Suarakampus.com– Filosofi perempuan Palembang yang lembut sekaligus berani diangkat melalui tari kontemporer Tanggai Sulu dalam perlombaan Seiba International Festival (SIF) 2026 di UIN Imam Bonjol Padang. Tarian itu ditampilkan oleh mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang di lantai 2 Gedung J UIN IB, Kamis (9/7).
Salah seorang penari, Melisa, menjelaskan Tanggai merupakan simbol khas Palembang yang merujuk pada kuku lentik, sedangkan Sulu berarti perempuan bercahaya. Melalui tarian itu, tim ingin menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya dipandang dari sisi kelembutan, tetapi juga sebagai sosok yang berani dan memiliki jiwa pejuang.
“Pesan yang ingin kami sampaikan, perempuan tidak hanya dinilai dari kelembutannya, tetapi juga dari keberanian dan jiwa pejuangnya. Walaupun terlihat gemulai, perempuan tetap bisa menjadi pejuang,” ujarnya kepada Suarakampus.com, Kamis (9/7).
Melisa menjelaskan, koreografi Tanggai Sulu memadukan gerakan tari tradisional dengan sentuhan kontemporer. Unsur tradisi ditampilkan melalui penggunaan bakul sebagai properti tari yang dipadukan dengan gerakan-gerakan baru.
Ia mengatakan, salah satu adegan menampilkan aksi tarik-menarik sebagai simbol perjuangan perempuan. Dalam bagian tersebut, seorang penari digambarkan menghadapi rasa takut, keterasingan, dan kehilangan kepercayaan diri sebelum akhirnya bangkit karena menyadari dirinya adalah sosok perempuan yang kuat.
“Pesannya, jangan takut walaupun harus berjuang sendirian,” katanya.
Untuk memperkuat makna tarian, tim juga menggunakan berbagai properti khas Palembang, seperti gunungan, bunga cempaka, bando bunga merah, gandik, kuku tanggai, baju kurung berbahan satin, serta songket Palembang.
Melisa mengungkapkan, proses persiapan penampilan hanya berlangsung sekitar dua pekan. Waktu latihan yang singkat disebabkan tim sempat bimbang mengikuti perlombaan hingga akhirnya hanya tiga mahasiswa yang tampil mewakili kampus.
“Kami rutin latihan sampai malam. Mungkin gerakan kami belum sempurna, tetapi kami sudah memberikan yang terbaik,” ungkapnya.
Ia menambahkan, seluruh koreografi disusun secara otodidak tanpa didampingi pelatih. Melalui penampilan tersebut, tim ingin memperkenalkan kepada peserta internasional bahwa perempuan Palembang bukan sosok yang lemah, melainkan perempuan yang berani dan mampu berjuang.
Menurut Melisa, SIF menjadi pengalaman pertama bagi UIN Raden Fatah Palembang untuk memperkenalkan budaya daerah kepada peserta dari berbagai negara.
“Semoga kedepannya SIF tetap berlanjut dengan acara yang lebih meriah,” pungkasnya. (Fau)
Wartawan : Zahra Mustika
Tari Tanggai Sulu Palembang Angkat Sosok Perempuan Pejuang dalam SIF 2026