Oleh : Jihan Dwi Rahayu
Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Aku adalah lonceng di depan pintu
setiap hari kugerakkan sendiri
membiarkan bunyinya berharap
ada langkah yang sudi berhenti.
Aku menjadi pagi
yang selalu lebih dulu terjaga
menunggu dunia menyapa
sementara malammu
tak pernah mengirim salam.
Kau seperti jendela yang terang
aku berdiri di luarnya
menunggu cahaya
menemukan jalannya sendiri
meski tak pernah dijanjikan.
Awal selalu kutanam sendiri
seperti benih di tanah ragu
dirawat dengan sabar
namun kehangatan darimu
tak juga tiba.
Aku tak meminta banyak
hanya satu sapaan darimu
agar aku tahu
aku tak sedang berbicara
dengan sepi.