Tanah merah 30 September 2009

Ilustrasi (sumber: Ummi Nadia/suarakampus.com)

Oleh: Sofi Asri
( Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam
)

15 tahun yang lalu takkan ku lupa
Ketika bumi rendang dibaluti rasa duka
Dan ingatan tanah merah 30 September 2009 menyapa

Ba’da ashar nan tenang
Rutunitas kala itu berjalan seirama
Namun ada rasa gelisah menggema
Jauh di lubuk hati terasa bimbang

Hitungan detik bumi rendang berguncang
Semuanya berhamburan kejalanan
Begitu juga dengan aku yang termenung
Hiruk pikuk bersahut-sahutan

Gema takbir menyebut asma-Nya
Ternyata Tuhan ingin memperlihatkan kekuasaan-Nya
Di iringi rintikan hujan membasahi jiwa
Semuanya dibaluti rasa sendu nan mengelana

Gempa 30 september 2008 di tanah ku
Banyak kisah duka dan pilu
Bukan bangunan saja nan hancur terburu-buru
Tapi hati ku pun ikut ambruk menjadi satu

Sahabat nan dari dulu di sisi ku
Kini telah pergi bersama sang pencipta
Tetes darah yang mengalir dari kepala nya
Membuat miris hati ku kala itu

Tubuhnya pucat tak berdarah
Dan sang tanah menguburnya
Jauh rasanya jiwa ku pergi
Tanpa dirinya yang mendampingi

Tuhan aku sadar engkau lebih merindukannya
Dibandingkan aku yang hanya insan biasa
Ku angkat kedua tangan sambil berdo’a
Semoga dirinya tenang di alam sana

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Tali yang Mengikat Dua Jiwa

Next Post

Media Baru dengan Kenakalannya

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty