Tanggapan Mahasiswa Terkait Relevansi Magang Kampus

(Sumber: Isyana/suarakampus.com)

Suarakampus.com– Dua mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang membagikan pengalaman berbeda saat menjalani magang di Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Jakarta. Pengalaman mereka menunjukkan pentingnya relevansi program magang dalam mempersiapkan mahasiswa memasuki dunia kerja, Kamis (27/11).

Mahasiswa magang di BSI, Suri Mardiah menilai, pengalamannya sesuai ekspektasi karena dapat melihat langsung pelayanan perbankan dan memahami alur administrasi. “Saya bisa mengembangkan kemampuan komunikasi, disiplin, kerja sama, dan memahami praktik perbankan syariah secara nyata,” katanya.

Selama magang, Suri menjalankan tugas seperti menginput data, melayani kebutuhan dasar nasabah, dan memahami produk bank syariah. Ia menilai tugas-tugas tersebut berkaitan dengan materi perkuliahan yang telah dipelajarinya.

Namun, Suri mengakui adanya fenomena mahasiswa yang magang hanya untuk memenuhi kewajiban tanpa fokus mengembangkan keterampilan. “Saya pernah melihat beberapa rekan magang yang datang hanya untuk mengambil absensi atau bahkan tidak aktif terlibat dalam kegiatan,” ungkapnya.

Sementara itu, mahasiswa magang di KPI Pusat Jakarta Muhammad Ziqri Ramadhan menilai, pengalaman magang di luar Sumatra Barat memberikan wawasan lebih luas dibanding magang di tingkat daerah.

Networking yang kami dapatkan luar biasa. Kami sering bertemu jurnalis nasional, artis yang berkaitan dengan penyiaran, dan berbagai pihak penting di dunia penyiaran,” jelasnya.

Muhammad Ziqri menjelaskan, bahwa magang di KPI Pusat sangat linier dengan materi kuliah, terutama terkait Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Seluruh aturan yang dipelajari di kelas diterapkan langsung dalam pengawasan isi siaran televisi, radio, dan lembaga penyiaran digital.

“Kami harus mengetahui pasal-pasal dalam P3SPS dan mengawasi apakah stasiun televisi memenuhi aturan tersebut,” ujarnya.

Ia menyebut, banyak kemampuan baru diperoleh selama magang, seperti keterampilan pengawasan siaran, pemahaman hukum penyiaran, dan pengelolaan penyiaran sesuai aturan. Mahasiswa juga mengikuti mentoring rutin bernama Index Discussion yang dilaksanakan setiap satu hingga dua minggu sekali.

Terkait fenomena mahasiswa yang magang hanya untuk absensi atau nilai, Muhammad Ziqri menilai, hal itu terjadi karena orientasi yang salah dan kurangnya pemahaman terhadap tujuan magang. Faktor eksternal seperti instansi yang tidak memberikan tupoksi jelas dan sikap yang kurang mendukung juga berpengaruh.

“Kondisi seperti itu banyak terjadi di beberapa instansi di Sumatra Barat. Namun di KPI Pusat, kami diwadahi dari awal, dididik, dilayani, dan diberi tugas yang jelas,” jelasnya.

Setelah menjalani magang selama dua setengah bulan, Muhammad Ziqri menilai ekspektasinya terpenuhi hingga 95 persen.

“Semua ekspektasi dan realita kami terwujud di sini. Networking terbangun, ilmu dan pengalaman juga terwadahi. Sisanya mudah-mudahan tercapai di sisa waktu magang,” ujarnya.

Kedua pengalaman magang tersebut menunjukkan pentingnya program magang yang terarah dan profesional dalam mempersiapkan mahasiswa memasuki dunia kerja.

Ia berharap, pihak kampus menyesuaikan penempatan mahasiswa magang sesuai minat dan kompetensi masing-masing agar program lebih terarah dan bermanfaat.(Lya)

Wartawan: Delia Putri (Mg), Regi Amanda Putra (Mg), dan Mhd Fauzan Husni (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Pulangan yang Terlambat

Next Post

Runtuh Pada yang Rapuh

Related Posts