Suarakampus.com– Seiba International Festival (SIF) 2026 menjadi ruang pertukaran budaya bagi delegasi Universiti Malaya (UM), Malaysia, yang mengikuti perlombaan di UIN Imam Bonjol Padang. Ajang tersebut mempertemukan peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara melalui penampilan seni serta budaya, Kamis (09/07).
Salah seorang delegasi Universiti Malaya, Ammar Asyakirin mengatakan, kesan positif dirasakan sejak pertama kali tiba di UIN Imam Bonjol Padang. Menurutnya, seluruh peserta disambut dengan baik oleh liaison officer (LO) dan pimpinan kampus.
“Saat sampai kami disambut dengan baik oleh LO dan pimpinan. Terima kasih banyak kepada UIN Imam Bonjol Padang,” ujarnya.
Ammar menjelaskan, timnya mengikuti perlombaan nasyid dengan membawakan lagu Sesungguhnya karya grup nasyid Malaysia Raihan bersama Alif Satar yang dirilis pada 2019.
“Keikutsertaan tahun ini merupakan kali kedua bagi Universiti Malaya setelah sebelumnya juga mengikuti SIF 2025,” jelasnya.
Menurutnya, penyelenggaraan SIF 2026 lebih semarak karena jumlah peserta lebih banyak dibandingkan 2025. Kondisi tersebut juga membuat peserta semakin mudah mengenal keberagaman budaya yang dibawa setiap delegasi.
“Setiap delegasi menampilkan budaya asli daerah, sehingga kami lebih mengenal budaya negara serumpun,” katanya.
Sementara itu, Muhammad Nadzif mengaku terkesan dengan Kota Padang yang dinilai masih menjaga budaya lokal. Ia menilai komitmen masyarakat dalam melestarikan budaya dapat menjadi contoh bagi Malaysia.
“Padang unik. Budaya di sini sangat dijaga dan bisa menjadi contoh bagi Malaysia,” tuturnya.
Nadzif mengatakan, lagu Sesungguhnya yang mereka bawakan mengandung pesan agar setiap manusia menyadari kesalahan dan kembali kepada Sang Pencipta melalui taubat.
“Sebagai manusia kita banyak melakukan kesalahan. Jalan terbaik adalah kembali kepada Sang Pencipta dengan taubat, dan sebaik-baik taubat adalah taubat nasuha,” jelasnya.
Ia juga menilai keterlibatan mahasiswa internasional pada SIF perlu ditingkatkan. Meski demikian, Nadzif memahami adanya berbagai kendala, termasuk persoalan anggaran, sehingga tidak mengurangi kemeriahan acara yang dirasakan peserta.
Selain mengikuti perlombaan, ia mengaku memperoleh pengalaman baru dalam memahami budaya serta norma kesopanan masyarakat Indonesia melalui interaksi dengan delegasi dari berbagai daerah.
“Kami jadi lebih mengenal budaya dan norma kesopanan di Indonesia,” imbuhnya.
Ia berharap SIF 2027 semakin meriah dan mampu melahirkan lebih banyak talenta yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Semoga SIF 2027 mendunia, semakin meriah, dan menjadi wadah lahirnya orang-orang berbakat yang memberi manfaat bagi negara dan masyarakat,” tutup Nadzhif. (Fau)
Wartawan : Zahra Mustika
Delegasi Malaysia Sebut Seiba Jadi Ruang Belajar Budaya Negara Serumpun