Jejak Kaki Di Jalan Sunyi

Ilustrasi menampilkan jejak kaki di jalan sunyi yang membelah hamparan hijau menuju kota, melambangkan perjalanan Laila dalam luka, kesepian, dan pilihan untuk tetap bertahan. Sumber : Najwalin Syofura.

Oleh : Sofia Aulia Purnama
(Mahasiswa Komunikasi Penyiaran
Islam)

Namanya Laila.

Seorang anak yang terlahir dari keluarga yang tampak biasa saja. Tidak kaya, tidak miskin sekali. Cukup sederhana. Cukup untuk hidup. Laila adalah anak terakhir dari empat bersaudara: dua kakak laki-laki dan satu kakak perempuan. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang manis, penurut, dan sangat dekat dengan ayahnya.

Di mata Laila kecil, ayah adalah dunianya. Tempatnya bercerita. Tempatnya berlindung. Tempatnya merasa aman.

Suatu hari, saat usianya masih enam tahun, ayah mengajaknya pergi ke sebuah tempat. Laila mengira itu perjalanan menyenangkan. Seperti liburan kecil. Ia ingat betul bagaimana tangannya digenggam erat, bagaimana ia merasa begitu disayangi.

Namun bertahun-tahun kemudian, ketika ia tumbuh dewasa, Laila baru sadar: sejak perjalanan itu, hidup mereka tidak pernah benar-benar sama lagi.

Awalnya ia tak mengerti apa pun. Ia masih terlalu kecil untuk memahami perubahan. Tapi setelah mereka pulang, ayah dan ibu mulai sering bertengkar. Bukan sekali dua kali. Suara keras. Nada marah. Tangis yang disembunyikan. Malam-malam yang panjang dan menakutkan.

Orang-orang mungkin mengira Laila tidak sadar karena ia masih kecil.

Padahal ia tahu.

Ia mendengar semuanya dari balik selimut. Ia menyimpan semuanya dalam diam. Setiap suara tinggi, setiap pintu dibanting, setiap isak tangis ibu, semuanya menumpuk pelan-pelan di dalam pikirannya.

Dan dari situlah, luka itu mulai tumbuh.

Waktu terus berjalan.

Saat Laila duduk di kelas dua SD, hidupnya dipenuhi rutinitas yang melelahkan. Setiap pagi ia berjalan kaki sejauh empat kilometer menuju sekolah. Jalan tanah, semak liar, debu, panas. Pagi berangkat, sore baru pulang.

Tubuhnya lelah.

Tapi bukan hanya tubuhnya.

Di sekolah, Laila juga tidak benar-benar merasa aman. Ia tidak dipukul, tidak disakiti secara fisik. Tapi kata-kata lebih tajam dari apa pun. Hinaan, ejekan, tawa yang merendahkan. Bullying yang pelan tapi konsisten. Setiap hari.

Ia memilih diam.

Karena sejak kecil, ia sudah terbiasa belajar satu hal: diam adalah cara paling aman untuk bertahan.

Di rumah pun, keadaan tak jauh berbeda. Pertengkaran masih sering terjadi. Suasana sering tegang. Kadang ibunya menangis diam-diam. Kadang memeluk Laila lebih lama dari biasanya, seolah ingin mengatakan sesuatu tanpa kata.

Suatu malam, pertengkaran itu jauh lebih parah dari biasanya.

Suara ayah menggelegar. Tangis ibu pecah. Udara rumah terasa seperti pecah berkeping-keping.

Malam itu, ibunya pergi.

Sehari. Dua hari. Beberapa hari.

Beruntungnya, malam itu Laila tidak sendirian. Kakak perempuannya menemaninya. Mereka duduk berdekatan dalam diam, dengan rasa takut yang sama, dengan trauma yang sama. Untuk pertama kalinya, Laila sadar: kakaknya merasakan apa yang ia rasakan.

Beberapa hari kemudian, ibu kembali. Dan seperti biasa, kehidupan berjalan seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.

Tapi Laila tahu.

Ia sering melihat ibunya menangis diam-diam. Wajahnya semakin kurus. Matanya semakin lelah. Pelukannya pada Laila semakin sering, semakin erat.

Tak ada yang benar-benar menjelaskan apa pun pada Laila. Semua menganggap ia masih kecil. Tidak tahu apa-apa.

Padahal ia paham.

Pelan-pelan, ia juga mulai mengerti bahwa ayahnya memiliki gangguan. Kadang ayahnya menjadi seperti orang lain. Kadang tatapannya kosong. Kadang suaranya keras tanpa sebab. Orang-orang menyebutnya “kena mental”.

