Oleh: Fathir Hikari Putra
(Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Angkatan 2024)
Aku bukan siapa-siapa di kampus ini, bukan bagian dari birokrasi, bukan pula orang yang duduk di lingkaran dalam. Aku hanya mahasiswa biasa, tak ada lebihnya; datang ke kelas untuk duduk di bangku belakang dan pulang dengan kepala penuh tanya: “Kapan kampus ini akan berubah?”
Ketika pemilihan rektor digembar-gemborkan oleh akun Instagram kampus, aku melihat ada sebelas nama yang terpampang jelas sebagai kandidat kuat untuk mengisi kursi jabatan rektor. Sebelas orang kandidat, lima di antaranya dari fakultasku sendiri dan semuanya guru besar. Gelar akademik tertinggi ini membuktikan bahwa mereka memiliki kualitas keilmuan yang sangat mapan di bidangnya masing-masing. Namun, satu pertanyaan muncul di kepalaku: “Apakah gelar guru besar yang mereka dapatkan dapat menjamin kompetensi mereka untuk memimpin kampus ini dengan adil, bijak, dan berpihak?”
Aku terkejut Ketika melihat salah satu postingan dari LPM Suara Kampus, lembaga pers mahasiswa selain DKTV yang aku ketahui di kampus ini yang sampai detik ini setia menjadi garda terdepan dalam menyampaikan suara publik kampus khususnya mahasiswa , mengundang para calon rektor untuk menulis, menyampaikan visi dan misinya dan menyampaikan harapan mereka terhadap kampus ini. Aku sudah menunggu lama namun, tidak ada satupun dari 11 calon rektor tersebut menyampaikan tulisannya. Timbul pertanyaan di kepalaku: “apa gunanya gelar guru besar jika menulis di media saja enggan? Ujarku. Aku tak meminta mereka menyampaikan visi misi mereka secara Panjang lebar. Menurutku menyapa kami sebagai mahasiswa melalui tulisan saja sudah lebih dari cukup. Namun tak satupun dari 11 calon rektor tersebut menyapa kami.
Aku kecewa berat. Bagaimana mungkin kami yang dianggap sebagai nadi kehidupan kampus ini justru tidak dianggap oleh para calon pemimpin bergelar guru besar itu? Sungguh ironis, padahal kepada merekalah kepercayaan atas kebijakan akademik kampus ini kusematkan bersama seluruh kawan mahasiswa lainnya.
Bagaimana mungkin mahasiswa di UIN Imam Bonjol Padang bisa percaya kepada calon pemimpin yang bahkan tidak menganggap mahasiswa sebagai bagian integral dari kampus? Aku sama sekali tidak meragukan keilmuan mereka. Aku hanyalah mahasiswa semester dua yang masih planga-plongo ketika dibantai pertanyaan dosen di kelas.
Tapi, justru karena itu aku menaruh hormat.
Sekali lagi, aku tidak pernah meragukan keilmuan mereka, tidak sedikit pun. Mereka adalah sosok yang telah menghabiskan separuh hidupnya untuk ilmu: meneliti, mengajar, menulis, dan berpikir melampaui zaman. Mereka, para calon rektor UIN Imam Bonjol Padang, adalah simbol pencapaian akademik tertinggi.
Tapi kenyatannya,
Kami tidak disapa, tidak diajak berbincang, tidak di ajak berdialog mengenai kampus tempat kami menimba ilmu ini.
Apa kami di anggap penting?
Apa suara kami terlalu kecil untuk di dengar?
Apa artinya mahasiswa bagi mereka selain angka dalam statistik dan objek kebijakan?
Kampus ini bukan hanya milik profesor dan birokrasi. Ini juga rumah kami.
Kami yang menyusuri lorong fakultas setiap hari. Kami yang belajar di kelas sempit dengan AC yang rusak kadang hidup kadang mati . Kami yang berjuang dengan UKT, dengan tugas, dengan tekanan hidup.
Kami adalah denyut nadi kampus ini. Tapi anehnya, dalam proses paling penting ini, kami seperti diabaikan dan disepelekan.
Dalam kuliah, sering kami dituntut berpikir kritis, menyampaikan pendapat, menulis gagasan. Tapi ketika kami mengharapkan hal yang sama dari para calon rektor, justru tidak ada yang muncul.
Bukankah ini ironi bagi kampus ini?.
Prof. Yusril Ihza Mahendra, seorang akademisi dan negarawan, pernah mengatakan:
“Pemimpin yang baik adalah mereka yang rela meluangkan waktu untuk menjelaskan arah yang ingin ia tempuh, bukan hanya kepada elit, tapi juga kepada mereka yang akan menjalani.”
Jika para calon rektor tidak bisa meluangkan waktu untuk menulis kepada mahasiswa, lalu kepada siapa sebenarnya mereka akan berbicara apa arti kepemimpinan kampus ini juka para calon rektor tidak berusaha menyentuh sisi manusiawi mahasiswanya?.
Sekali lagi, aku tidak meragukan kapasitas keilmuan mereka
Tapi aku juga manusia. Aku juga bagian dari komunitas akademik. aku juga punya harapan. Dan salah satu harapan paling sederhana saya adalah: dihargai sebagai bagian dari kampus ini.
