Suarakampus.com– Pelaksanaan lomba debat dalam Pekan Kreativitas Mahasiswa Fakultas Syariah (PKM-FS) menuai kritik dari peserta karena dianggap tidak adil dan kurang transparan. Kritik tersebut disampaikan dua peserta yaitu Rani dan Roy, Sabtu (15/06).
Peraih juara tiga, Rani menyayangkan, hadiah yang dijanjikan tak kunjung diterima dan hanya mendapatkan sertifikat. “Sertifikat itu pun belum diserahkan,” ujarnya.
Mahasiswi itu mengaku telah menyiapkan materi dengan maksimal dan penuh pengorbanan secara mandiri. “Bahkan belajar dan begadang hingga subuh dalam menyiapkannya,” tambahnya.
Peserta tersebut menilai panitia tidak profesional karena membuat keputusan sepihak tanpa pemberitahuan sebelumnya. “Hal tersebut jelas sebuah bentuk ketidakadilan,” tegasnya.
Rani juga mengeluhkan, pelaksanaan lomba tidak sesuai dengan pamflet yang telah disebarkan sebelumnya. “Ini pengalaman lomba resmi pertama saya, tapi justru mengecewakan,” katanya.
Peserta dari cabang debat konstitusi, Roy Hidayat, memprotes alasan panitia yang menyatakan jumlah peserta tidak mencukupi. “Aturan tidak boleh berlaku surutsurut karena Ini melanggar asas dasar hukum,” ucapnya.
Ia juga menyoroti absennya bentuk penghargaan formal kepada peraih juara tiga dalam acara tersebut. “Tak ada tempat khusus untuk apresiasi, Itu merendahkan usaha peserta,” katanya.
Mahasiswa tersebut berharap ke depan panitia lebih kompeten dan menjunjung transparansi dalam sistem perlombaan. “Transparansi dan keadilan harus dijunjung tinggi,” jelasnya.
Baik Rani maupun Roy sepakat, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga untuk pelaksanaan lomba di masa mendatang. “Transparansi harus menjadi prinsip utama demi lomba yang lebih adil dan bermartabat,” tutup keduanya. (ver)
Wartawan: Zahra Mustika (Mg), Faiza Septiani Putri (Mg)
Berita ini telah diterbitkan pada tanggal 15 Juni 2025 pukul 13.04 dan diedit kembali oleh redaktur pada tanggal 15 Juni 2025 pukul 23. 17 karena adanya kesalahan informasi.