Sejak saat itu, Laila hidup dengan dua ketakutan: takut pada rumah, dan takut pada pikirannya sendiri.

Ketika SMP, Laila masuk sekolah berasrama. Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti menghirup udara baru. Jauh dari rumah. Jauh dari pertengkaran. Jauh dari ketegangan.

Di sekolah, ia dikenal sebagai anak yang ceria. Murah senyum. Mudah tertawa. Sering membuat orang lain ikut tertawa.

Tapi semua itu hanya topeng.

Siang hari, ia memainkan peran sebagai Laila yang ceria. Malam hari, ia menangis sendirian.

Tak ada yang tahu betapa lelahnya ia berpura-pura baik-baik saja.

Suatu malam, kakak keduanya datang menjemputnya ke asrama.

Itu aneh. Tidak biasa.

Laila kaget, tapi tetap tenang. Tidak banyak bertanya. Ia naik motor bersama kakaknya. Sepanjang perjalanan, ia terlihat santai. Bahkan sempat bercanda.

Padahal di dalam dadanya, kegelisahan sudah memenuhi setiap sudut.

Dan benar saja.

Sesampainya di rumah, bukan sapaan hangat yang menyambutnya. Melainkan tatapan tajam. Suara marah. Pertanyaan keras: kenapa kamu pulang?

Laila tahu.

Penyakit ayahnya kambuh lagi.

Biasanya, setiap ayahnya kambuh, kakak pertamanya yang akan mengurus semuanya. Laila tidak pernah diberi tahu, karena mereka takut itu mengganggu sekolahnya.

Tapi malam itu, semuanya berubah.

Ia mendengar percakapan pelan dari dalam rumah. Suara ibu. Suara kakak perempuannya.

Dan dari sanalah, kenyataan itu menghantamnya tanpa ampun.

Kakak pertamanya juga mengalami gangguan yang sama seperti ayah.

Dunia Laila runtuh.

Selama ini ia selalu berpikir, cukup satu orang saja yang sakit. Cukup ayah saja. Tapi ternyata luka itu menjalar. Seolah penyakit itu keturunan. Seolah takdir itu mengalir di darah mereka.

Ketakutan Laila bertambah. Trauma lamanya hidup kembali.

Namun ia tetap diam.

Bukan karena ia tidak peduli. Tapi karena ia sedang menjaga kewarasannya sendiri.

Ia melihat ibunya semakin hari semakin kurus. Semakin lelah. Semakin rapuh. Tanpa ibunya bercerita pun, Laila tahu betapa besar penderitaan yang ditanggung perempuan itu.

Tidak ada yang benar-benar kuat di rumah itu. Semua hanya sama-sama belajar bertahan.

Sejak malam itu, Laila berubah. Bukan di luar. Tapi di dalam.

Ia mulai sering bertanya pada dirinya sendiri: apakah suatu hari ia juga akan mengalami hal yang sama?

Pertanyaan itu menghantuinya.

Namun bersamaan dengan rasa takut, tumbuh pula sesuatu yang lain: tekad.

Tekad untuk tidak menyerah. Tekad untuk tetap waras. Tekad untuk tetap hidup.

Laila kembali ke asrama dengan membawa luka yang lebih berat. Tapi juga dengan kesadaran baru: ia tidak bisa terus hidup hanya dengan bertahan.


Ia tidak bercerita pada siapa pun.

Tidak pada teman. Tidak pada guru. Tidak juga pada orang-orang yang tampak peduli.

Karena bagi Laila, diam sudah menjadi kebiasaan. Sudah menjadi cara bertahan yang paling aman.

Semua rasa takut itu ia simpan sendiri. Semua luka itu ia peluk sendiri.

Di asrama, Laila tetap dikenal sebagai anak yang ceria. Yang suka bercanda. Yang sering membuat orang lain tertawa.

Tak ada yang tahu bahwa setiap tawa itu adalah usaha. Usaha agar orang lain tidak melihat betapa rapuhnya hatinya.

Tak ada yang tahu bahwa setiap malam, ketika lampu sudah dipadamkan dan semua teman terlelap, Laila sering menatap langit-langit kamar sambil menahan sesak di dadanya.

Ia belajar menenangkan diri tanpa pernah diajari caranya.

Menarik napas pelan. Menggenggam tangan sendiri. Mengulang dalam hati bahwa ia masih aman.

Pelan-pelan, tanpa disadari siapa pun, Laila tumbuh menjadi seseorang yang kuat dengan caranya sendiri.

Bukan karena hidupnya mudah.

Justru karena hidupnya terlalu sering terasa berat.

Di rumah, keadaan tetap tidak mudah. Ayahnya masih sering kambuh. Kakak pertamanya masih berjuang dengan pikirannya sendiri. Ibunya semakin lelah.