Tulisan bukan hanya sekadar kata-kata.
Tulisan adalah wujud kepedulian, keberanian, dan komitmen.
Jika sejak awal tidak ada upaya untuk berdialog, bagaimana kami bisa yakin bahwa mereka akan memimpin kampus ini dengan hati terbuka?
Dan aku takut, kampus ini perlahan sedang menuju ke sana.
Jadi tempat formal, kaku, penuh upacara, tapi miskin dialog dan kedekatan.
Sebelas calon rektor tidak menulis, bukan karena mereka tidak bisa. Tapi mungkin karena mereka tidak merasa perlu. Itu yang menyakitkan.
Aku tidak ingin rektor yang sempurna.
Aku hanya ingin rektor yang mau mendengarkan.
Yang tidak hanya berjanji di forum-forum resmi kampus. Yang tidak hanya menjalin diplomasi dengan kampus lain, yang tidak hanya mengadakan mou atau perjanjian dengan Perusahaan dan kampus ternama di luar sana.
Aku hanya ingin rektor yang mendengarkan sepenuh hati unek unek para mahasiswanya tentang perkuliahan yang mereka Jalani di kampus tercinta ini dan aku ingin pemimpin yang tak hanya berbicara soal akreditasi program studi, fakultas, ataupun kampus. Tapi aku ingin pemimpin yang langsung turun kelapangan mengatasi permasalahan yang ada di kalangan mahasiswa entah itu permasalahan birokrasi, fasilitas dan lainnya.
Jika 11 calon rektor benar-benar ingin dipercaya, semestinya mereka menulis bukan karena diminta, tapi karena merasa itu penting. Karena menyapa mahasiswa adalah fondasi atau dasar dari kepemimpinan yang sehat bersih dan adil.
Aku tahu aku bukan siapa-siapa, hanya mahasiswa semester dua. Tapi aku percaya: satu suara bisa menjadi gema, asal tidak sendiri. Maka aku memilih tidak diam. Dan aku berharap, teman-temanku pun begitu. Sebab kampus yang hidup, adalah kampus yang didiami oleh suara-suara jujur dari mereka yang kerap dianggap kecil.
Tulisan ini adalah caraku menyapa mereka yang tak menyapa.
Caraku menyalakan lilin kecil di tengah aula yang sunyi.
Caraku berbisik pelan, bahwa kampus bukan milik segelintir orang, melainkan rumah tempat kami para mahasiswa menyusun mimpi dan makna.
Ini caraku mengingatkan, bahwa kami bukan sekadar angka dalam grafik akademik.
Bukan sekadar wajah-wajah di bangku kelas.
Kami adalah bagian dari nalar yang hidup.
Denyut dari kampus yang katanya Islami, katanya inklusif, katanya kritis.
Dan aku akan terus berharap,
Bahwa satu dari mereka meski hanya satu akan berani keluar dari barisan diam.
Berani menulis. Berani menyapa. Berani mengatakan:
“Saya mendengar kalian. Dan saya akan hadir.”
Sebab kami tak sedang mencari rektor yang hebat di atas kertas,
Kami sedang mencari rektor yang hadir dalam kehidupan kampus sehari-hari.
Yang tidak sekadar berpidato dari podium,
Tapi juga duduk bersama kami di lantai,
Membaca keresahan kami,
Menjadikan kami penting.
Dan jika hari itu benar-benar tiba,
Mungkin kami tak lagi hanya bergantung pada artikel dan jurnal.
Tapi belajar dari kehadiran, dari sikap yang jujur dan rendah hati.
Dari seorang pemimpin yang memilih mendekat, saat yang lain menjauh.
Karena pada akhirnya, kehadiran adalah pelajaran terbaik yang bisa diberikan seorang pemimpin.
Sebagai penutup izinkan aku menulis beberapa harapan terkait uin imam bonjol di 5tahun kedepan:
Yang pertama, Semoga Uin Imam Bonjol Padang dapat mencapai tujuannya yaitu menjadi world class university di 5 tahun yang akan datang dan bersaing dengan kampus kampus ternama terutama kampus PTKIN yang ada di seluruh Indonesia.
Dan yang kedua, semoga Uin Imam Bonjol padang senantiasa tempat yang nyaman bag tumbuhnya pemikiran yang kritis serta menghasilkan para intelektual yang berguna bagi agama, bangsa dan negara.
Dan yang ketiga, semoga Uin Imam Bonjol Padang senantiasa menjunjung tinggi nilai nilai keislaman yang di ajarkan oleh Rasullah Muhammad SAW, dan tidak meninggalkan nilai nilai kearifan local Minangkabau.
Dan yang ke empat semoga para dosen dosen yang ada di uin imam bonjol di berikan kesabaran dan ketabahan oleh Allah Subhanahu wataala dalam membimbing mahasiswanya dalam menyiapkan generasi yang berpegang teguh pada quran dan sunnah Nya.
Perjalanan baru saja dimulai. Harapan harapan yang kutulis hari ini semoga bisa menjadi jejak awal bagi perubahan di kemudian hari. Bersama UIN Imam Bonjol Padang mari kita wujudkan masa depan yang lebih cerah, adil dan beradab.