Bulan Ramadan Wadah Pembentukan Karakter Takwa

Sosok Prof. Dr. Zulmuqim, MA (Doc. Pribadi)

Khazanah

Penulis: Prof. Dr. Zulmuqim, MA (Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN IB)

Kewajiban menjalankan ibadah puasa pada bulan suci Ramadan bagi orang yang beriman merupakan wadah untuk mendidik, membina dan menempa dirinya menjadi umat berkarakter takwa. Hal ini secara tegas disampaikan Allah dalam surat al-Baqarah/2: 183 (Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa).

Secara bahasa, istilah “takwa” berasal dari kata bahasa Arab, yakni waqa, yaqii, wiqaayah yang berarti memelihara. Secara istilah takwa berarti senantiasa memelihara hubungan dengan Allah Subhanahu wa ta’ala dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Makna memelihara hubungan dengan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam implementasinya, di awali dengan menumbuhkan keimanan (akidah Islamiyah) dalam diri seseorang kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, malaikat, rasul, kitab (wahyu Allah), hari berbangkit serta takdir. Di samping itu, wujud takwa juga perlu diimplementasikan dengan memelihara hubungan antara sesama manusia dan lingkungan alam sekitarnya.

Suatu ketika Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu ditanya oleh seseorang tentang takwa: wahai Abu Hurairah, apakah yang dimaksud dengan takwa itu?. Abu Hurairah tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi memberikan ilustrasi, “pernahkan engkau melewati suatu jalan dan engkau melihat jalan itu penuh dengan duri?, bagaimana tindakanmu untuk melewatinya? orang itu menjawab, apabila aku melihat duri maka aku menghindarinya dan berjalan di tempat yang tidak ada durinya, atau aku langkahi duri-duri itu, atau aku mundur”. Abu Hurairah cepat berkata “itulah yang dimaksud takwa (HR Ibn Abi Dunya). Hamka menjelaskan makna takwa dalam tafsirnya Al-Azhar (1988), adalah cinta, kasih, harap, cemas, takut, tawakal, rida, dan sabar terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ada beberapa karakter takwa yang perlu dibina dalam diri setiap orang yang beriman, sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran/3: 134-135: Orang yang bertakwa adalah: orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang yang menahan amarahnya, orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, maka segara mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

Berdasarkan ayat di atas ada enam macam karakter orang yang bertakwa:

Karakter Suka Pemurah

Suka pemberi dan suka membantu orang lain meskipun dia dalam keadaan sempit. Ramadan telah membiasakan kita untuk selalu memberi, misalnya berinfak, bersedekah, bahkan memberikan perbukaan bagi orang yang berpuasa. Semakin sering memberikan sesuatu kepada seseorang, maka semakin tertanam dan terbina pula sifat pemurah dalam diri seseorang.

Dalam teori pembinaan karakter, menurut Muhaimin (2001) ada enam pendekatan dalam pendidikan karakter, yakni 1) pendekatan pengalaman, seperti merasakan pengalaman berinfak, 2) pendekatan pembiasaan dengan membiasakan terus menerus berinfak, 3) pendekatan emosional dengan menumbuhkan rasa senang untuk berinfak, 4) pendekatan rasional dengan memahami makna berinfak, 5) pendekatan fungsional dengan memahami fungsi atau hikmah berinfak, 6) dan pendekatan keteladanan dengan menciptakan lingkungan berinfak. Pada dasarnya semua pendekatan itu telah dilakukan dalam bulan Ramadan.

Karakter Pengendalian Emosi

Ramadan telah mendidik kita untuk senantiasa menahan emosi (amarah), karena hakikat puasa adalah al-imsak (menahan). Menahan diri dari tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri pada siang hari dan bahkan menahan diri dari hal-hal yang merusak puasa.

