Menyibak Jejak Muhammad Ikhsan, Aktivis SPI Wisudawan Angkatan -96 UIN IB

Suarakampus.com – Menjadi aktivis mahasiswa bukan hanya tentang menerima jabatan, tetapi bagaimana menjaga kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan. Hal itu menjadi perjalanan yang dilalui Muhammad Ikhsan, mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Imam Bonjol Padang yang menutup masa kuliahnya dengan predikat Bintang Aktivis Kampus pada Wisuda ke-96, Rabu (29/7).

Ketertarikan Ikhsan terhadap dunia kemahasiswaan tumbuh sejak sebelum memasuki perguruan tinggi. Pengalamannya sebagai Ketua OSIS saat MTsN 15 Tanah Datar dan Wakil Ketua MPK-OSIS MAN 2 Tanah Datar menjadi bekal awal sebelum terjun dalam berbagai organisasi mahasiswa.

Melihat Semangat Senior dan Memulai Langkah Organisasi

Keinginan aktif di dunia kampus semakin kuat ketika ia melihat semangat KORSA senior dalam kegiatan PBAK 2022. Momen tersebut membuatnya tertarik melanjutkan pengalaman organisasi ke jenjang perguruan tinggi.

Langkah pertamanya dimulai dengan mengikuti kepanitiaan MOCA di UKM Bahasa Ausel serta menjadi panitia Sekolah Legislatif pertama yang diselenggarakan Senat Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (SEMA FAH).

Bagi Ikhsan, organisasi menjadi ruang belajar untuk memahami kepemimpinan, komunikasi, dan cara mengambil keputusan bersama.

Menempuh Proses Panjang di Ruang Legislatif Mahasiswa

Perjalanan organisasi Ikhsan berkembang ketika ia bergabung bersama SEMA FAH. Pada 2023, ia dipercaya sebagai Staf Ahli Komisi I Bidang Hukum dan Undang-Undang.

Dalam posisi tersebut, ia terlibat dalam berbagai kegiatan kelembagaan, mulai dari Sekolah Legislatif, praktik sidang, Sidang Komisi, hingga Musyawarah Senat Mahasiswa.

Tidak berhenti di sana, kepercayaan kembali diberikan kepadanya untuk mengemban berbagai amanah organisasi. Pada 2024, ia dipercaya menjadi Ketua Komisi I SEMA FAH. Ia juga sempat menjalankan tugas sebagai PJS Ketua Umum ketika ketua umum melaksanakan KKN dan menjadi Plt Ketua Umum ketika ketua umum nonaktif.

Puncak perjalanan organisasinya terjadi pada 2025 ketika mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora mempercayakannya menjadi Ketua Umum definitif SEMA FAH.

Amanah Organisasi dan Tantangan Waktu

Menjalani berbagai tanggung jawab organisasi tidak selalu berjalan mudah. Ikhsan mengaku tantangan terbesar selama menjadi aktivis adalah mengatur waktu dan menjaga kepercayaan.

Menurutnya, banyaknya amanah yang diterima membuatnya harus mampu menentukan prioritas. Ia memilih hadir pada kegiatan yang dianggap penting dan memberikan kepercayaan kepada orang lain untuk menjalankan tugas ketika dirinya berhalangan.

“Tantangan besar saya tentang waktu dan kepercayaan. Cara mengatasinya memilih kegiatan yang memang penting saya hadir dan mendelegasikan utusan untuk menggantikan saya pada kegiatan lainnya,” ujarnya.

Baginya, seorang pemimpin tidak hanya harus mampu bekerja sendiri, tetapi juga harus percaya kepada orang-orang yang berada dalam tim.

Menjaga Akademik di Tengah Aktivisme

Kesibukan organisasi tidak membuat Ikhsan melupakan tujuan utama sebagai mahasiswa. Ia berusaha menjaga keseimbangan antara aktivitas kemahasiswaan dan kewajiban akademik.

Ia mengingat arahan pimpinan fakultas yang menekankan pentingnya menjadi aktivis secara total tanpa mengabaikan pendidikan.

“Kalau menjadi aktivis jangan tanggung, harus banyak berkorban dan utamakan akademik tanpa meninggalkan nonakademik. Karena tujuan ke sini adalah menuntut ilmu seluas-luasnya, baik yang didapatkan di kelas maupun di luar,” katanya.

Menurutnya, organisasi dan akademik bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama selama mahasiswa mampu mengatur waktu dan bertanggung jawab.

Prestasi

Selain aktif dalam organisasi, Ikhsan juga mencatat sejumlah prestasi selama menjadi mahasiswa. Ia pernah meraih Juara I dan II dalam lomba Master of Ceremony (MC) serta MTQ tingkat Fakultas Adab dan Humaniora.

Ia juga meraih Juara III lomba esai di Universitas Negeri Padang, Juara II Karya Tulis Ilmiah di UIN Palembang, serta Harapan II dalam kegiatan Bedah Anggaran Kementerian Keuangan.

Dari berbagai capaian tersebut, lomba MC menjadi pengalaman yang paling berkesan baginya. Ia mendapatkan banyak pengalaman dari para juri yang memberikan evaluasi untuk meningkatkan kemampuannya.

Bintang Aktivis Bukan Akhir Perjalanan

Bagi Ikhsan, penghargaan Bintang Aktivis Kampus merupakan bentuk apresiasi atas proses panjang yang telah dijalani selama menjadi mahasiswa.

Ia menilai penghargaan tersebut bukan hanya simbol pencapaian, tetapi juga pengingat untuk terus menjaga nilai amanah, tanggung jawab, dan kepercayaan.

“Nilai yang saya ingin pegang selalu dapat dipercaya, amanah, dan berani bertanggung jawab. Walau masih ada ketidaksempurnaan, itu tidak menjadi hambatan saya untuk maju ke depan,” tuturnya.

Ikhsan berharap perjalanan selama menjadi mahasiswa dapat menjadi bekal untuk terus memberikan manfaat bagi kampus, umat, dan bangsa. (fau)

Wartawan : Aisyah Nurlaili Arinda (Mg).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Uut Endang Sari Raih IPK 3,90 pada Wisuda ke-96 UIN IB

Next Post

Fadilla Ramadhani Kantongi Bintang Kampus

Related Posts