Disertasi Muhammad Nasir Teliti Perubahan Pemaknaan Tuanku dalam Masyarakat Pariaman

Muhammad Nasir dan Keluarganya. Sumber : Zahra Mustika/ Suarakampus.com

Suarakampus.com– Muhammad Nasir jalani ujian promosi doktor Program Studi Studi Islam Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang dengan disertasi Tuanku dalam Ingatan Kolektif Orang Pariaman Kontemporer: Konstruksi Sejarah Sehari-hari. Ujian tersebut berlangsung di Aula lantai tiga Pascasarjana, Senin (23/06).

Dalam sambutannya, Rektor Pascasarjana, Ahmad Wira menyampaikan, ujian akan dikawal oleh tim penguji yang terdiri dari: 
1. Ahmad Wira sebagai tim penguji
2. Faizin sebagai sekretaris sekaligus penguji
3. Irwan Abdullah dari Universitas Gadjah Mada sebagai penguji eksternal,
4. Sudarman,
5. Ahmad Taufiq Hidayat,
6. Nurush Sholihin yang juga bertindak sebagai promotor.

“Atas nama pimpinan Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang, kami mengucapkan selamat kepada Muhammad Nasir yang telah sampai pada tahap ujian promosi doktor,” ujar Ahmad Wira.

Dalam pemaparannya, Muhammad Nasir menjelaskan, penelitian ini berangkat dari kegelisahan akademik terhadap historiografi Tuanku yang selama ini lebih banyak membahas tokoh-tokoh tertentu, seperti Syekh Burhanuddin, Ungku Saliah, jaringan ulama Minangkabau maupun Asia Tenggara, serta berbagai peristiwa seperti perang, tarekat, dan proses islamisasi Minangkabau.

Menurutnya, kajian-kajian tersebut umumnya menempatkan Tuanku sebagai tokoh sejarah. Sementara masyarakat yang terus menghidupkan dan memaknai sosok Tuanku dalam kehidupan sehari-hari justru belum banyak mendapat perhatian.

“Penelitian ini berupaya menggeser fokus kajian dengan melihat bagaimana orang Pariaman menceritakan dan memaknai Tuanku dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Untuk menjawab persoalan tersebut, penelitian disusun melalui empat pertanyaan utama, yakni bagaimana historiografi menggambarkan Tuanku, bagaimana Tuanku diwacanakan dalam kehidupan masyarakat Pariaman, bagaimana konstruksi pengetahuan dan peran Tuanku terbentuk menjadi realitas sosial yang lazim, serta bagaimana efektivitas ingatan kolektif tentang Tuanku dalam kehidupan masyarakat.

Masyarakat Menjadi Aktor Pembentuk Makna Tuanku

Salah satu temuan utama penelitian ini adalah, makna Tuanku tidak bersifat tetap. Sebaliknya, pemaknaannya terus berubah sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan sosial masyarakat.

Muhammad Nasir menemukan bahwa pada abad ke-17 hingga ke-18, narasi tentang Tuanku banyak berkaitan dengan asal-usul Islam di Pariaman, riwayat hidup Syekh Burhanuddin, serta perkembangan tarekat.

Memasuki abad ke-19, Tuanku lebih banyak digambarkan sebagai agen perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dalam berbagai narasi yang berkaitan dengan Perang Paderi.

Sementara pada abad ke-20, Tuanku berkembang menjadi orientasi keagamaan yang diterima, dilegitimasi, dan dipertahankan dalam kehidupan masyarakat hingga mencapai puncaknya pada masa Orde Baru.

Adapun pada masa kontemporer, masyarakat Pariaman memaknai Tuanku melalui nilai, norma, dan legitimasi yang diwariskan dari masa lalu. Syekh Burhanuddin tetap menjadi rujukan utama sebagai Tuanku pertama sekaligus sumber nilai yang terus direproduksi dan disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Penelitian ini juga menemukan perubahan makna Tuanku tidak semata-mata dibentuk oleh lembaga keagamaan ataupun struktur formal adat. Sebaliknya, masyarakat menjadi aktor utama yang terus membentuk ulang makna Tuanku sesuai kebutuhan sosial mereka.

Jika pada masa lalu Tuanku lebih dekat dengan lingkungan tarekat, kini masyarakat Pariaman mengharapkan sosok Tuanku yang mampu memainkan peran dalam bidang agama, adat, dan kehidupan sosial secara bersamaan.

Menurut Muhammad Nasir, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pranata sosial Tuanku mengalami kontekstualisasi sesuai perkembangan zaman tanpa kehilangan legitimasi normatif yang diwariskan dari masa lalu.

Menghadirkan Historiografi dari Kehidupan Sehari-hari

Disertasi ini menawarkan kebaruan metodologis melalui penggunaan analisis wacana sosial untuk membaca historiografi dari pengalaman sehari-hari masyarakat.

Pendekatan tersebut dinilai berbeda dengan penelitian terdahulu yang umumnya bertumpu pada tokoh, naskah sejarah, atau peristiwa-peristiwa besar.

Melalui pendekatan itu, Muhammad Nasir berupaya menunjukkan sejarah tidak hanya hidup dalam arsip dan catatan akademik, tetapi juga dalam tuturan, ingatan, dan praktik sosial masyarakat sehari-hari.

Penelitian ini juga menemukan, masyarakat Pariaman memandang masa lalu bukan sekadar urutan kronologis sejarah, melainkan sebagai rujukan nilai untuk menilai sosok Tuanku masa kini. Figur Syekh Burhanuddin dan berbagai praktik yang dianggap ideal pada masa lalu terus menjadi tolok ukur dalam membentuk pemahaman masyarakat tentang Tuanku pada era kontemporer.

Temuan tersebut memperlihatkan ingatan kolektif juga menjadi mekanisme sosial yang memungkinkan masyarakat terus merekonstruksi makna Tuanku sesuai tantangan dan kebutuhan zaman. (Fau)

Wartawan : Zahra Mustika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Denda Keterlambatan PayLater: Ganti Rugi Riil (Ta’widh) atau Riba Jahiliyah Gaya Baru?

Related Posts