Bahkan dalam sebuah Hadis Riwayat Bukhari (Dari Abi Hurairah RA … Puasa itu merupakan benteng…, apabila ada orang yang mencaci maki atau mengajak bertengkar, katakanlah: “sesungguhnya aku sedang berpuasa”( H.R Bukhari, No. 1894). Sifat marah atau emosi adalah sesuatu yang memang ada pada manusia, tetapi manusia perlu mengendalikan sifat marah atau emosi tersebut sehingga hubungan antara sesama manusia dapat terjalin dengan baik. Sebaliknya, bila sifat marah, emosional dan egoisme sering muncul pada seseorang, maka hubungan dengan orang lain akan terkendala. Allah menegaskan dalam surat Yusuf/12: 53 agar manusia jangan terjebak dengan sifat emosi (nafsu), karena emosi (nafsu) akan membawa pada kerusakan (…Sesungguhnya nafsu/amarah itu selalu mendorong kepada kejahatan…)

Karakter Pemaaf

Sebagai manusia pasti tidak luput dari kesalahan, baik kita sendiri maupun orang lain. Pada bulan Ramadan ini kita dituntut untuk senantiasa memaafkan kesalahan orang lain. Memaafkan kesalahan orang lain akan menyadarkan kita juga bahwa kita pasti ada tersalah kepada orang lain. Oleh karena itu, Ramadan mendidik kita untuk selalu menghilangkan dendam dan kesumat untuk itu, kepada orang lain. Sifat pemaaf ini akan menjadikan kehidupan dalam rumah tangga, lingkungan, masyarakat luas menjadi aman dan tenteram. Karakter ini, pada dasarnya, sudah dibiasakan oleh orang yang berpuasa selama bulan Ramadan.

Karakter Suka Berbuat Kebaikan

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala suka kepada orang yang senantiasa berbuat kebaikan. Kenapa kita merasa enggan menjadi orang baik?, padahal Allah sangat mencintainya. Ramadan telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa melakukan kebaikan, baik pada waktu siang maupun pada waktu malam. Dalam sebuah Hadis, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memotivasi kita untuk banyak-banyak berbuat baik pada bulan Ramadan, bahkan Allah melipatgandakan pahalanya.

Pada dasarnya manusia suka berbuat baik, karena manusia adalah makhluk fitrah (bersih jiwanya). Namun perjalanan kehidupannya menjadikan jiwanya kotor dan bahkan berpenyakit. Terkait dengan fitrah ini Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menjelaskan: setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanya serta lingkungannyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi (HR Baihaqi dan Tabrani). Jiwa yang bersih akan mendorong seseorang untuk senantiasa berbuat baik. Sebaliknya, jiwa yang kotor akan mendorong untuk mengerjakan perbuatan terlarang. Untuk itu, ibadah Ramadan membawa pada kebersihan jiwa dan mendidik karakter yang suka berbuat kebaikan.

Karakter Menyadari Kesalahan dengan Cara Mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala

Orang yang bertakwa adalah orang yang sadar bahwa dirinya adalah manusia yang juga bisa terjatuh pada melakukan dosa dan kesalahan. Namun, karena ia sudah ditempa selama satu bulan penuh pada bulan Ramadan, maka dia cepat menyadari perbuatan dosa dan kesalahannya, serta secepatnya minta ampun dan bertobat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Ia juga menyadari bahwa hanya Allah Subhanahu wa ta’ala saja yang akan mengampuni segala dosa dan kesalahan yang dibuatnya. Dengan karakter ini, seseorang yang bertakwa tidak akan menumpuk dosa dan kesalahan yang dibuatnya, karena ia senantiasa sadar dan ingat akan Allah.

Karakter Berjanji untuk Tidak Akan Mengulangi Kesalahan

Untuk sampai kepada suatu sikap atau karakter yang menyadari kesalahan dan berjanji untuk tidak mengulanginya adalah membutuhkan proses yang panjang. Karakter ini pada hakikatnya sudah sampai pada tingkat muhsinin.

Orang yang sudah sampai pada tingkat muhsinin ini akan merasakan bahwa ia senantiasa diperhatikan Allah Subhanahu wa ta’ala setiap melakukan perbuatan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ditanya oleh seseorang tentang ihsan: Apa yang dikatakan ihsan? Rasulullah menjawab: Ihsan ialah hendaklah engkau beribadah menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, bila engkau tidak bisa melihat-Nya maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah senantiasa melihat engkau (HR Muslim, No.8).

*) Opini kolumnis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi suarakampus.com. (ulf)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Dibunuhnya Demokrasi di Pilrek UIN IB

Next Post

Kamus Hidup

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty