AJI Indonesia dan GNI Bahas Teknologi AI dalam Penyebaran Disinformasi

Diskusi AJI Indonesia bersama GNI via zoom meeting. (Sumber : Salsa/suarakampus.com)

Suarakampus.com- AJI Indonesia bersama Google News Initiative (GNI) bahas pengaruh, perkembangan, dan risiko Artificial Intelligente (AI), dalam penyebaran disinformasi. Diskusi tersebut dilakukan secara online lewat Zoom Meeting. Rabu, (24/01).

Ediotorial Cek Fakta Kompas.com, Bayu Galih menyampaikan sejak awal kemunculan AI, ia berpandangan bahwa karya fiksi telah dipengaruhnya. Seperti dilihat di buku I Robot hingga film Terminator pada tahun 1984. “Bahwa dijelaskan dalam film tersebut, pekerjaan manusia digantikan oleh robot.

Ia mengatakan, pada tahun 1987, karakter android muncul, sehingga semakin dekat dengan kemunculan AI dalam bentuk program. “Seperti di film Her tahun 2013, menggambarkan hubungan manusia dengan kecerdasan buatan melalui sistem operasi,” tuturnya.

Kemudian, Ia megatakan, perkembangan semakin pesat seperti muncul Siri dan Google Now, menunjukkan bahwa kecerdasan buatan semakin terpersonal. “Chatbot yang menyerupai karakter manusia menandai perkembangan saat ini,” katanya.

“Ada beberapa fitur yang muncul lainnya seperti Google Lens, Facial Recognition. Bahkan algoritma rekomendasi sudah menjadi bagian integral dalam kehidupan kita,” tambahnya.

Lanjutnya, ia mengatakan mesin generatif seperti Chat Generative Pre-training Transformer (GPT) dapat membantu dalam pekerjaan, transkripsi, dan pembuatan situs internet. Meskipun penggunaan teknologi itu membawa dampak negatif.

“Penyalahgunaan AI untuk tujuan tertentu berpotensi risiko keamanan, seperti manipulasi foto dan audio, penipuan, penyebaran disinformasi, dan bahkan merugikan citra seseorang,” ungkapnya.

Associate Professor, Derry Wijaya mengatakan saat ini mayoritas kecerdasan buatan terfokus pada mesin pembelajaran, model belajar dari data yang diberikan. “Kemajuan fitur AI terus berkembang, misalnya pembuatan gambar, voice over dalam ilustrasi sehingga menghasilkan konten baru,” tuturnya.

Selain itu, ia mengungkapkan penting memahami dan mengelola dampak negatif, serta etika penggunaan kecerdasan buatan, dalam kehidupan sehari-hari. “Karena perkembangan model AI bakal canggih ke depannya,” tutupnya. (red)

Wartawan: Salsabil Janah (Mg)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

AJI Indonesia dan GNI Bahas Teknologi AI dalam Penyebaran Disinformasi

Next Post

Masyarakat Kota Padang Serukan Keluh Kesah dalam Kampanye Akbar Anies

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty