Dilema Anak Muda Menghadapi Masa Depan Pertanian Nasional

Kondisi persawahan di sore hari (foto: pixabay)

Suarakampus.com- Setiap tanggal 24 September diperingati sebagai Hari Tani Nasional. Selaku negara agraris yang mempunyai sejarah gemilang di sektor pertanian, nyatanya dewasa ini Indonesia memiliki masalah yang cukup pelik.

Tidak bisa dipungkiri, tanah yang subur tidak menjamin petani menjadi sejahtera. Hal tersebut dilihat dari jumlah petani yang tiap tahun menurun, berdasarkan catatan Badan Pusat Statiska (BPS), jumlah petani dalam rentang kurun waktu 15 tahun (20032018) turun dari 31,2 juta menjadi 27,7 juta.

Selain itu, kelompok profesi petani di Indonesia juga identik sebagai “profesi tua”. Terbukti pada tahun 2018, Badan Pusat Statitiska (BPS) mengeluarkan Hasil Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS). Di dalam salah satu bagian publikasinya, BPS mendata jumlah petani di Indonesia dalam kelompok usia. Dari total 33,4 orang petani yang saat itu terdata, kelompok usia 45-55 tahun memiliki jumlah absolut terbanyak: 9,1 juta orang.

Jumlah terbesar kedua pada kelompok usia 35-54 tahun (8,1 juta orang) dan jumlah ketiga dan keempat pada kelompok usia yang relatif tua, yakni 55-64 tahun (6,9 juta orang) dan kelompok umur lebih dari 65 tahun sebanyak 4,1 juta.

Mirisnya, menilik dari hasil SUTAS jumlah petani muda di kelompok 25-34 tahun hanya berjumlah 4,1 juta orang. Sedangkan jumlah paling sedikit pada kelompok di bawah usia 25 tahun hanya berjumlah 885 ribu orang.

Ini menjadi peringatan bagi kita semua, bahwa di balik potensi besar sebagai negara yang luas akan lahan pertanian. Nyatanya, sektor pertanian kurang diminati generasi milenial.

Selain itu, Indonesia diperkirakan akan mengalami bonus demografi dalam waktu yang tidak lama lagi. Maka menjadi sangat penting untuk mencari solusi bagaimana sektor pertanian dapat memanfaatkan bonus demografi tersebut.

Kondisi Pertanian Belum Optimal

Wakil BEM Fakultas Pertanian IPB, Muhammad Nur Alif Rapi menyoroti kondisi petani di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Pasalnya, banyak indikator kemunduran sektor pertanian nasional, seperti jumlah petani yang semakin menurun.

Diterangkan lebih lanjut, ada dua faktor utama yang menyebabkan jumlah petani merosot setiap tahunnya. Pertama, sebagian petani tidak menginginkan keturunannya memiliki nasib yang sama dengan dirinya. “Mereka meminta anaknya, kalau dapat setelah dewasa untuk tidak menjadi petani,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Alif.

Faktor kedua, kata Alif, terletak pada stigma generasi muda sekarang yang berpandangan bahwa kerja sebagai petani tidak menarik. “Pemuda saat ini kerap menganggap kerja sebagai petani adalah profesi yang tidak terhormat, tidak ada wibawa, kerjanya kotor-kotoran dan sering dikaitkan dengan kemiskinan,” paparnya.

Statistik jumlah petani di Indonesia dengan kelompok umurnya (Ilustrasi: Redaksi Suara Kampus)

Selain itu, ia juga menyoroti peran pemerintah yang dirasa belum optimal dalam mensejahterakan kaum petani saat ini. “Ketidakjelasan sistem ekspor dan impor di sektor pertanian sangat berdampak pada petani,” sebutnya.

Lanjutnya, di tengah pandemi memang sektor pertanian cukup bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan umum dan mengganjal inflasi. Namun, petani nyatanya belum mendapatkan ganjaran yang setimpal atas usahanya.

