Oleh: Verlandi Putra
(Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris UIN IB Padang)
Malam itu, kota berubah menjadi percikan cahaya yang redup. Andreas berjalan sendiri di trotoar yang basah, sepatu kulitnya menghentak aspal satu per satu -tak, tak, tak- seperti detik jarum jam yang menghitung waktu yang tak pernah kembali. Ia menunduk, membiarkan bayangan tubuhnya memanjang di bawah lampu-lampu jalan yang masih menyala.
“Selamat malam, solo,” bisiknya pada diri sendiri, suara yang hanya ia dengar di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Barangkali lampu-lampu ini masih menyala buatku, pikirnya. Sebuah penghiburan yang konyol, ia tahu. Tapi malam ini, ia butuh penghiburan macam apa pun.
Di seberang jalan, seorang perempuan tua bernama Ibu Mariam duduk di depan warung kopi tuanya. Wajahnya keriput seperti peta perjalanan hidup yang panjang. Ia menatap Andreas dengan tatapan yang sulit ditafsirkan entah iba, entah curiga. Mariam sudah puluhan tahun menjaga warung itu, menyaksikan ribuan orang lewat, termasuk Andreas yang dulu masih bocah, yang sering mencuri pandang ke dalam gereja di ujung jalan.
Andreas hampir tidak mengenali dirinya sendiri dalam pantulan kaca toko yang ia lewati. Gambar-gambar yang kabur dalam cahaya neon, apakah itu wajahnya? Ia menengadah, menarik napas panjang. Udara malam terasa dingin di paru-parunya, seperti menusuk.
Ia sendiri saja, bisiknya lagi, sahut-menyahut dengan malam.
Dalam kepalanya, ia membayangkan sebuah kapal di tengah lautan luas, memberontak terhadap kesunyian. Ombak menerjang, angin meraung, tapi kapal itu tetap melaju, entah ke mana. Seperti dirinya malam ini. Berjalan tanpa tujuan yang jelas, hanya ke barat, selalu ke barat.
Di sudut jalan, sekelompok pemuda bergerombol di depan sebuah bar. Tawa mereka pecah keras, menusuk sunyi malam. Beberapa membawa perempuan di pinggang mereka. Satu-dua orang menyindir diri sendiri dengan lelucon yang getir. Kadang memang tak ada lelucon lain, pikir Andreas. Sunyi adalah minuman keras.
Salah satu dari mereka adalah Rudi, teman lama Andreas dari masa sekolah. Rudi yang dulu selalu ceria, kini matanya sayu, tangannya gemetar saat memegang gelas bir. Ia tertawa, tapi tawanya kosong, seperti ruangan yang ditinggalkan penghuninya.
“Dre!” teriak Rudi, melambaikan tangan.
Andreas hanya mengangguk, tidak berhenti. Ia tidak ingin terseret ke dalam kehangatan palsu alkohol malam ini. Ia punya pertanyaan lain yang harus ia jawab sendiri.
Barangkali sejuta mata itu memandang ke arahku, pikirnya. Mata-mata dari jendela apartemen, dari mobil yang lewat, dari langit yang gelap. Semua mengawasinya. Atau tidak ada yang peduli sama sekali?
Ia terus berjalan ke barat, merapat ke masa lampau, seperti sungai yang mengalir kembali ke hulunya.
Gereja tua itu masih berdiri megah di persimpangan jalan, menara loncengnya menjulang ke langit. Cahaya lilin di dalamnya tampak lembut dari luar, seperti harapan yang tipis.
“Selamat malam, gereja,” bisik Andreas. “Hei, kaukah anak kecil yang dahulu duduk menangis di depan pintumu itu?”
Ia ingat. Natal tahun 1989. Teman-temannya masuk dengan pakaian serba baru, bernyanyi dengan riang. Suara mereka merdu, penuh sukacita. Ia, Andreas kecil, duduk di luar pintu, mendengarkan dari kejauhan. Ayahnya, Pak Harto, pria keras kepala yang lebih percaya pada cangkul daripada salib, melarangnya masuk.
“Yesus itu anak jadah,” kata ayahnya waktu itu, ludah menyembur dari mulutnya yang selalu berbau tembakau.
Andreas kecil menangis. Ia ingin sekali bertemu Yesus, ingin tahu seperti apa wajah orang yang bisa membuat begitu banyak orang bahagia. Tapi pintu itu tertutup baginya.
Ia tak pernah tahu apakah ia pernah sungguh-sungguh mencintai ayahnya.
Kini, berdiri di depan gereja yang sama tiga puluh tahun kemudian, Andreas merasa seperti waktu berjalan melingkar. Barangkali malam ini Yesus mencariku, pikirnya. Tapi ia belum pernah berjanji kepada siapa pun untuk menemui atau ditemui. Ia benci kepada setiap kepercayaan yang dipermainkan, setiap janji yang diingkari.
Di dalam gereja, Suster Maria, seorang biarawati tua yang sudah mengabdi lima puluh tahun, sedang merapikan altar. Ia tidak tahu ada seorang pria di luar sana, berdiri dalam bayangan, bertarung dengan hantu masa lalunya.
Andreas berjalan lagi, melewati kerumunan orang. Suara anak kecil berdoa terdengar sayup dari rumah di pojok gang. Ia berhenti sejenak. Ia tak pernah diajar berdoa.
Suatu waktu, ia ingin meloloskan dirinya ke dalam doa, seperti pelarian, seperti pengampunan. Tapi ia tak pernah mengetahui awal dan akhir sebuah doa. Bagaimana memulainya? Dengan apa mengakhirinya?
Barangkali seluruh hidupku adalah sebuah doa yang panjang, katanya pada diri sendiri.
Jawaban itu membuatnya sedikit tenteram. Ya, mungkin begitu. Hidupnya, dengan segala kesalahan, keraguan, dan pencarian tanpa akhir-adalah doa yang panjang. Doa yang tak pernah selesai diucapkan.
Pagi tadi, ia bertemu seseorang di pasar. Siapa ya namanya? Ia sudah lupa. Wajahnya juga kabur. Orang itu berkata sesuatu tentang berdoa sambil berjalan. Andreas ingin berdoa malam ini, tapi tak bisa menemukan kata penghabisan. Doanya seperti kalimat tanpa titik.
Ia selalu merasa sakit dan malu setiap kali berpikir tentang dosa. Kata itu terlalu berat, terlalu menghakimi. Ia selalu merasa akan pingsan kalau berpikir tentang mati dan hidup abadi. Konsep-konsep besar yang membuat kepalanya pusing.
Barangkali Tuhan seperti kepala sekolah, pikirnya, teringat masa kecilnya. Kepala sekolah yang galak, yang mengeluarkan dan menghukum murid nakal, membiarkan mereka bergelandangan, dimakan iblis jalanan.
Barangkali Tuhan sedang mengawasi aku dengan curiga, pikirnya malam ini. Mengawasi seorang yang selalu gagal berdoa, yang selalu meragukan, yang selalu berjalan tanpa tahu ke mana.
Seorang perempuan berpapasan dengannya. Wajahnya cantik, seperti setangkai bunga yang mekar di malam hari. Andreas bertanya dalam hati: Apakah ia juga pernah berdosa? Apakah ia juga pernah bertemu Yesus? Atau barangkali pernah juga dikeluarkan dari sekolahnya dulu?
Perempuan itu, namanya Lisa, seorang guru yang baru saja putus dengan kekasihnya. Tidak tahu ada pria yang memandanginya dengan tatapan penuh pertanyaan. Ia hanya berjalan cepat, ingin segera sampai rumah, jauh dari dingin malam.
Andreas mendongak. “Selamat malam, langit. Apa kabar selama ini?”
Bintang-bintang berkedip. Barangkali mereka masih berkedip buatku, pikirnya, mencoba menghibur diri lagi.
Ia pernah membenci langit. Dahulu, saat perang, ketika pesawat-pesawat seperti burung buas menukik dari awan, menjatuhkan bom. Ledakan-ledakan yang memekakkan telinga. Saat itu pula ia mendengar ibunya berdoa, suara gemetar yang menyebut namanya di antara doa-doa untuk perlindungan.
