Suarakampus.com– Menjelang Ramadan, kesadaran umat Islam dalam mempersiapkan diri secara spiritual dinilai masih rendah dan cenderung seremonial. Hal ini disampaikan Zulkarnain Hafidzahullah dalam webinar bertajuk Bekal Ilmu untuk Ramadan Lebih Produktif dan Konsisten yang disiarkan melalui kanal YouTube DzulqarnainMS, Sabtu (14/02).
Ia menekankan, keberhasilan Ramadan tidak dimulai saat hilal terlihat, melainkan jauh sebelumnya, melalui persiapan yang sadar dan terencana. “Saat-saat seperti ini kita perlu menuluskan doa kepada Allah agar dimudahkan memasuki Ramadan dan diberi kesempatan membuka gerbangnya,” ujarnya.
Menurutnya, banyak orang memasuki Ramadan tanpa target dan tanpa evaluasi diri, sehingga bulan suci berlalu tanpa perubahan berarti. Ia menyebut idealnya setiap muslim memiliki harapan yang jelas saat menyambut Ramadan, mulai dari bisa menjalaninya dengan semangat, menjadi pribadi yang lebih baik, hingga keluar darinya dalam keadaan diampuni.
Selain doa, ia menyoroti pentingnya niat yang terukur, bukan sekadar keinginan umum untuk menjadi lebih baik dan menganjurkan agar setiap orang menuliskan target ibadah yang ingin dicapai selama Ramadan. “Niat baik itu kejujuran dia tulis, ‘Saya di Ramadan ingin begini, begini.’ Sehingga niat itu selalu dia ingat,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya tobat sebelum memasuki Ramadan agar bulan suci tidak dijalani dalam kondisi hati yang masih terbebani, bulan Sya’ban adalah momentum bersih-bersih spiritual. “Seorang memasuki Ramadan dalam posisi telah bertobat kepada Allah dengan tobat nasuha,” tegasnya.
Zulkarnain mencontohkan praktik Nabi Muhammad yang memperbanyak puasa di bulan Sya’ban sebagai bentuk kesiapan fisik dan mental, kebiasaan itu menunjukkan Ramadan bukan ibadah musiman, tetapi puncak dari proses latihan sebelumnya. “Nabi berpuasa di bulan Sya’ban banyak puasa agar ketika menjalani Ramadan seakan perkara yang sudah biasa,” ungkapnya.
Fenomena minimnya persiapan ini, kata dia, membuat Ramadan kerap dipahami hanya sebagai rutinitas tahunan, bukan momentum perubahan diri. Padahal, tidak semua orang diberi kesempatan bertemu Ramadan setiap tahun, sehingga kesadaran akan keterbatasan waktu hidup perlu menjadi dorongan untuk memaksimalkannya.
Ia menambahkan, persiapan Ramadan juga menyangkut kesiapan mental dan cara pandang, jika Ramadan diposisikan sebagai beban, maka ibadah akan terasa berat. Sebaliknya, jika dipahami sebagai kesempatan langka memperbaiki diri, maka ia akan disambut dengan antusias.
Menutup pemaparannya, ia berharap umat Islam tidak hanya sibuk pada persiapan konsumsi dan agenda seremonial, tetapi lebih fokus pada pembenahan diri sebelum Ramadan benar-benar tiba. “Semoga Allah memudahkan kita memasuki Ramadan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang beruntung di dalamnya,” tutupnya. (fau)
Wartawan: Putri Wahyuni (Mg)