Orkestra Sunyiku

Ilustrasi seorang perempuan memainkan biola di alam terbuka, dengan piano di sekitarnya sebagai simbol kesunyian dan ekspresi batin melalui musik. Sumber : Najwalin Syofura.

Oleh : Aisyah Nurlaili Arinda
(Mahasiswi Jurusan Psikologi Islam)

Sore itu mentari mulai merangkak turun, meningalkan jejak jingga kemerahan dilangit. Dari balik jendela kamar yang terbuka, siluet pepohonan di kejauhan tampak seperti bayangan wayang yang perlahan memudar. Angin sore yang sepoi-sepoi berembus melalui celah-celah daun membawa serta aroma tanah basah setelah hujan ringan sebentar tadi. Dari kejauhan, suara lalu lintas yang sibuk terdengar sayup-sayup bagaikan desiran ombak yang tak pernah berhenti.

Kupandang lemari buku kayu jati di sudut kamar, kawan setia yang telah menyaksikan begitu banyak hari berlalu. Sinar senja yang temaram menerpa sampul- sampul buku yang berjejer rapi, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di lantai. Beberapa buku sudah terlihat using dimakan usia, dengan punggung buku yang mulai mengelupas dan halaman-halaman yang mulai menguning, koleksi itu bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan kumpulan jiwa-jiwa yang menanti untuk diajak bercakap.

Jemariku berselancar pelan diatas deretan buku, merasakan setiap tekstur yang berbeda-beda. Ada kulit buku yang halus, ada yang kasar, beberapa dihiasi emboss emas yang memudar. Akhirnya berhenti pada sebuah novel klasik dengan sampul biru usang yang catnya mulai terkelupas dibeberapa bagian. Buku ini seperti pelukan lama, selalu tau cara menenangkan dan membawa pulang ketempat yang paling nyaman.

Earbud wireless menyala dengan suara “connected” yang halus, lalu memutarkan lagu instrumental favoritku. Alunan piano dan biola segera memenuhi ruang kesadaran, mengalun pelan bagai desiran air di sungai pada musim semi. Setiap not yang bergema seolah menyapu debu-debu kesepian di sudut-sudut ruangan. Melodi itu membangun dunianya sendiri, sebuah kapsul waktu yang mengisolasi dari keriuhan diluar tembok kamar. Dunia luar yang sibuk dan penuh tuntutan seketika meghilang, tak lagi relavan untuk sementara waktu.

Diluar, langit semakin gelap. Bintang-bintang mulai bermunculan satu persatu, berkedip-kedip seperti lilin kecil yang diterbangkan angina malam. Suara jangkriik dari taman belakang rumah mulai bersahutan, menambah orchestra alam yang sudah dimulai oleh angina sore. Lampu jalan di kejauhan sudah menyala berwarna oranye, menerangi jalanan yang mulai sepi.

Setiap halaman buku yang ku balik terasa seperti memasuki dimensi lain. Karakter-karakter dalam cerita itu seolah hidup dan bernapas di ruangan ini, menemani tanpa menuntut percakapan. Mereka memahami bahasa diam, menghargai setiap jeda, dan tak pernah memaksa untuk berbagi cerita ketika tak ada kata-kata yang ingin diucapkan. Tatapan tertuju pada deretan kata-kata yang berbaris rapi, menari mengikuti irama musik yang mengalun di telinga. Kadang senyum kecil muncul tanpa disadari ketika menemukan kalimat yang menyentuh hati, atau ketika melodi telah mencapai klimaksnya yang menggugah jiwa.

Tak terasa, jarum jam telah bergerak dua jam lamanya. Telepon diatas meja kayu bergetar beberapa kali, cahayanya menyala redup kemudian meredup lagi. Biarkan saja. Untuk mala mini, yang di butuhkan hanyalah buku setia ini, musik yang memahami jiwa, dan ruang yang memberi kebebasan untuk menjadi diri sendiri tanpa perlu penjelasan. Segelas teh chamomile di atas meja kecil masih mengepul hangat, aromanya yang menenangkan menyebar pelan di udara.

Malam semakin larut, hingga akhirnya aku menutup halaman terakhir buku itu. Rasanya seperti mengucapkan selamat tinggal pada sahabat yang sudah berbagi cerita panjang. Dari speaker kecil, alunan musik berganti dengan lagu-lagu akustik yang lebih lembut, cocok untuk menemani persiapan tidur. Dalam kesendirian yang ku pilih dengan sadar ini, ditemukan kekayaan yang tak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan kata-kata. Disini, antara deretan buku yang setia dan melodi yang memahami, ada semesta yang lengkap, sebuah orkestra sunyi yang dimainkan hanya untuk satu penonton, yaitu aku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Perjalanan Panik ke Kampus

Next Post

Sekarat Tapi Tak Mati

Related Posts