Menagih Janji Rektor

Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga, Rahmad Sitepu. Sumber: Dokumentasi pribadi narasumber.

Oleh : Rahmad Sitepu
(Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga)

Demonstrasi bertajuk “Mosi Tidak Percaya” yang dilakukan ratusan mahasiswa di lingkungan Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang pada 9 Maret 2026 lalu bukan sekadar aksi turun ke jalan. Aksi tersebut lahir dari keresahan mahasiswa terhadap kondisi kampus dan harapan agar pihak rektorat lebih terbuka terhadap berbagai persoalan yang ada. Salah satu tuntutan yang paling banyak disorot saat itu ialah terkait pembangunan fasilitas kampus, pembangunan masjid, perbaikan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) pasca bencana, hingga persoalan dugaan korupsi yang berkembang di lingkungan kampus.

Kini, setelah aksi berlalu cukup lama, mahasiswa tentu berhak menagih janji yang pernah disampaikan pimpinan universitas. Sebab dalam dialog bersama massa aksi kala itu, pihak rektorat menyatakan bahwa seluruh aspirasi mahasiswa akan menjadi bahan evaluasi dan perbaikan tata kelola kampus ke depan. Namun pertanyaannya, sejauh mana realisasi dari janji tersebut?

Pembangunan masjid kampus menjadi salah satu hal yang disoroti mahasiswa. Setelah Idulfitri lalu, sempat muncul harapan bahwa pembangunan akan segera berjalan sebagaimana yang disampaikan pihak kampus. Akan tetapi, hingga kini kurang lebih dua bulan berlalu, belum terlihat perkembangan pembangunan yang signifikan.

Kondisi ini tentu menimbulkan tanda tanya di kalangan mahasiswa. Masjid bukan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi simbol kebutuhan spiritual dan pusat aktivitas keislaman di lingkungan kampus Islam negeri. Karena itu, wajar jika mahasiswa mempertanyakan keseriusan pihak kampus dalam merealisasikan pembangunan tersebut.

Mahasiswa tidak menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin adanya kepastian dan transparansi. Jika memang terdapat kendala administratif, anggaran, ataupun teknis, maka kampus seharusnya terbuka menyampaikan hal itu kepada mahasiswa. Sebab keterbukaan adalah bagian penting dari kepercayaan. Jangan sampai janji yang pernah disampaikan hanya menjadi penenang sesaat ketika gelombang demonstrasi muncul.

Di sisi lain, pembangunan Fakultas FEBI memang sudah mulai berjalan. Hal ini patut diapresiasi sebagai bentuk tindak lanjut dari tuntutan mahasiswa sebelumnya. Namun di balik pembangunan tersebut, muncul persoalan baru yang dirasakan langsung oleh mahasiswa setiap hari.

Sebelumnya, akses keluar-masuk menuju area kampus dapat melewati jalur Fakultas FEBI. Akan tetapi, sejak pembangunan dimulai, akses tersebut ditutup dan mahasiswa dialihkan melewati jalan lain yang lebih jauh. Dampaknya cukup terasa, terutama bagi mahasiswa yang menggunakan jasa transportasi online seperti Grab, Gojek, maupun Maxim. Perubahan akses ini menyebabkan ongkos perjalanan meningkat dan menyulitkan mobilitas mahasiswa sehari-hari.

Persoalan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi mahasiswa yang setiap hari harus memikirkan biaya transportasi dan kebutuhan kuliah, kenaikan ongkos tentu menjadi beban tambahan. Kampus seharusnya tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memikirkan dampak pembangunan terhadap kenyamanan dan aksesibilitas mahasiswa.

Selain persoalan pembangunan, tuntutan mahasiswa terkait dugaan korupsi di lingkungan kampus juga hingga kini masih menjadi perhatian serius. Mahasiswa menilai bahwa kasus yang berkembang harus diselesaikan secara cepat, transparan, dan tanpa ada kesan ditutup-tutupi. Sebab sebagai institusi pendidikan Islam, kampus seharusnya menjadi contoh dalam menjunjung nilai kejujuran, integritas, dan akuntabilitas.

Mahasiswa tentu tidak ingin nama baik universitas tercoreng oleh persoalan yang tidak diselesaikan secara terbuka. Karena itu, pihak kampus perlu menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung proses penyelesaian kasus tersebut sesuai aturan yang berlaku. Transparansi menjadi penting agar tidak muncul spekulasi liar yang justru merusak kepercayaan mahasiswa terhadap institusi.

Pada akhirnya, demonstrasi mahasiswa kemarin bukan sekadar bentuk kritik, melainkan wujud kepedulian terhadap masa depan kampus. Mahasiswa ingin kampus berkembang, fasilitas membaik, akses mahasiswa diperhatikan, dan persoalan hukum diselesaikan secara terang-benderang. Karena itu, hari ini mahasiswa hanya sedang melakukan satu hal: menagih janji rektor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

UKM Bahasa UIN IB Padang Siapkan Mahasiswa Hadapi Dunia Global

Related Posts