Suarakampus.com- Mahasiswi Program Studi Hukum Keluarga, Fakultas Syariah, Dinda Sofia, menjadi salah satu sosok inspiratif Bintang Aktivis Kampus 2025. Ia dikenal aktif di berbagai organisasi, hal ini menunjukkan bahwa berorganisasi bukan hanya tentang prestise, melainkan juga tentang proses, makna, dan dampak bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Rabu, (29/10).
“Saya mulai aktif berorganisasi sejak 2023 karena dari dulu memang suka kumpul dengan teman-teman. Jadi, agar lebih produktif, saya ikut organisasi, pertama kali di HMP HK,” ujar Dinda.
Ia mengaku kecintaannya terhadap organisasi muncul dari rasa ingin bertukar pikiran, berdiskusi, dan bertemu banyak orang. “Dari situ saya merasa nyaman dan menemukan tempat saya di dunia organisasi,” katanya.
Berbagai organisasi pernah ia ikuti, mulai dari Himpunan Mahasiswa Program Hukum Keluarga (HMP HK), DEMA Fakultas Syariah, hingga organisasi daerah IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Tak hanya di lingkup kampus, Dinda juga terlibat dalam kegiatan sosial dan kerelawanan. “Saya juga ikut volunteer di Lazismu Sumatera Barat dan Pencerah Desa Indonesia. Dari situ saya belajar banyak tentang empati dan kontribusi nyata,” tuturnya.
Meski aktif di berbagai kegiatan, Dinda tidak menutup mata terhadap tantangan membagi waktu antara akademik dan organisasi yang baginya sama-sama penting. “Jadi saya belajar membuat to-do list setiap hari supaya bisa seimbang,” jelasnya.
Dinda juga menilai setiap organisasi memiliki nilai tersendiri. “Kalau di HMP HK, saya belajar tentang bagaimana sistem kerja organisasi yang terstruktur. Sedangkan di DEMA, saya belajar tentang kebersamaan dan pentingnya membangun jaringan dengan banyak pihak,” katanya lagi.
Soal penghargaan Bintang Aktivis Kampus, Dinda menyebut bahwa pencapaian itu bukan tujuan akhir. Ia sudah memasukkan penghargaan ini ke dalam daftar keinginan sejak dulu, tapi bukan itu tujuan utama. “Tujuan saya lebih kepada bagaimana saya bisa berdampak bagi diri sendiri dan menikmati prosesnya,” ungkapnya.
Menutup wawancara, Dinda menyampaikan pesan untuk mahasiswa lainnya agar tidak semata mengejar gelar aktivis kampus, tetapi lebih menikmati proses berorganisasi. “Kalau kita menikmati dan merasa mampu, daftar saja. Yang penting adalah makna dan dampaknya,” pungkasnya. (asr)
Wartawan: Siti Ulami