Mahasiswa Prodi PMI Tunggu Kepastian Mekanisme Perkuliahan

suasana perkuliahan tatap muka (sumber: istockphoto.com)

Suarakampus.com- Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang mengeluhkan tidak semua dosen menerapkan kuliah tatap muka. Seperti yang dialami Mahasiswa Semester III Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI).

Berdasarkan data yang dihimpun, ternyata masih banyak dosen Prodi PMI yang belum bersedia memberlakukan kuliah tatap muka. Hal ini menjadi persoalan bagi mahasiswa yang telah menetap di Padang, karena informasi mekanisme perkuliahan dari dosen dinilai terlambat.

Hal ini dibenarkan Mahasiswa Prodi PMI, Muhammad Iqbal katanya dari 12 mata kuliah hanya satu sudah dipastikan tatap muka. Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa dua mata kuliah lainnya digelar secara daring.

“Sisanya belum ada kepastian lebih lanjut dari masing-masing dosen pengampu,” katanya, Selasa (26/10).

Sambungnya, kebijakan dosen terkait mekanisme perkuliahan belum menemukan titik terang sampai saat ini. Selain itu, katanya sosialisasi dosen untuk perkuliahan masih kurang. “Saya sedikit kecewa akan kebijakan kuliah tatap muka, karena kami sudah memenuhi persyaratan dengan melakukan vaksinasi, surat izin dari orang tua dan sudah menetap di Padang,” ungkapnya.

Ia berharap agar kepastian kuliah tatap muka agar segera disampaikan kepada mahasiswa dan dilakukan secara offline. “Semoga semua mata kuliah dapat dilaksanakan secara offline,” harapnya.

Berbeda dengan Iqbal, Nabila malah memandang kuliah daring lebih optimal, lantaran biaya yang dikeluarkan selama perkuliahan tatap muka tidaklah sedikit. “Saya lebih memilih daring, sebab tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar,” ungkapnya.

Menanggapi persoalan yang tengah dihadapi mahasiswa, Zulbadri selaku Dosen Prodi PMI menjelaskan dirinya tidak bisa kuliah tatap muka sebab terkendala saat vaksinasi Covid-19. “Saat akan divaksin saya sakit. Kemudian, vaksinasi berikutnya saya kebetulan akan pergi, jadi ditakutkan akan menimbulkan efek ketika perjalanan,” paparnya.

Meski begitu, Zulbadri tidak ingin melaksanakan kuliah offline jika mahasiswa tidak mencapai 100 persen. “Saya menanyakan kepada mahasiswa, hampir 50 persen dari mereka belum divaksin,” ungkapnya.

Untuk ke depannya ia berharap supaya pengumuman perkuliahan di semester depan diberi waktu lebih. “Semoga semester depan dosen dan mahasiswa dapat mempersiapkan diri lebih matang,” harapnya.

Sementara itu, Ketua Prodi PMI Nazirman mengatakan, dosen diberi pilihan terkait mekanisme perkuliahan. Kendati demikian, ia juga dilema terhadap mahasiswa yang telah menetap di Padang, sementara sistem perkuliahan belum jelas.

“Kehadiran mahasiswa menjadi dilema dan bukan salah mereka, jadi untuk sementara kita sarankan mahasiswa silahkan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada dan tetap berkomunikasi dengan dosen,” paparnya.

Kata dia, rata-rata Dosen Prodi PMI sudah melakukan vaksinasi dan semestinya memanfaatkan hal ini untuk melaksanakan perkuliahan secara luring. “Sudah ada kisaran 50 sampai 70 persen telah divaksin,” katanya.

Menurutnya, kuliah yang efektif dengan menyertakan kuliah dalam waktu bersamaan. Namun juga didukung dengan fasilitas yang memadai, seperti kamera. “Semisal hanya 25 persen mengadakan tatap muka dan selebihnya kuliah daring secara serentak,” ucapnya.

Ia berharap semua mahasiswa bisa merasakan kuliah tatap muka, karena metode pembelajaran yang efektif jika dilakukan secara langsung. “Kepada mahasiswa saya berharap agar selalu bersabar, dan semangat belajar jangan pernah pudar,” inginnya. (ulf)

Wartawan: Rindang Sabhita Najmi, Arief Fadhilah Putra (Mg), Rais Shiddiq (Mg)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Begini Tanggapan Pelaku Usaha Terkait Rencana Kepindahan Sejumlah Fakultas Ke Kampus III

Next Post

WR I Tidak Larang Mahasiswa Gondrong, ‘Asalkan Rapi’

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty