilang: “Carilah liang baru, musang kecil
Bukankah hutan luas dan malam panjang?”
Tapi tak ada yang tahu:
liangnya bukan hanya tempat,
melainkan satu-satunya yang tahu bahasa air matanya
Musang itu kini berkeliaran
membawa separuh jiwanya yang belum punya tempat menetap
Kadang ia mencium tanah
bertanya pada cacing dan angin: “Apa kalian melihat tempatku?”
Namun tak ada jawaban
Karena tempat sejati bukan hanya lubang di bumi
Ia adalah ingatan yang bersedia diam bersamamu
Menampung seluruh bentukmu
Bahkan saat kau tak tahu lagi bentukmu sendiri
Dan malam-malam pun berlalu
Musang kecil masih berjalan
Mencari liang yang tak lagi ada
Sebab ia tak butuh rumah baru
Ia hanya ingin kembali ke tempat
yang dulu menyebutnya cukup