Jangan Ungkap Identitas Korban Lewat Visual, Pesan Aidil Ichlas

Aidil Ichlas saat memberi materi, Sumber : Zahra Mustika/ Suarakampus.com

Suarakampus.com– Kemampuan produksi karya jurnalistik audiovisual menjadi keterampilan penting yang perlu dimiliki persma di era digital. Hal tersebut disampaikan oleh Aidil Ichlas dalam Pelatihan Jurnalistik Tingkat Madya (PJTM), Sabtu (13/06).

Aidil Ichlas mengungkapkan, perkembangan media digital menuntut jurnalis untuk tidak hanya menguasai penulisan berita. “Jurnalis harus mampu memproduksi konten audiovisual,” ungkapnya.

Aidil menjelaskan, perbedaan mendasar antara berita tulis dan jurnalistik audiovisual terletak pada unsur visual. “Kalau membuat berita tulis, kita tidak perlu memikirkan visual. Tetapi dalam jurnalistik audiovisual, kalau tidak ada visual berarti tidak ada berita,” jelasnya.

Menurutnya, visual menjadi elemen utama yang menentukan kualitas sebuah karya jurnalistik audiovisual. “Narasinya bisa saja bagus, tetapi kalau tidak ada visual, itu sama saja seperti berita tulis,” tuturnya.

Pendiri Interes ini membagi berita ke dalam dua kategori berdasarkan proses peliputannya. “Ada berita yang tidak direncanakan, seperti peristiwa mendadak atau breaking news, dan ada berita yang direncanakan seperti feature, in-depth report, maupun investigasi,” katanya.

Ia menekankan, liputan yang direncanakan membutuhkan riset, persiapan produksi, dan perencanaan yang matang sebelum dilakukan peliputan. “Dalam liputan terencana ada proses riset dan persiapan yang harus dilakukan terlebih dahulu,” ujarnya.

Selain teknik peliputan, Aidil juga mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam pengambilan gambar, terutama ketika melibatkan korban atau kelompok rentan. “Jangan menampilkan hal-hal yang dapat mengungkap identitas korban, termasuk atribut atau ciri khas yang membuat orang mengenalinya,” tegasnya.

Dalam praktik pengambilan gambar, ia menjelaskan, setiap gerakan kamera harus memiliki tujuan yang jelas. “Setiap pengambilan gambar harus memiliki alasan dan mendukung cerita yang ingin disampaikan,”imbuhnya.

Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap keselamatan jurnalis saat meliput peristiwa berisiko tinggi seperti demonstrasi atau konflik. “Cari lokasi yang aman tetapi tetap memungkinkan mendapatkan gambar yang dibutuhkan,” imbuhnya.

Terkait teknik wawancara, Aidil menyarankan agar jurnalis memilih latar yang relevan dengan topik berita. “Tujuannya agar visual dan informasi menjadi lebih kuat,” paparnya. (rar)

Wartawan : Irfannov Zacky Aji (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Meneguhkan Kembali “Islam Yes, Partai Islam No”: Relevansi Cak Nur di Tengah Polarisasi Identitas

Next Post

Liputan Mendalam Harus Diawali dengan TOR

Related Posts