Oleh : Lina Indriani
(Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam)
Saat libur semester tiba, orang-orang pergi. Ada yang ke pantai, ada yang ke gunung, ada yang pulang membawa koper dan cerita. Aku tetap di rumah. Rumah nenek. Rumah yang tidak pernah benar-benar libur.
Pagi dimulai dengan suara batuk nenek dari kamar. Siang diisi dengan urusan makan, minum, dan obat-obatan yang tidak boleh terlupa. Sore sering berisi kecemasan kecil: apakah adikku sudah pulang, apakah tugas sekolahnya selesai, apakah emosinya hari ini stabil. Ia kelas dua SMA—tidak lagi kecil, tapi juga belum sepenuhnya matang untuk dibiarkan sendiri.
Aku mengurus rumah.
Aku mengurus nenek.
Aku mengurus adikku.
Dan diam-diam, aku juga berusaha mengurus diriku sendiri.
Yang paling melelahkan bukan pekerjaan fisik. Badan masih sanggup. Yang menguras tenaga adalah pikiran. Hampir tidak ada waktu yang benar-benar utuh untuk diriku sendiri. Tidak ada jam pasti. Tidak ada hasil yang langsung terlihat. Tidak ada tanda-tanda produktivitas yang bisa dipamerkan.
Ketika nenek memanggil minta makan, aku berhenti membaca. Ketika ia minta diambilkan obat, aku menutup catatan.Ketika ia perlu dibimbing ke kamar mandi, rencana belajarku runtuh begitu saja.
Aku tahu semua ini penting. Aku tahu ini bernilai. Tapi lelah mental muncul karena tidak ada bentuk hasil yang bisa dilihat mata. Yang kukerjakan terasa tidak “menghasilkan”, tidak memberi bukti bahwa aku sedang bergerak maju, meski sebenarnya aku tidak pernah benar-benar diam.
Tekanan datang dari luar, pelan tapi konsisten. Ada yang bertanya aku semester berapa, lalu mengangguk singkat sambil berkata, “Oh, masih lama lulusnya.” Kalimat itu sering disusul dengan pernyataan lain: “Berarti orang tuamu masih lama membiayaimu.” Seakan kuliah adalah beban, bukan ikhtiar.
Lapangan pekerjaan memang semakin sempit hari ini, terlebih di jurusan pendidikan. Kesempatan terbatas dan persaingan ketat. Di tempatku tinggal, banyak orang tamat SMA lalu langsung bekerja. Hasilnya cepat terlihat: ada gaji, ada pemasukan, ada bukti yang bisa ditunjukkan. Sementara orang yang sedang sekolah atau belajar tampak hanya menghabiskan uang—setidaknya begitu yang terlihat di mata mereka.
Namun bagiku, pendidikan bukan pemborosan. Ia adalah investasi jangka panjang. Hasilnya memang tidak langsung tampak, tetapi bekerja pelan-pelan: membentuk cara berpikir, memperluas sudut pandang, dan menyiapkan seseorang untuk bertahan lebih lama di kehidupan yang tidak selalu ramah.
Aku sering mendengar anggapan bahwa kuliah adalah kesalahan, bahkan penipuan. Tapi aku juga melihat banyak orang yang berhasil karena pendidikan. Ada yang gagal, tentu saja, tetapi kegagalan bukan bukti bahwa belajar itu sia-sia. Dunia kerja memang keras, tapi mematahkan niat orang yang sedang berproses bukanlah solusi.
Bagiku, pendidikan adalah fondasi. Terutama bagi perempuan. Menyekolahkan satu perempuan berarti menyiapkan satu generasi. Entah ia kelak bekerja di luar atau memilih menjadi ibu rumah tangga, ilmunya akan tinggal. Cara berpikirnya akan membentuk rumah, anak-anak, dan nilai-nilai yang ia wariskan.
Aku kuliah bukan untuk terlihat sibuk. Aku kuliah untuk tumbuh. Aku belajar sungguh-sungguh di kelas, bertanya, aktif, mengikuti organisasi, membangun relasi, dan menyiapkan masa depan. Bukan satu jalan lurus, tetapi banyak cabang yang semuanya menuntut kesiapan.
Orang yang bekerja sering hanya memikirkan satu arah: hari ini. Mahasiswa harus memikirkan hari ini, esok, dan bertahun-tahun ke depan—bersamaan. Kami bukan diam. Kami berproses. Dan proses itu berat, terlebih jika dijalani dengan minim dukungan.
Libur semester ini tidak memberiku foto liburan. Tidak ada perjalanan jauh. Tapi ia memberiku pemahaman yang jujur: bahwa kerja paling melelahkan sering kali adalah kerja yang tidak terlihat, dan mimpi paling keras kepala adalah mimpi yang tetap hidup meski terus diragukan