Bangku Paling Belakang

Ilustrasi menampilkan seorang siswa laki laki yang duduk di bangku paling belakang kelas. Menggambarkan sosok yang kerap memilih diam. Sumber : Najwalin Syofura.

Oleh : Muhammad Adam
(Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam)

Pagi itu udara masih dingin, embun belum sepenuhnya menghilang dari daun-daun di pinggir jalan. Seorang anak laki-laki mengayuh sepedanya pelan, roda tua itu berderit setiap kali melewati jalan yang tak rata. Seragamnya rapi, meski warnanya sudah sedikit pudar dimakan waktu. Tas di punggungnya terasa berat, bukan hanya oleh buku-buku, tetapi juga oleh mimpi dan harapan yang ia bawa diam-diam.

Di depannya, beberapa temannya melintas dengan motor mesin menderu, tawa mereka pecah bersama asap knalpot. Ada yang melambaikan tangan sekilas, ada pula yang tak menoleh sama sekali. Anak itu hanya tersenyum tipis. Ia tak iri, hanya terbiasa. Sepedanya mungkin lambat, tapi ia tahu setiap kayuhan adalah bentuk perjuangan yang tak semua orang mengerti.

Angin pagi menusuk wajahnya, keringat mulai muncul di pelipis. Kadang ia harus berdiri untuk menambah tenaga saat menanjak, napasnya terengah, namun matanya tetap menatap ke depan. Ia ingat pesan ibunya sebelum berangkat, “Tak apa jalannya lebih pelan, yang penting kamu sampai.” Kalimat sederhana itu menjadi bahan bakar yang tak terlihat.

Saat lonceng sekolah terdengar dari kejauhan, ia mempercepat kayuhan terakhir. Jantungnya berdebar, karena takut terlambat, Ketika ia turun dari sepeda dan menuntunnya masuk ke halaman sekolah, matahari mulai naik, seolah memberi salam. Di antara hiruk pikuk pagi, kisah kecilnya mungkin tak terdengar, namun di sanalah keberanian belajar berdiri pelan, sederhana, dan nyata.

Bangku Paling Belakang di situ lah ia duduk , ia adalah
Ilyas , ia selalu memilih bangku paling belakang di kelas IX IPA 2. Bukan karena ia malas, melainkan karena di sanalah ia merasa paling tidak terlihat. Tasnya sederhana, sepatunya sudah mulai pudar, dan suaranya jarang terdengar di antara riuh teman-temannya.

Setiap pagi, ejekan itu datang seperti rutinitas.

“Eh, Ilyas datang! Jangan duduk dekat-dekat, nanti ketularan miskin,” kata Randi sambil tertawa, diikuti beberapa temannya.

Ilyas hanya menunduk. Tangannya mengepal di balik meja, menahan air mata yang tak pernah benar-benar tumpah. Ia sudah terbiasa berpura-pura kuat, meski hatinya sering kali remuk.

Yang membuatnya bertahan hanyalah buku gambar di dalam tasnya. Di sana, Ilyas bisa menciptakan dunia lain tempat ia bebas, dihargai, dan tidak ditertawakan.

Suatu hari, sekolah mengadakan lomba poster antar kelas. Tanpa sengaja, Bu Tirta melihat gambar-gambar Ilyas yang tercecer di meja.

“Ini kamu yang buat?” tanya Bu Tirta terkejut.

Ilyas mengangguk ragu.

Poster buatannya dipilih mewakili kelas. Sejak saat itu, bisik-bisik mulai berubah. Namun, Randi dan teman-temannya belum berhenti. Mereka merobek poster itu sebelum lomba dimulai.

Ilyas menemukan karyanya sobek di sudut kelas. Untuk pertama kalinya, ia menangis di hadapan semua orang.

“Aku capek diperlakukan seperti ini!” teriaknya, suaranya bergetar.

Kelas mendadak sunyi. Bu Tirta datang tepat waktu. Randi akhirnya dipanggil ke ruang BK. Poster Ilyas diperbaiki, dan karyanya justru memenangkan lomba tingkat sekolah.

Hari itu, Ilyas kembali ke bangku paling belakang tetapi bukan lagi untuk bersembunyi. Ia duduk tegak, membawa keberanian baru. Ia sadar, diam bukan selalu pilihan, dan setiap orang berhak merasa aman di sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Sapaan Yang Selalu Datang Dariku

Next Post

Melemahnya Daya Beli Warga Tekan Pendapatan Pedagang di Sungai Penuh

Related Posts

Mecca

Oleh Febrian Hidayat(Mahasiswa Hukum Keluarga Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol Padang) Mecca,Kota pelosok tanpa berpenghuni dahulunyaMustahil kehidupan akan…
Selengkapnya

Berjalan ke Barat

Oleh: Verlandi Putra(Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris UIN IB Padang) Malam itu, kota berubah menjadi percikan cahaya yang redup.…
Selengkapnya