Aku dan Namamu

Ilustrasi dua anak yang berbincang ceria di ruang terbuka hijau, menggambarkan pertemuan sederhana yang meninggalkan kesan meski bersifat sementara. Sumber : Najwalin Syofura.

Oleh : Zahra Mustika
(Mahasiswa Jurusan Studi Agama- Agama)

Senang menyebut namamu
Ku rambat ia melalui nada paling tenang
Sayangnya tiada pernah hatiku benar benar tinggal untukmu
Aku sekedar bersinggah
Untuk digantikan

Aku menerka cinta jatuh tanpa jalinan
Aku menebak kasih tanpa ikatan
Aku menyambut rindu jikalau datang.
Ku kira debar dadaku sungguh
Sku hanya ingin ditemani
Bukan dimiliki.

Engkau laksana bayang yang mengintai lengangku
Dirimu seperti jawaban atas segala persoalanku
Aku mencintai kasih yang tak berbilang
Walaupun dibatasi tembok kenyamanan

Aku tidak jatuh lebih dalam
Aku merenggut rela tanpa kesediaan untuk bertahan
Aku enggan menyebut rasa
Tak sudi menakar dalamnya kasih.

Aku jatuh dengan setengah hati
Aku mendamba dengan tidak sungguh
Terimakasih, untuk cinta yang kau semai
ditengah hidup yang gaduh

Jikalau kau mengingatku
Kenangkah aku sebagai singgah yang tak sungguh
Bukan sebagai janji yang menanti ditepati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Hidup Dalam Kenangan

Next Post

Razia Hanya Formalitas, Aparat Mendulang Hasil Emas

Related Posts