“Petani hanya dijadikan sebagai objek, padahal penting untuk menjadikan petani juga sebagai subjek agar memenuhi hak-hak dari para petani,” jelasnya.

Secercah Harapan

Pandemi memaksa sebagian besar mahasiswa harus kuliah di kampungnya masing-masing. Sebagai pilar yang mesti mengabdi kepada masyarakat, tentu diharapkan kepada mahasiswa bisa menjawab setiap permasalahan yang ada

Banyak kebijakan dari sebagian kampus agar mampu mempertahankan prosesi perkuliahannya di tengah pandemi. Seperti halnya Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa sendiri, maupun tugas yang mengkondisikan keadaan setiap mahasiswa.

Ikhlas, salah seorang Mahasiswa Agreoteknologi Universitas Andalas, saat pandemi ia bersama teman-temanya kerap melakukan pratikum bersama petani. Selain itu, dirinya juga terjun ke lapangan untuk mewawancarai dan mencari solusi atas permasalahan bersama petani di kampungnya.

“Kami melakukan penyuluhan terkait bahaya pestisida kimia dan apa itu pestisida nabati, dan saat KKN, kami juga memberikan sejumlah bibit kepada petani,” ungkapnya.

Kegiatan tersebut, kata Ikhlas, dosen memiliki peran andil dengan menekankan untuk lebih dekat kepada petani di kampung masing-masing. “Pandemi nyatanya membuat mahasiswa lebih dekat mengetahui dunia pertanian, tentunya dosen dan fakultas memberikan arahan serta kebebasan kepada mahasiswa,” ucapnya.

Ia meminta kepada setiap mahasiswa, terkhusus mahasiswa pertanian untuk dapat bersungguh-sungguh dalam ilmu pertanian. Sebab, pertanian Indonesia tidak boleh berhenti dan mesti diwariskan ke generasi selanjutnya.

“Saya berharap semoga pertanian nasional bisa lebih maju dalam hal teknologi, inovasi pertaniannya. Hal tersebut begitu diperlukan lantaran kehadiran dari generasi muda apalagi mahasiswa pertanian untuk membangun ekonomi Indonesia yang kompetitif dan berkelanjutan,” pintanya.

Berbeda dengan Ikhlas, Muhammad Nur Alif Rapi menyebut kegiatannya sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Pertanian sangat stagnan imbas pandemi. Kondisi yang tidak stabil membuat mahasiswa pertanian bingung dengan posisinya. “Mahasiswa pertanian bukanlah tempatnya di Zoom ataupun platform online lainnya, tapi tempatnya di lahan yang subur dan luas,” pungkasnya.

Ia melanjutkan, mahasiswa pertanian jauh berbeda dengan mahasiswa pada umumnya dalam pembelajaran di tengah pandemi. “Kami harus sering melakukan praktik sekalipun kesempatan yang sangat terbatas,” paparnya.

Dampak dari masifnya kuliah daring, katanya akibat sebagian besar mahasiswa pertanian takut, khawatir ataupun tidak percaya diri dengan kapasitasnya sebagai mahasiswa pertanian. “Hal tersebut juga memicu selepas sarjana nanti, dikhawatirkan mahasiswa pertanian untuk menjadi petani modern sangat minim,” ungkapnya.

Wakil Ketua BEM Faperta IPB itu berharap kampus maupun pemerintah setempat dapat benar-benar mewadahi para mahasiswa pertanian, agar bisa mengembangkan softskill dan hardskillnya. “Inilah yang menjadi tantangan bagi kita semua, semoga kita bisa lepas dari situasi pandemi ini dan bersama-sama membentuk generasi muda yang mampu memajukan pertanian Indonesia,” harapnya. (ulf)

Wartawan: Rahma Dhoni dan Ulfa Desnawati

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Pendaftaran Wisuda ke-86 Diperpanjang, WR I: 18 Orang Belum Terdaftar

Next Post

Pentingnya Mencari Jati Diri Saat Berkuliah

Related Posts
Total
0
Share