Guru Besar Fikih Mawaris, Bahas Warih Bajawek Pusako Batolong

Sumber: Live Streaming YouTube UIN Imam Bonjol Padang

Suarakampus.com– Resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang, Elfia sampaikan orasi ilmiah perihal Worldview Orang Minangkabau Membangun Ketahanan Sosial dan Budaya. Hal tersebut disampaikan di Gedung Islamic Center dan Multipurpose, Rabu (04/06).

Elfia mengatakan, ada tiga peristiwa yang membuat ia tertarik mengangkat tema ini.  Pertama, isu kewarisan di Minangkabau menjadi sorotan penting dalam kajian akademik, perubahan cara pandang masyarakat Minangkabau terhadap warisan, terakhir bergesernya paradigma Minangkabau dalam mengelola harta warisan. “Tema ini bukan hanya untuk merawat tradisi, tetapi  pengetahuan lokal dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan,”paparnya.

Warisan dalam tradisi Minangkabau pemindahan harta sering dilakukan melalui praktik jual beli, mengalihkan hak milik kepada pihak lain. “Secara konsep sistem kewarisan Minangkabau berbeda dengan kewarisan faraidh,”ungkapnya. 

Ia menjelaskan, Minangkabau memiliki dua model pewarisan ada di pindahtangankan secara individual, dan warisan yang dipelihara dalam kepemilikan kolektif. “Sedangkan dalam faraidh, warisan bersifat individyal berpindah milik secara personal kepada ahli waris,”jelasnya.

Kemudian, ia menambahkan, dua pewarisan tersebut memiliki perbedaan filosofi, bukan hanya  persoalan klafikasi, namun juga cara pandang makna kepemilikan. “Bukan hanya secara teknis perbedaan tetapi juga aspek ideologis yang mendalam,”katanya.

Bagi orang Minangkabau, regulasi adat berperan penting dalam menjaga aset warisan tetap sebagai kesejahteraan keluarga. “Adat bukan penghalang kemajuan, melankan landasan kokoh bagi pengembangan warisan,”sebutnya. 

Elfia menyebutkan, pemeliharan harta pusaka tinggi bagi orang Minangkabau sejatinya bukan hanya soal menjaga tanah, sawah, atau rumah gadang. “Tetapi memiliki makna filosofis menjaga keberlanjutan kehidupan manusia,”tambahnya.

Konteks Minangkabau menjadikan maqasid institusional, sebagai worldview untuk membangun ketahanan sosial. “Sejatinya, orang Minangkabau kini tengah membangun peradaban sendiri, berakar dan bernilai,”tutupnya. (asr )

Wartawan: Elsa Mayora

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Randai Pulang Ka Bako Guncang Panggung Festival TGL 3

Next Post

Rektor Sebut Pengukuhan Sepuluh Guru Besar sebagai Sejarah Besar

Related Posts