Suarakampus.com- Pemilu tinggal menghitung hari, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) selenggarakan diskusi publik guna mengidentifikasi jaringan oligarki yang berada dibalik para Pasangan Calon (Paslon).Kegiatan ini berlangsung via zoom meeting, Jumat (02/02).
Diketahui, Diskusi ini dimulai dengan sesi pembuka oleh moderator, Sapariah Saturi seorang Jurnalis Mongabay Indonesia. Sebelum itu ia mengajak semua pemilih untuk bisa menilai para pemimpin negara karena kita sebagai rakyat tidak hanya butuh janji.
Selaku narasumber pertama, Divisi Hukum Jatam Muh Jamil mengatakan bahwa semua paslon memiliki tim pendukung partai yang berkecimpung dibidang industri ekstraktif. “Ini dikumpulkan melalui dokumen resmi dan analisis jejaring sosial,” katanya.
Ia juga menyampaikan banyaknya orang yang terdampak dari kepentingan bisnis ekstraktif para elit politik. “Adanya kerusakan lingkungan, persoalan sosial masyarakat, kesehatan masyarakat dan dugaan pelanggaran HAM,” tambahnya.
Lain halnya dengan narasumber kedua dari Trend Asia, Ahmad Ashov menuturkan tentang ekonomi hijau sekarang yang seenaknya saja. “Dilihat dari banyaknya korban, konflik dan transisi yg terjadi hanya berupa teknologi,”tuturnya.
Kemudian, narasumber ketiga yang merupakan Dosen STHI Jentera, Bivitri Susanti menerangkan bagaimana sistem oligarki ini berkembang. “Oligarki bisa masuk karena sistem pemilu dan partai politik yang beroperasi dengan proses keputusan negara,” ucapnya.
Sehubungan dengan itu, narasumber terakhir perwakilan Indonesia Corruption Watch (ICW), Egi Primayograha berpendapat bahwa politik oligarkis ini sangat berbahaya, “Sepuluh tahun kebelakang kebijakan publik tidak berpihak pada semua orang, seperti pembajakan digital jurnalis, banyaknya mahasiswa terbunuh,” pungkasnya.
Ia juga berbicara tentang politik dinasti yang dilakukan jokowi tidak lepas dari politik oligarkis. “Jokowi yang mencalonkan anaknya sebagai kandidat bisa berbuah pada kecurangan pemilu,” sebutnya
Ia berharap adanya partisipasi rakyat Indonesia ditengah sistem politik oligarkis ini. “Pemilu ini hanya satu hari tetapi menentukan nasib negara ini ke depannya,” tutupnya. (red)
Wartawan: Devita Rahma (Mg)