Suarakampus.com – Nurul Fadillah, wisudawati Program Studi (Prodi) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), membagikan kisah perjuangannya meraih prestasi akademik di tengah keterbatasan ekonomi. Ia mengaku ketekunan, konsistensi, serta doa menjadi kunci utama dalam menyelesaikan perjalanan kuliahnya, Minggu (19/04).
Nurul menjelaskan, ia berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi pas-pasan dan menjalani kuliah sebagai penerima bantuan pendidikan. “ Tetapi saya juga berusaha mengikuti lomba agar bisa belajar sekaligus membantu kebutuhan selama perkuliahan,” jelasnya.
Ia mengatakan, peran orang tua sangat besar dalam perjalanan pendidikannya, karena mereka selalu bekerja keras agar kami bisa tetap sekolah. “ Sebagai anak pertama saya merasa punya tanggung jawab untuk ikut meringankan beban mereka,” katanya.
Menurutnya, faktor utama yang membuatnya mampu meraih Indeks Penilaian Kumulatif (IPK) tinggi adalah karena berusaha menjaga ketekunan dan konsistensi selama kuliah. “ IPK tinggi bukan soal jenius atau tidak, tetapi tentang siapa yang mau terus berusaha,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, tantangan terbesar selama kuliah datang dari diri sendiri yang terus belajar untuk tetap tenang dan kuat. “ Karena saya percaya, Allah selalu menguatkan saya, ” ungkapnya.
Nurul menambahkan, titik terberat dalam perkuliahannya terjadi saat menyelesaikan skripsi. “ Hal Yang membuat saya terus semangat adalah selalu ingat dengan perjuangan orang tua, ” tambahnya.
Ia mengaku, pernah bergabung dalam beberapa organisasi seperti Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Baitul Qur’an, dan Bengkel Kata yang membantunya belajar tentang keberanian dan rasa percaya diri. “Melalui organisasi saya belajar banyak hal,” ujarnya.
Ia menegaskan, strateginya dalam mengatur waktu antara kuliah dan kegiatan lainnya adalah dengan menggunakan cara sederhana seperti membuat catatan harian mengenai tugas dan prioritas yang harus diselesaikan. “Saya biasanya menulis hal-hal yang harus dikerjakan,” tegasnya.
Bagi Nurul, pencapaian sebagai lulusan terbaik memiliki makna sederhana tetapi sangat berharga, yaitu dengan membahagiakan kedua orang tua. “ Saya hanya ingin melihat orang tua saya tersenyum bangga,” pungkasnya. ( Raf)
Wartawan: Zahra Zaqhira Pilli (Mg)