Gen Z Butuh Ruang Visual, Dosen ICT TBI Tawarkan Strategi Baru

Dosen Tadris Bahasa Inggris, Chanti Diananseri, saat memaparkan materi “Teaching Gen Z & Alpha” dalam kegiatan Teaching Media and Materials Exhibition di UIN Imam Bonjol Padang, Kamis (3/7/2025). Foto: Dokumentasi Rona Seroja

Suarakampus.com– Pendekatan pembelajaran konvensional dinilai tidak lagi mampu menjangkau karakter Gen Z yang cenderung cair, cepat, dan visual. Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Mata Kuliah ICT Media on English Language Teaching, Chanti Diananseri dalam kegiatan Teaching Media and Materials Exhibition di UIN Imam Bonjol Padang, Kamis (03/07).

Chanti menegaskan, sistem lama sudah tidak relevan bagi pelajar masa kini. “Pengajar harus mampu menyajikan materi yang selaras dengan realitas keseharian siswa,” tegasnya dalam diskusi How to Teach Gen Z.

Dosen tersebut menyebut, pola penyampaian materi secara umum tidak lagi efektif digunakan. “Pembelajaran kini dituntut menyentuh sisi personal siswa,” ujarnya.

Chanti menjelaskan, referensi budaya populer dan konten digital bisa menjadi jembatan pembelajaran. “Itu cara paling dekat untuk menjangkau pemahaman emosional siswa,” katanya.

Ia menolak sistem pengajaran yang seragam dan mengabaikan identitas siswa. “Fleksibilitas dan empati sangat penting dalam pengajaran,” tuturnya.

Dosen itu menyampaikan, siswa tidak cukup dipahami dari sisi akademik semata. “Pemahaman harus menyentuh aspek emosional mereka,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi psikologis siswa harus menjadi perhatian utama pendidik. “Tekanan media sosial menjadi pemicu utama kecemasan pelajar,” ungkapnya.

Menurutnya, banyak siswa merasa tidak cukup baik karena standar-standar di media sosial. “Ini bukti bahwa sistem pendidikan kita belum memberi ruang aman,” katanya.

Dalam menanggapi persoalan tersebut, Chanti mengembangkan tugas berbasis ekspresi visual. “Siswa lebih nyaman mengekspresikan diri lewat gambar daripada tulisan panjang,” jelasnya.

Ia turut mendukung penggunaan platform digital sebagai strategi pengajaran. “Fitur seperti stitch di TikTok dan Reels Instagram dapat menjadi alat diskusi kelas,” ucapnya.

Chanti menolak pandangan yang menyebut media sosial sebagai pengganggu proses belajar. “Media sosial bukan musuh, tapi alat engagement,” tegasnya.

Ia menyatakan bahwa pembelajaran abad ke-21 harus mendorong kolaborasi dan berpikir kritis. “Siswa perlu dilatih untuk menanggapi, mengkritisi, dan mengembangkan gagasan,” ujarnya.

Sebagai penutup, Chanti mengajak para pendidik lebih peka terhadap batin peserta didik. “Slogan Is it okay to be anxious? Yes, it’s okay mengajarkan siswa untuk mengenali diri dan bertumbuh,” tutupnya. (ver)

Wartawan: Zahra Mustika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Teaching Media Jadi Sorotan, Mahasiswa Didorong Kuasai Literasi Global

Next Post

Bisikan Reformasi Tidak Boleh Padam: Diskusi Publik Desak Evaluasi Serius Kepolisian

Related Posts