WR I Tidak Larang Mahasiswa Gondrong, ‘Asalkan Rapi’

sumber: ist

Suarakampus.com-Mahasiswa berambut gondrong, terutama di kampus Islam, kerap mendapat stigma buruk. Kerapian merupakan cerminan dari karakter yang dijadikan alasan untuk melarang mahasiswa memanjangkan rambutnya.

Yogi, mahasiwa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) memilih jalan berbeda. Ketika mayoritas mahasiswa di UIN Imam Bonjol tampil dengan rambut pendek dan rapi, dia justru memanjangkan rambutnya.

Baginya, memanjangkan rambut saat berkuliah di UIN IB bukanlah hal yang mudah. Selama ini, Yogi sering mendapat perlakuan tidak mengenakan, terutama dari dosen yang tidak suka kepada mahasiswa gondrong.

“Mahasiswa gondrong bisa bebas dari model gaya yang itu-itu saja. Apalagi model mahasiswa UIN yang dikenal orang-orang sebagai mahasiswa yang rapi, pakai celana dasar, dan tidak neko-neko,” kata Yogi kepada suarakampus.com, Selasa (26/10).

Yogi, dan beberapa temannya yang juga berambut gondrong, mengaku bahwa pilihannya bukan karena ingin tampil keren belaka. Ada bentuk kebebasan berekspresi ketika mahasiswa bebas menentukan tampilannya, kata Yogi.

Kendati demikian, Yogi sadar betul bahwa apa yang ia lakukan bukanlah hal yang mudah. Beberapa dosen tetap kukuh melarangnya berambut panjang.

Legitimasi WR I Ihwal Mahasiswa Gondrong

Ketika mayoritas dosen di UIN IB melarang mahasiswa berambut gondrong, Wakil Rektor I Bidang Akademik Yasrul Huda justru sebaliknya. Saat memberikan sambutan di acara pengukuhan anggota baru UKM Musik, Senin (25/10) lalu, Yasrul bilang bahwa dirinya tidak melarang mahasiswa untuk memanjangkan rambut.

Kendati demikian, dosen yang akrab disapa Udo itu menekankan, rambut panjang tidak menjadi persoalan apabila tetap dirapikan. “Saya pribadi tidak melarang mahasiswa berambut panjang, namun juga tidak menganjurkan untuk demikian,” kata Yasrul.

Selama ini, alumnus doktoral Leiden University itu memang dikenal sebagai dosen yang tampil beda. Semasa mengajar di Fakultas Syariah, Yasrul bahkan pernah memanjangkan rambutnya.

“Udo itu dosen yang tampil beda, dengan celana jeans dan sepatu kets, dia tidak seperti dosen UIN kebanyakan,” kata salah seorang mahasiswa Fakultas Syariah, kepada suarakampus.com.

Yasrul mengatakan, rambut gondrong merupakan rule mode yang diberikan oleh Rasulullah Saw. Dalam beberapa riwayat memang dikatakan bahwa Nabi Muhammad berambut panjang. Seperti sebagai berikut: dari Bara’ bin Azib, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat rambut melampaui ujung telinga seorang pun yang lebih bagus dari (rambut) Rasulullah.” Dalam suatu riwayat lain, “Rambut Rasulullah sampai mengenai kedua bahunya.” (Hr. Muslim: 2337)

Moenawar Chalil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Saw Jilid III, menuliskan bahwa rambut Rasulullah lebih lebat dan tidak terlalu panjang (HR Abud Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Aisyah Ra).

“Beberapa riwayat menerangkan bahwa panjang rambut Nabi Saw. sampai ke atas kedua bahunya, atau sampai ke cuping kedua telinganya, kadang-kadang sampai ke pertengahan kedua telinganya dan dibiarkan sampai ke bahunya,” tulis Moenawar Chalil.

Sementara itu, menurut salah seorang dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Neni Efrita, sitgma buruk yang diberikan kepada mahasiswa berambut gondrong adalah keliru. Kata dia, penampilan seseorang tidak bisa digunakan sebagai cerminan karakter.

SK Dirjen Pendis Nomor 255 Tahun 2007 tentang Tata Tertib Mahasiswa PTKI melarang mahasiswa berambut panjang. Kendati demikian, dosen yang akrab disapa Mande itu tidak pernah melarang mahasiswanya berambut gondrong.

“Mande lebih menyukai mahasiswa gondrong tetapi rapi, bersih dan sesuai dengan wajahnya. Apalagi mahasiswa tersebut memiliki pola pikir yang kritis,” kata dia.

Warisan Lapuk Orde Baru

Pelarangan rambut gondrong, yang turut menimbulkan stigma buruk di tengah masyarakat, tidak dapat dipisahkan dari peran rezim Orde Baru. Pada dekade pertama kekuasaan orba, masalah rambut gondrong menjadi salah satu persoalan yang dibasmi pemerintah.

Rambut gondrong dianggap tak mencermikan “kepribadian bangsa”. Militer pun ikut turun tangan dalam urusan ini. Aria Wiratma Yudhistira dalam Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970, menulis bahwa ketika itu, tentara tidak membopong bedil, tetapi gunting. Melakukan razia-razia untuk mencukur orang berambut gondrong. Otoritarianisme, dengan logika rust en orde ala ekonomi pembangunan, melampaui ke batas paling personal dari hak individu untuk menentukan idealisasinya.

Di sisi lain, awal 1970, seperti dicatat Aria, dunia tengah dilanda deman hippies sebagai bentuk perlawanan budaya. Fahri Salam dalam Kutu Subversif dalam Rambut Gondrong, menulis tren fesyen kala itu menemui bentuk baru pada diri musisi-musisi beken seiring terjadinya ketidakpercayaan yang cukup lebar di antara kaum muda dan tua. Menyebar melalui media massa serta film-film, anak muda di kota-kota besar di Indonesia terbawa pengaruh mode macam ini.

“Mereka menyalurkan ekspresi kebebasan dengan membiarkan rambut tumbuh gondrong, celana berpotongan cutbrai, pakaian tampil kedodoran,” tulis Fahri Salam.

Seiring berjalannya orba, kekuasaan mulai merasa risih terhadap hal-hal yang berbau urakan. Misalnya, pada 1971, artis berambut gondrong dilarang tampil di TVRI. Pelan tapi pasti, gejala otoritarianisme ini mulai menjalar ke gedung-gedung pemerintah, sekolah, kampus, serta tempat publik.

Setelah dedengkot orba, bapak daripada Soeharto tumbang pada 1998, stigma buruk terhadap mereka yang berambut gondrong terus melekat dan dirawat dengan baik, bahkan di lingkungan pendidikan tinggi dengan slogan kampus merdeka sekalipun.

Wartawan: Nandito Putra, Muhammad A. Latif dan M. Iqbal

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Mahasiswa Prodi PMI Tunggu Kepastian Mekanisme Perkuliahan

Next Post

Mahasiswa UIN IB Kembali Diminta Terapkan Peraturan Berpakaian

Related Posts
Total
0
Share