Lingkungan yang Menata Kesadaran Mahasiswa

Ilustrasi dua orang yang sedang berinteraksi di alam terbuka sebagai gambaran proses pembentukan pola pikir dan karakter. Sumber : Najwalin Syofura.

Oleh : Muhammad Rizki
(Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam)

Lingkungan menjadi aspek penting dalam pertumbuhan dini bagi setiap individu yang berada di dalamnya. Selama ini, lingkungan sering dipahami hanya sebagai latar tempat manusia beraktivitas. Padahal, gambaran yang ia berikan jauh melampaui sekadar ruang gerak; lingkungan berperan sebagai pengasah mutu kepribadian, pola pikir, serta pembentuk karakter yang memiliki andil dalam proses kehidupan.

Pemahaman terhadap lingkungan menuntut tingkat kesadaran yang matang untuk dapat dijadikan acuan. Ia menata tanpa suara yang jelas, membenahi tanpa perintah, dan mendidik diri tanpa harus selalu disadari. Dari proses yang sunyi itulah nilai tumbuh, kebiasaan terbentuk, dan karakter perlahan berbenah.


Pendekatan dalam pembentukan karakter dapat dikenali melalui lingkungan yang asri, mulai dari ruang terdekat seperti keluarga dan perkampungan hingga lingkungan pendidikan. Namun, di setiap ruang tersebut tetap diperlukan kemampuan untuk memilah antara yang hak dan batil. Lingkungan keluarga dan perkampungan sejatinya telah menjadi bekal awal bagi individu dalam menghadapi lingkungan yang akan datang.

Sayangnya, ketika memasuki dunia pendidikan, masih banyak yang belum memahami langkah dalam menyikapi lingkungannya sendiri. Padahal, pada masa pertumbuhan sebelumnya, mereka telah mengalami proses yang serupa, hanya saja tidak dipahami secara matang. Di jenjang SD, SMP, dan SMA, relasi sering kali dimaknai sebatas pertemanan dan kesan sesaat. Berbeda halnya ketika memasuki dunia perkuliahan, di mana realitas menjadi lebih kompleks dan kesadaran diuji.

Pemikiran ini sejalan dengan gagasan Paulo Freire yang memandang lingkungan dan pendidikan sebagai ruang pembentukan kesadaran. Menurutnya, manusia memang dibentuk oleh realitas sosialnya, tetapi pada saat yang sama dituntut untuk menyadari, mengkritisi, dan menyikapi lingkungan tersebut secara sadar. Tanpa kesadaran itu, lingkungan tidak lagi mendidik, melainkan perlahan membentuk manusia tanpa arah.

Tidak sedikit mahasiswa yang justru kehilangan makna kebersaudaraan di ruang akademik. Relasi berubah menjadi kompetisi yang mengaburkan empati, hingga lingkungan dapat “memakan manusia” dalam wujud yang berbeda bukan secara fisik, melainkan melalui tekanan, sikap saling menjatuhkan, dan ketidakpedulian yang dianggap wajar.


Namun, keberlangsungan itu sering kali hanya berpihak pada mereka yang merasa dirinya adalah petuah yang harus selalu dihargai. Padahal, meski seorang petuah memang patut dihormati, cara menghargai di lingkungan perkampungan dan di ruang pendidikan tidaklah sama. Perbedaan itu muncul karena sebagian dari mereka yang merasa memahami justru hanya menampilkan arogansi, dengan makna yang dangkal dan sekilas.

Bagi mereka yang berada di posisi merasakan tekanan tersebut, memilih langkah sendiri bukanlah sebuah kesalahan. Entah itu dengan bersuara agar perasaan yang terpendam tidak terus hilang, atau memilih diam sambil menunggu kesadaran itu tumbuh. Semua pilihan itu kembali pada diri masing-masing.

Tugas kita bukan untuk memaksakan perubahan, melainkan menjaga pemahaman agar tetap jernih. Dari sanalah lingkungan yang asri dapat diciptakan bukan melalui klaim sebagai petuah, tetapi melalui aksi nyata yang kita lakukan sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Ketika Aturan Tak Dirasakan Semua Orang

Next Post

Orang Yang Datang Tanpa Isyarat

Related Posts