Nobar Pesta Babi, Mahasiswa UIN IB Bahas Krisis Lingkungan dan Papua

Dokumentasi Nobar Film Pesta Babi fi Gedung J UIN Imam Bonjol Padang. Sumber : Najwalin Syofura.

Suarakampus.com– Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Imam Bonjol Padang menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di Gedung J, Jumat (15/05). Kegiatan tersebut diikuti oleh sejumlah mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan.

Ketua Umum Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Alpichanameru, Muhammad Hafizzi mengatakan, film dokumenter tersebut memberikan gambaran mengenai dampak kolonialisme terhadap kehidupan masyarakat. “Hal yang lebih menarik adalah bagaimana film ini menampilkan krisis lingkungan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, penerapan ideologi negara oleh pemerintah dinilai belum berjalan sebagaimana mestinya, terutama dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. “Di Pancasila sudah jelas tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” jelasnya.

Ketua Dema-U, Habib Prananda Andy menyampaikan, dirinya pernah mengikuti kegiatan nobar bersama masyarakat dan aliansi mahasiswa Papua. “Saya pernah nonton bersama warga seperti PSI Payu dan juga Aliansi Mahasiswa Papua,” sampainya.

Habib memaparkan pandangannya mengenai kondisi di Papua berubah setelah melihat langsung situasi yang terjadi di lapangan. “Saya kira tentara pergi ke Papua untuk melawan KKB atau OPM, ternyata untuk menjaga proyek,” paparnya.

Ia juga menyinggung program penanaman singkong di Kalimantan yang pernah dijalankan saat Presiden menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan menilai program tersebut tidak berhasil. “Ketika menanam beberapa hektare singkong di Kalimantan itu gagal,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Pergerakan Dema-U, Pinpin Ahmad Utama menyebut ketidaktahuan dapat menimbulkan dampak yang lebih besar daripada kejahatan itu sendiri. “Kebodohan itu membunuh lebih banyak orang daripada kejahatan itu sendiri,” sebutnya.

Pinpin juga mengajak mahasiswa untuk membangun gerakan bersama melalui konsolidasi antarmahasiswa. “Saya mengajak 10 orang, lalu satu dari 10 orang itu mengajak 10 orang lainnya,” tutupnya. (Fau)

Wartawan: Najwalin Syofura

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Semoga Kau Tak Kembali

Related Posts