Dosen Psikologi UIN IB: Kerusuhan di Kanjuruhan Berawal dari Rasa Fanatik Supporter

Sosok Dosen Psikologi UIN IB Padang Subhan Ajrin Sudirman (Foto: Dokumentasi pribadi)

Suarakampus.com– Pasca terjadinya insiden kerusuhan di Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu (01/10) lalu, usai pertandingan antara Arema vs Persebaya yang memakan ratusan korban jiwa sangat menyisakan luka mendalam bagi keluarga hingga masyarakat di tanah air. Menanggapi hal itu, Dosen Psikologi UIN Imam Bonjol Padang Subhan Ajrin Sudirman mengungkapkan kejadian tersebut terjadi akibat kefanatikan supporter.

“Sebenarnya supporter di pertandingan tersebut ikatan antara satu dengan yang lain kuat, hingga condong ke rasa fanatik itu berujung kerusuhan,” katanya saat diwawancarai tim suarakampus.com, Senin (03/10).

Lanjutnya, perkembangan supporter di Indonesia selalu ditandai dengan fanatisme secara berlebihan. “Fanatisme sebagai bentuk kewajaran para penonton yang tidak terlepas dari golongan tertentu,” lanjutnya.

Kemudian, kata dia, secara psikologis faktor penyebab timbulnya rasa fanatik terhadap seseorang terjadi karena tingkat emosional yang tinggi. “Fanatik ini bisa melekat bila seseorang lebih mengedepankan emosinya dibandingkan logika,” katanya.

“Selain rasa emosional, faktor penyebab lain adalah cinta berlebihan terhadap sesuatu hingga tidak bersikap rasional dalam menghadapinya,” sambungnya.

Selain itu, Subhan menuturkan faktanya fanatisme tidak selalu berkonotasi negatif, tapi mampu berdampak positif bila cara penyikapannya benar. “Fanatisme salah apabila pengekspresiannya disalurkan dengan tidak semestinya, ini yang akan menjadi sumber masalah,” tuturnya.

Ia menjelaskan dalam teori psikoanalisis sosial, kumpulan massa pada sebuah tempat biasanya memiliki karakter yang bersifat membaur dan hal ini mampu memicu sikap tidak berpikir panjang dalam menghadapi suatu kejadian. “Sebenarnya tidak harus meluapkan rasa kekecewaan atas kekalahan tim kebanggaan dengan melempar benda-benda ke arah lapangan, berkata kasar hingga melakukan tindakan represif,” jelasnya.

Kendati demikian, ia juga menyayangkan penggunaan gas air mata saat terjadinya kerusuhan yang mana adalah sebuah pelanggaran berat. “Penggunaan gas air mata sudah dilarang oleh FIFA, tapi masih saja digunakan oleh aparat keamanan,” sampainya.

Subhan berharap agar para supporter lebih mengedepankan rasa rasionalitas ketika ikut menonton sebuah pertandingan. “Kerusuhan ini menjadi pelajaran bagi kita semua dan semoga tidak terulang lagi,” tutupnya. (nsa)

Wartawan: Indah Yulfia dan Rais Shiddiq

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

37 Mahasiswa Prodi Tasawuf dan Psikoterapi Pindah Jurusan Akibat Belum Diverifikasi PDDikti

Next Post

Gagal Wisuda Bulan Depan, Mahasiswi SPI Keluhkan Soal Penginputan Nilai KKN

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty