Suarakampus.com– Sanggar Pusako Mandeh turut berperan aktif dalam melestarikan tradisi Maapam di Kampung Lubuk Karak, Kinali, Pasaman Barat, sebagai warisan budaya Minangkabau yang terus dijaga turun-temurun. Keterlibatan langsung sanggar bersama warga tersebut menunjukkan komitmen pelestarian budaya lokal, Sabtu (27/12).
Anggota Sanggar Pusako Mandeh, Nia Elia Putri menyampaikan, dirinya telah bergabung sejak 2023 untuk menjaga tradisi yang diwariskan nenek moyang. “Saya bergabung sejak tahun 2023,” katanya.
Nia Elia Putri menuturkan, motivasi utamanya adalah keinginan untuk merawat budaya keluarga serta peninggalan leluhur. “Saya ikut karena ingin menjaga tradisi budaya dan tradisi keluarga,” ujarnya.
Ia menyebut, Maapam bukan sekadar kegiatan adat tetapi menghadirkan keunikan budaya Minangkabau dan kebersamaan warga. “Yang menarik itu keaslian budaya Minangkabau dan kehangatan warga,” katanya.
Menurut Nia, pengetahuan tentang Maapam ia peroleh dari lingkungan sekitar serta praktik langsung di sanggar. “Saya belajar dari lingkungan dan praktik langsung di Sanggar Pusako Mandeh,” ujarnya.
Nia mengaku, bangga karena tradisi ini mampu mempererat hubungan masyarakat melalui kerja sama yang terbangun. “Saya sangat senang karena tradisi ini menghadirkan kebersamaan warga,” katanya.
Ia menilai, keterlibatan generasi muda sangat diperlukan agar tradisi Maapam terus bertahan dan tidak punah. “Cara mengajak anak muda adalah membuat mereka ikut langsung dalam Maapam,” ujarnya.
Bundo Kanduang Kampung Lubuk Karak, Jusmawarni, menilai Maapam memberi dampak positif karena melibatkan seluruh warga secara gotong royong. “Semua warga saling bahu-membahu dari persiapan hingga memasak apam,” katanya.
Jusmawarni menegaskan, tradisi ini menjadi sarana membangun nilai kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat. “Nilai yang paling terlihat adalah kebersamaan dan saling membantu,” ujarnya.
Menurut Bundo Kanduang tersebut, peran anak muda sangat penting untuk menjamin keberlanjutan Maapam dengan dukungan penuh dari niniak mamak dan kaum ibu. “Anak muda sangat penting agar tradisi ini tetap ada di masa depan,” katanya.
Jusmawarni berharap, tradisi Maapam semakin dikenal luas dan terus diteruskan oleh generasi mendatang. “Saya berharap tradisi ini terus ada dan dikenal luas,” ujarnya. (ver)
Wartawan: Putri Wahyuni (Mg)