Festival Bakcang Ayam dan Lamang Baluo, Bentuk Kerukunan Etnis Tionghoa Minangkabau

Festival bakcang ayam dan Lamang Baluo, bentuk kerukunan etnis antar budaya. (Sumber: Azizah/suarakampus.com)

Suarakampus.com- Festival bakcang ayam dan lamang baluo turut memeriahkan momen lebaran di Kota Padang. Kegiatan tersebut merupakan simbol persatuan dan kerukunan etnis Tionghoa dan Minangkabau, Rabu (26/04).

Walikota Padang Hendri Septa mengatakan, bakcang merupakan salah satu kuliner tradisional masyarakat Tionghoa, sedangkan lamang baluo merupakan kuliner masyarakat Minangkabau. Kedua kuliner tersebut memiliki bentuk yang hampir sama, dilihat dari bahan serta proses pembuatannya. “Keduanya sama-sama terbuat dari ketan dan dibungkus dengan daun. Yang membedakannya hanya bentuk dan isinya,” terangnya.

Kemudian, ia menuturkan bahwa festival tersebut menunjukkan proses akulturasi budaya di Padang terjaga dengan baik. “Kuliner ini akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat yang menghadiri festival,” tuturnya.

Selaku pengunjung, Irma mendukung adanya penyelenggaraan festival tersebut, karena menyatukan dua budaya yang berbeda dalam bentuk kuliner. “Festival ini sangat unik dan didalamnya kita menjalin kebersamaan yang baik,” pungkasnya.

Lanjutnya, dia mengatakan kegiatan yang diadakan menjadi momen saling berbagi dan bersilaturahmi antar etnis yang berbeda. “Dari sinilah kita bisa menjalin komunikasi yang baik, meskipun berbeda kebudayaan,” katanya.

Sementara itu, pengunjung lainnya Putri merasa senang bisa hadir dalam acara festival tersebut, karena belum pernah merasakan bakcang itu sendiri. “Sering melihat orang jualan bakcang, tetapi kebanyakan isiannya daging non halal, dan sekarang bisa menikmati bakcang untuk pertama kali,” ungkapnya.

Sama halnya dengan Hana, ia menuturkan tidak hanya kerukunan dan persatuan yang tampak dalam festival itu, tetapi antusias masyarakat yang besar dengan berbaur tanpa adanya pembeda agama dan kebudayaan. “Terlihat dari masyarakat saling berebut untuk mendapatkan dan menikmati kuliner tradisional ini,” ucapnya.

Sambungnya, dengan adanya acara tersebut tetap memberi ruang dan pelayanan terbaik bagi seluruh masyarakat tanpa melihat suku dan agama. “Semoga menjadi daya tarik bagi wisatawan dan perantau untuk hadir dalam festival ini,” tutupnya. (una).

Wartawan: Nur ‘Azizah Yunara Putri (Mg)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Danau Singkarak Menjadi Pilihan Para Wisatawan saat Lebaran

Next Post

Tradisi Unik, Pacu Perahu di Sungai Batang Hari

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty