Suarakampus.com- Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) resmi luncurkan program Syi’ar Ramadhan untuk pertama kalinya sebagai kegiatan penguatan syi’ar Islam di bulan Ramadhan. Peluncuran ini bertepatan dengan masa penerimaan mahasiswa baru dengan memanfaatkan media digital sebagai sarana publikasi. Kamis (26/02).
Dekan FUSA, Sefriyono menyampaikan program Syi’ar Ramadhan bukan sekadar kegiatan seremonial. “Kami memasukkan nilai akademik dalam program tersebut,” sampainya.
Pimpinan FUSA tersebut mengungkapkan program Syi’ar Ramadhan launching bertepatan dengan bulan suci. “Melalui program ini, kami menghadirkan syi’ar Islam dengan basis tradisi keilmuan yang selaras dengan bidang akademik di fakultas,” ungkapnya.
Sefriyono melanjutkan, kajian ramadhan akan dibahas melalui syi’ar Ramadhan. “Dalam program ini, kajian akan disesuaikan dengan perspektif prodi di FUSA,” lanjutnya.
Pejabat fakultas ini menilai media digital sebagai instrumen komunikasi efektif untuk menjangkau masyarakat luas. “Kami memilih podcast sebagai arus utama penyampaian kajian tematik sekaligus promosi program studi,” sebutnya.
Selain itu, ia memaparkan, kajian keislaman berbasis keilmuan prodi dapat memperkenalkan suasana akademik. “Melalu program ini akan terbentuk citra positif di mata publik,” tutupnya.
Kepala Bagian Umum (KTU) FUSA, Zulfendri menyebutkan, program tersebut telah dirancang sejak beberapa bulan lalu. “Kami mempersiapkan secara matang hal teknisnya,” sebutnya.
Menurutnya, launching Syi’ar Ramadhan FUSA bertepatan dengan proses penerimaan mahasiswa baru jalur prestasi. “Ini menjadi waktu yang tepat untuk memperkenalkan fakultas kepada publik,” jelasnya.
Zulfendri mengungkapkan dinamika jumlah mahasiswa di setiap program studi turut melatarbelakangi pelaksanaan program tersebut. “Jumlah mahasiswa beragam, ada yang meningkat, namun ada pula yang mengalami penurunan,” ungkapnya.
Ia menegaskan kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena berkaitan dengan aspek akreditasi program studi. “Penurunan jumlah mahasiswa dalam waktu tertentu dapat berdampak pada penilaian mutu,” katanya.
Sebagai langkah konkret, zulfendri menegaskan FUSA memilih untuk memaksimalkan fungsi laboratorium podcast sebagai media sosialisasi dan publikasi kegiatan fakultas. “Kami memilih memulai podcast dengan sarana yang tersedia meskipun fasilitas belum sepenuhnya optimal,” jelasnya.
Ia menambahkan sejumlah fasilitas masih memerlukan pembenahan. “Pendingin ruangan dan latar belakang studio akan segera dihadirkan,” terangnya.
Zulfendri juga menyampaikan kebutuhan dasar produksi telah tersedia meski belum sepenuhnya memadai. “Saat ini, perangkat perekam dan pencahayaan sudah ada,” ujarnya.
Menurutnya, keberanian untuk memulai menjadi kunci dalam evaluasi dan pengembangan ke depan. “Dengan memulai, kami dapat menilai kekurangan dan melakukan perbaikan secara bertahap,” tutupnya. (Nda)
Wartawan : Nur Hanifah (Mg)