Oleh: Muhammad Rizki (Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang)
ata cinta adalah hantu bagi setiap pendengarnya—hadir dengan makna yang berbeda-beda. Bagi sebagian orang, cinta menjadi sumber kebahagiaan; bagi yang lain, ia justru menjelma trauma yang jatuh terlalu dalam. Dalam berbagai pandangan, cinta seharusnya memuat beribu makna yang sakral. Ia terikat pada cara seseorang memahami, baik dari sisi agama, moral, maupun nilai-nilai lain yang diyakininya.
Dalam berbagai pandangan dan pengalaman di dunia romantik, cinta selalu menghadirkan jawaban yang berbeda. Setiap orang yang merasakannya membawa makna masing-masing—ada yang setimpal, ada pula yang berujung timpang. Tidak jarang cinta diperlakukan sebagai ajang pemujaan dan pembuktian: siapa yang paling banyak memberi, siapa yang paling kuat bertahan. Tanpa kesadaran yang utuh, cinta semacam ini mudah kehilangan arah—antara menjelma kebahagiaan atau justru menjadi awal keruntuhan.
Cinta bukanlah dark impulse yang pantas disalahkan atas luka-luka manusia. Ia hanya perlu dijalani dengan keyakinan dan penghargaan. Mencintai memang menuntut keberanian, sebab selalu ada kemungkinan belajar atau tersesat dalam kesengsaraan. Namun menghindarinya bukan pilihan yang adil, karena sebagian nikmat dunia justru terasa ketika cinta hadir—bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai kesadaran.
Pada akhirnya, cinta mempertemukan dua hati dengan rasa yang kuat, bukan untuk saling bersandar, apalagi saling membebani. Ia adalah perjalanan yang menyimpan beribu jawaban—yang hanya dapat dijalani dengan kesadaran, agar tidak berakhir sebagai penyesalan.
jg