Perjalanan Panik ke Kampus

Ilustrasi seorang mahasiswa berkendara menuju kampus, yang menggambarkan kepanikan. Sumber : Najwalin Syofura.

Oleh : Najwalin Syofura
(Mahasiswi Jurusan Ilmu Perpustakaan)

Hari itu seperti pagi biasa bagi Rafi, mahasiswa semester 5 jurusan Desain komunikasi visual di Universitas Anggara Jam 07.15 pagi, dia sudah siap berkendara dari kosannya. Baju seragam yang digunakan polos sudah dikenakan rapi, tas ransel berisi buku dan laptop terpaku di punggungnya, dan motor Honda supra x warna biru muda yang sudah digunakan selama setahun siap membawanya.

“Sya cepetan, jangan sampai telat kuliah kelas pak arga lagi ” teriak teman sekosannya, Nisya yang sedang mengunci pintu kos. Sedangkan syah sebutan namanya nisya sudah menghidupkan motor beatnya yang berwarna merah.

“Kamu lama amat, kalau gitu aku duluan saja” katanya sambil mengendarai motornya dan meninggalkan dan tidak nampak olehnya yang sedang memanaskan motornya. sambil menekan kontak motor. Bunyi mesin yang halus terdengar, dan dia segera menginjak gas perlahan.

Setelah melewati beberapa jalan raya yang agak ramai, Rafi memasuki jalan kecil yang biasanya lebih sepi, Udara pagi yang segar membuatnya sedikit rileks, bahkan dia mulai menyanyi kecil-kecilan lagu kesukaannya.

“Ternyata jalan ini benar-benar sepi ya… mungkin karena mahasiswa masih libur jadi orangnya tidak banyak dan hanya beberapa kendaraan lalu lalang lewat sini ,” gumam Rafi sambil menyesuaikan kecepatan motor.

Tak disangka, saat melewati jalan menuju kampus dijalan baru, tiba-tiba muncul tiga ekor anjing liar berwarna coklat tua dan hitam. Mereka berdiri di tengah jalan, menggeram dengan suara yang mengerikan, mata mereka terpaku pada Rafi dan motornya.

“Piiippp” suara klakson motorr membuat anjing itu berlari ke pinggir.

“Kok fealingku buruk setelah klakson para anjing itu.
“Waduh… jangan-jangan ya,” ucap Rafi dengan suara gemetar, mencoba melambatkan motor perlahan. Tapi saat dia ingin berbelok ke sisi jalan, salah satu anjing tiba-tiba melompat menuju arah roda depan motornya.

“Aduh! Jangan dong!” teriak Rafi kaget, langsung menginjak gas gigi 2 agar jauh dari anjing yang menggonggong. Motornya melesat cepat, tapi anjing-anjing itu tidak mau menyerah dan mulai mengejarnya dengan berlari kencang.
Rafi melihat cermin belakang dan melihat ketiga anjing masih mengikuti dengan cepat, terkadang bahkan hampir menyentuh bagian belakang motor.

“Ngapain sih kejar gw sambil menggonggong, dh jelas gw penakut orangnya” ucapnya.

“Sialan! Kenapa mereka ngejar aku ya? Aku kan nggak ngapa-ngapain mereka,” gumam Rafi sambil menekan gas lebih keras lagi. Kecepatan motor mulai meningkat, dan dia merasa jantungnya berdebar kencang karena ketakutan.

seiring dengan dekatnya kampus, tapi Rafi tidak berani melambat karena khawatir anjing-anjing itu akan menyerangnya. Dia hanya fokus pada jalan di depannya dan berusaha sampai ke gerbang kampus sesegera mungkin agar bisa diminta tolong.

Setelah beberapa menit mengejar-kejar yang membuatnya berkeringat dingin, akhirnya gerbang utama Universitas Angkasakaryasa muncul dalam pandangan. Rafi melihat ada dua orang satpam yang sedang berdiri di pintu masuk, sedang berbicara sama lain.

“Saya harus cepat sampai sana dan minta tolong!” teriak Rafi dalam hati, menginjak gas terakhir sehingga motornya melesat melewati gerbang tanpa sengaja menyentuh plang pembatas pintu masuk. Creng! Bunyi logam yang bergesekan terdengar, tapi Rafi tidak peduli lagi. Dia langsung gas motornya di depan pos satpam dengan keadaan napas terengah-engah dan ketakutan sambil berteriak,

“Pak! Pak satpam tolong dong! Ada anjing-anjing yang ngejar aku dari jalan belakang!” teriak Rafi dengan suara gemetar dan gas motor sekencangnya agar tidak dikejar lagi. masih melihat ke kaca spion khawatir anjing-anjing itu masih mengejarnya.

Dia langsung mengambil tongkat kayu yang ada di dekat pos satpam dan mengambil semacam dahan yang biasa digunakan untuk mengusir hewan.

Setelah beberapa saat, anjing-anjing itu akhirnya merasa tidak nyaman dan mulai berlari menjauh dari gerbang kampus. Pak Joni dan Pak Slamet tetap mengawasi mereka sampai benar-benar hilang dari pandangan.

Setelah memasang kunci motor dan mengambil tasnya, Rafi kembali menyapa kedua satpam itu sebelum masuk ke dalam kampus. Saat berjalan menuju gedung kelas, dia masih merasakan degupan jantung yang belum pulih total, tapi rasa lega yang dia rasakan jauh lebih besar.

Di akhir hari, dia sengaja mampir ke pos satpam untuk mengucapkan terima kasih lagi. Kedua satpam itu dengan senang hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Menuggu Kehadiranmu

Next Post

Orkestra Sunyiku

Related Posts