Namun Laila tidak lagi sepenuhnya tenggelam.

Ia mulai bermimpi.

Bukan mimpi besar tentang kekayaan. Bukan mimpi tentang ketenaran.

Mimpinya sederhana:

Ia ingin hidup tenang.

Bagi orang lain, itu mungkin terdengar biasa.

Tapi bagi Laila, ketenangan adalah hal paling mahal di dunia.

Malam-malamnya masih sering sunyi. Kadang masih diisi air mata. Kadang masih dipenuhi ketakutan.

Namun kini, ada satu hal yang berbeda.

Ia tidak lagi merasa sepenuhnya sendirian.

Karena ia punya dirinya sendiri.

Ia duduk di depan rumah suatu malam. Menatap langit gelap yang dipenuhi bintang. Angin berembus pelan. Sunyi. Sama seperti jalan yang dulu sering ia lalui saat berjalan kaki ke sekolah.

Ia teringat semua yang telah ia lewati:

Anak kecil berusia enam tahun yang tak mengerti kenapa rumahnya berubah. Anak SD yang berjalan empat kilometer setiap hari sambil menahan lelah. Anak SMP yang tersenyum di siang hari dan menangis di malam hari. Remaja yang menyimpan trauma terlalu lama.

Semua itu adalah dirinya.

Laila sadar, hidupnya mungkin tidak akan pernah benar-benar mudah. Lukanya mungkin akan selalu ada. Masa lalunya mungkin akan selalu membekas.

Tapi ia juga sadar satu hal

Ia masih berdiri.

Ia masih bernapas.

Ia masih bertahan.

Dan itu sudah lebih dari cukup untuk hari ini.

Seperti bintang di langit yang gelap, cahaya kecilnya mungkin tak pernah terang. Tapi ia tetap ada. Tetap menyala.

Dan selama Laila masih memilih untuk hidup, untuk melangkah, untuk tidak menyerah,

jejak kakinya akan terus ada di jalan sunyi itu.

Bukan sebagai tanda kelemahan, melainkan sebagai bukti bahwa seseorang pernah terluka begitu dalam,

namun tetap memilih bertahan.

Hari-hari Laila berjalan pelan, seperti air sungai di musim kemarau. Tidak deras, tidak pula benar-benar berhenti. Ia belajar mengenali irama hidupnya sendiri. Kadang kuat, kadang goyah, tetapi tetap bergerak. Di sekolah, ia mulai menemukan kenyamanan kecil dari hal-hal sederhana: suara kapur yang digoreskan guru di papan tulis, bau buku yang sudah lusuh, dan senyum singkat dari teman sebangku yang tak banyak bertanya.

Tak semua luka harus diceritakan, pikirnya. Ada luka yang cukup dipahami, cukup dijaga agar tidak semakin dalam. Maka Laila memilih memperbaiki hal-hal kecil yang masih bisa ia kendalikan: bangun lebih pagi, merapikan tempat tidur, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, dan tidak membiarkan dirinya tenggelam terlalu lama dalam pikiran gelap.

Kadang ia duduk di teras rumah saat sore, memandangi langit yang berubah warna. Di sanalah ia belajar tentang harapan. Tentang bagaimana matahari selalu kembali keesokan hari, meski hari sebelumnya penuh mendung. Ia tidak menyebut itu sebagai motivasi. Ia hanya merasa, selama langit masih memberi cahaya, ia juga harus mencoba tetap berdiri.

Ia tahu keluarganya tidak akan pernah kembali seperti dulu. Ayahnya dengan segala luka yang tak terlihat. Kakak pertamanya yang kini juga rapuh. Ibunya yang memikul beban lebih dari yang sanggup ditanggung. Tapi justru di situlah Laila mengerti, bahwa hidup bukan tentang memiliki keluarga yang sempurna, melainkan tentang bertahan di tengah ketidaksempurnaan itu.

Tidak ada yang tahu apa yang Laila rasakan sampai hari ini. Tidak ada yang benar-benar mengerti betapa sering ia ingin menyerah. Namun tidak ada pula yang melihat betapa sering ia memilih untuk tetap melangkah, meski hanya satu langkah kecil setiap hari.

Dan mungkin, tanpa pernah ia sadari, itulah kekuatan Laila yang sesungguhnya: bukan karena ia tidak pernah terluka, tetapi karena ia tetap hidup dengan lembut, di dunia yang sering tidak lembut kepadanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

LBH Padang Sebut Ruang Hidup Rakyat Sumbar dalam Kondisi Darurat

Next Post

LBH Padang Catat Penyempitan Kebebasan Sipil Sumbar

Related Posts