Begini Kata Guru Besar Sejarah UIN IB Terkait Konflik Palestina-Israel

Konflik Palestina-Israel (Sumber: Medcom)

Suarakampus.com- Konflik Palestina-Israel kembali meruncing imbas bentrokan yang terjadi antara kedua kubu di kawasan Masjid Al-Aqsa. Konflik tersebut menuai kecaman dan kritikan dari berbagai penjuru dunia, termasuk pernyataan dari Guru Besar Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Imam Bonjol Padang, Saifullah.

Saifullah menjelaskan apa yang terjadi di Masjid Al-Aqsa adalah bentuk penyerangan Kepolisian Israel kepada warga Palestina. Ia mengecam dalih Israel yang menyebutkan tindakan tersebut dalam rangka melindungi diri.

“Bentrokan itu sudah jelas bentuk penyerangan dan ancaman yang dilakukan oleh kepolisian Israel, bukan bentuk perlindungan karena logikanya masyarakat Palestina saat itu sedang melaksanakan salat bukan lagi menyerang,” jelasnya kepada wartawan suarakampus.com, Rabu (12/05).

Cerita Saifullah di Tanah Konflik

Saifullah bercerita ketika dirinya berkunjung ke Palestina, ia menyaksikan kebencian warga Palestina terhadap Israel yang kerap melakukan penyerangan dan merampas wilayahnya sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

“Saat sedang berada di Palestina, saya bertanya kepada masyarakat sekitar termasuk travel leaders, mereka dengan tegas menyatakan kebencian terhadap Israel,” terang Pakar Sejarah Peradaban Islam UIN IB itu.

Ia mengungkapkan konflik maupun penyerangan yang dilakukan oleh bangsa Israel kepada penduduk Palestina hanya terjadi sebagian kecilnya saja dari seluruh wilayah Palestina, yaitu di bagian tepi barat wilayah Palestina dan kota Gaza. “Selama saya di sana saya melihat sekitaran Palestina hingga laut merah dan tidak terjadi apa-apa,” sebutnya.

Ketika Saifullah berada di tempat yang sebagian besarnya adalah wilayah Israel, ia melihat terjadi dengan jelas bentuk kesenjangan ekonomi, sebab dengan dana yang mumpuni Israel mampu membangun kota yang telah dihancurkannya. Hal itu membuat sebagian pemuda Palestina dari segi tatanan modernitas lebih suka diatur oleh Israel ketimbang Palestina sendiri.

“Saya melihat jika ada rumah yang bagus, bangunan yang tertata dan taman perkotaan yang indah itu merupakan rumah penduduk Israel. Sedangkan jika ada rumah atau bangunan kumuh serta jalan sempit maka itu adalah wilayahnya Palestina,” pandangnya.

Tekanan Kebebasan Politik Hambat Solidaritas

Saifullah menjelaskan solidaritas negara di seluruh dunia terkhususnya negara bagian Timur Tengah seperti Arab Saudi tidak banyak bertindak soal konflik yang terjadi saat ini, karena negaranya sendiri dari aspek kebebasan politik masih mendapatkan tekanan dari Amerika Serikat.

“Saat saya umrah saya menyaksikan kontribusi negara Indonesia lebih besar ketimbang negara-negara lain yang mayoritas Islam,” jelasnya.

Mengenai respons dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Saifullah menjelaskan PBB saat ini sudah banyak dipengaruhi oleh Amerika Serikat karena dari segi biaya operasional sendiri, Amerika Serikat adalah negara yang paling banyak menyumbang kepada PBB.

“Saya sempat bertandang ke markas PBB di New York dan memperhatikan bahwa PBB sebagian besarnya dipengaruhi oleh Amerika Serikat ditambah dengan lokasi markasnya yang berpusat di kota bagian Amerika Serikat,” ungkapnya.

Lanjutnya, sejatinya perang antara Palestina dan Israel sudah lama terjadi dengan motif kebencian dan penguasaan wilayah yang sama sehingga perlawanan tidak kunjung usai sampai sekarang.

“Kalau kita lihat sejarahnya hal ini berawal dari Perang Salib saat masa perjuangan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi hingga sampai saat ini,” sampainya. (ulf)

Wartawan: Hary Elta Pratama (Mg)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Memaknai Hikmah Kemenangan Idulfitri Pertama

Next Post

Potret Kemunduran Umat Islam dalam Melihat Konflik Palestina-Israel

Related Posts
Total
0
Share
Hacklinkizmir nakliyatbalgat nakliyateryaman evden eve nakliyatçankaya nakliyat