Kadang ia ingin terbang ke langit, kadang ia ingin mengembara saja ke tanah-tanah yang jauh. Pada saat-saat dingin seperti ini, ia ingin lekas kawin, membangun tempat tinggal, punya kehangatan yang nyata. Tapi ia seperti si pandir menghadapi angka-angka tak pernah menemukan kuncinya.
Pada suatu saat, seorang gadis adalah bunga. Tapi di lain saat, ia menjelma sejumlah angka yang sulit dipecahkan. Persamaan yang tak pernah balance. Ah, ia tak berani berkhayal tentang biara.
Ia takut membayangkan dirinya sendiri. Takut melihat siapa yang sebenarnya ia lihat di cermin. Ia ingin lolos dari lampu-lampu dan suara-suara malam hari, dari kenyataan yang menghimpit. Tapi justru di tengah pelarian itu, ia menyaksikan: berjuta orang sedang berdoa. Para pengungsi yang bergerak ke kerajaan Tuhan. Orang-orang sakit di rumah sakit, orang-orang penjara di balik jeruji, dan barisan panjang orang gila yang tersesat di jalanan.
Semua mencari sesuatu. Semua melarikan diri. Atau mengejar.
Lonceng kota berguncang, dang, dang, dang, rekaman senandung duka nestapa yang sama, malam demi malam.
Tiba-tiba, seorang perempuan muncul di depannya. Wajahnya pucat, matanya cekung. Ia tertawa seperti suara yang ngeri, seperti kaca pecah. Ia menawarkan sesuatu. Andreas tak mau tahu apa.
Ia menolaknya. Cepat. Refleks.
Ia tak tahu kenapa mesti menolaknya.
Barangkali karena wajah perempuan itu mengingatkannya kepada sebuah selokan, penuh dengan cacing. Barangkali karena mulutnya menyerupai penyakit lepra. Barangkali karena matanya seperti gula-gula yang dikerumuni beratus semut.
Dan ia telah menolaknya. Ia bersyukur untuk itu, entah kepada siapa.
Kepada siapa gerangan Tuhan berpihak? gerutunya.
Ia terus berjalan, menyaksikan orang-orang lewat. Sendiri, atau membawa perempuan, atau bergerombol. Wajah-wajah yang belum ia kenal dan sudah ia kenal. Wajah-wajah yang ia lupakan dan ia ingat sepanjang zaman. Wajah-wajah yang ia cinta dan ia kutuk.
Ibu Mariam dari warung kopi. Rudi si pemabuk. Suster Maria yang setia. Lisa si guru patah hati. Perempuan mengerikan di sudut jalan. Dan ribuan lainnya yang tak pernah ia tahu namanya.
Semua sama saja.
Barangkali mereka mengangguk padaku, pikirnya. Barangkali mereka melambaikan tangan padaku setelah lama berpisah, atau setelah terlampau sering bertemu.
Ia berjalan terus ke barat. Ke arah matahari terbenam. Ke arah masa lalu yang tak pernah benar-benar berlalu.
“Selamat malam,” ucapnya lagi. Entah kepada siapa. Barangkali kepada dirinya sendiri.
Barangkali hidup adalah doa yang panjang. Dan sunyi adalah minuman keras.
Ia merasa Tuhan sedang memandangnya dengan curiga. Atau barangkali Tuhan sedang tersenyum simpul, menyaksikan anak-Nya yang tersesat ini berjalan dengan teguh, meski tanpa peta.
Andreas bergegas. Langkahnya lebih cepat.
Barangkali hidup adalah doa yang…
Barangkali sunyi adalah…
Kalimat-kalimat itu tak pernah selesai. Seperti doanya. Seperti perjalanannya. Seperti hidupnya.
Dan di atas sana, bintang-bintang terus berkedip. Lampu-lampu kota terus menyala. Lonceng terus berdentang.
Sementara Andreas terus berjalan ke barat, membawa seluruh pertanyaannya yang tak terjawab, seluruh doanya yang tak selesai, seluruh hidupnya yang adalah doa itu sendiri—panjang, berliku, dan tanpa kata penghabisan.
Malam menerimanya. Seperti selalu.