Warna dalam Cermin

Ilustrasi seorang perempuan bercermin sambil memperhatikan penampilannya. Sumber : Najwalin Syofura.

Oleh : Najwalin syofura
(Mahasiswi Fakultas Adab dan Humaniora)

Rania duduk menyilang kaki di lantai kamar, mata tetap menatap wajahnya di cermin yang ada di atas meja rias. Bibirnya menekuk ke bawah, mengamati setiap lekukan dan noda yang ada di wajahnya.

“Apa lagi yang kamu lihat di situ?” Tanya Maya, temannya yang baru saja masuk ke kamar membawa dua gelas teh hangat.

Rania menghela napas panjang. “Cuma… cacat-cacat kecil yang kayak aja jadi besar banget diliat dari dekat.”

Maya menjemur teh di atas meja dan duduk bersebelahan dengannya. “Cacat? Kalau menurutku, itu yang bikin kamu unik lho. Misalnya bekas luka kecil di dahimu itu—kan karena kamu mau melindungi adikmu waktu kecil?”

Rania menyentuh bagian dahi yang dimaksud, ingatan lama menyambarnya. “Ya, tapi sekarang kayak aja jadi sesuatu yang bikin aku minder setiap kali ada orang baru melihatku.”

“Salah besar kamu!” Maya mengambil cermin dan memutarnya sehingga menghadap dirinya sendiri. “Lihat aku. Gigi depan ku sedikit miring, dan aku pernah sangat benci padanya. Tapi tahu nggak? Kemarin ada teman baru yang bilang gigi ku itu bikin senyum ku terlihat lebih hangat dan asli.”

Rania mengangkat pandangan, mata sedikit berkaca-kaca. “Benarkah?”

“Betul sekali!” Maya memberikan cermin kembali padanya. “Coba kamu lihat dirimu dari sudut pandang aku. Kamu punya mata yang kaya bisa baca hati orang, tangan yang lihai bikin kerajinan cantik, dan hati yang selalu mau membantu orang lain.”

Rania mulai memperhatikan wajahnya dengan lebih hati-hati. Sejak kapan dia hanya fokus pada hal-hal yang dia anggap kurang sempurna? Dia mengingat waktu ketika dia berhasil membuat kalung dari manik-manik yang jadi hadiah ultah untuk ibunya, dan wajah ibunya yang penuh kebanggaan. Atau ketika dia membantu teman sekelas menyelesaikan tugas proyek, dan mereka semua memberi dia pujian karena ide kreatifnya.

“Kamu tahu apa, Maya?” Kata Rania perlahan, senyum mulai muncul di bibirnya. “Kau benar. Aku terlalu lama melihat diri dari sisi yang salah.”

“Nah itu dong!” Maya bersorak kecil. “Mencintai diri sendiri bukan berarti berpikir kalau kita sempurna. Tapi menerima semua bagian dari diri kita—baik yang baik maupun yang kurang baik—dan menghargainya karena itu yang membuat kita jadi diri kita sendiri.”

Rania berdiri dan berdiri tegak di depan cermin. Kali ini dia tidak melihat kekurangan, melainkan melihat seorang wanita yang kuat, baik hati, dan penuh dengan keunikan yang berharga. Dia menyentuh pipinya dengan lembut, seperti sedang menyapa diri sendiri yang baru dikenali.

“Terima kasih, Maya. Aku merasa lebih baik sekarang.”

“Sama-sama, teman. Dan ingat ya—setiap hari kamu bisa belajar mencintai diri sendiri lebih banyak lagi” ucapnya sambil memegang bahuku sebelah kiri sembari tersenyum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Kamar Kosong

Next Post

Negara Kenyang, Otak Puasa

Related Posts