Gelar Mentereng, Skill Kaleng-Kaleng. Aduhai.

Ilustrasi pria gentar menjauhi komputer putih, dikelilingi dengan dinding penuh ijazah, dan medali. sementara dihadapannya piala emas. Ilustrator : Najwalin Syoufura

Fikri Alhamdi
(Student of Imam Bonjol Academic Community)

Dunia pendidikan kita itu ajaib. Kita bisa menciptakan manusia yang sanggup menghafal teori setebal bantal, tapi mendadak kena mental saat disuruh revisi laporan oleh atasan. Inilah era di mana gelar mentereng sering kali cuma jadi bungkus estetik untuk kapasitas yang kualitasnya mirip kaleng kerupuk: nyaring bunyinya, tapi kopong isinya.

Mari kita jujur-jujuran saja. Tidak ada yang lebih membagongkan di dunia profesional selain bertemu dengan seorang sarjana dengan deretan gelar mentereng yang IPK nyaris sempurna, predikat cumlaude berderet, tapi pas disuruh kerja teknis, ia justru terlihat seperti turis yang tersesat di tengah hutan. Bingung, kaku, dan sedikit-sedikit tanya, “Di buku nggak ada cara begini, Mas?”

Aduhai sekali, bukan?

Gelar cumlaude yang dulu digadang-gadang sebagai tiket emas menuju masa depan cerah, kini sering kali cuma jadi beban moral yang bikin malu kalau dibawa ke tongkrongan. Ternyata, dunia kerja tidak butuh orang yang jago menjawab soal pilihan ganda, mereka butuh orang yang tahu caranya menyelesaikan masalah tanpa perlu disuapi terus-menerus.

Mahasiswa “Fotokopi” dan Obsesi Angka

Penyebab utama fenomena “Gelar Mentereng, Skill Kaleng-Kaleng” ini sebenarnya sederhana: sistem pendidikan kita masih memuja kepatuhan. Mahasiswa yang duduk paling depan, mencatat setiap titik-koma omongan dosen, dan menjawab ujian persis seperti isi slide, dialah yang akan jadi raja di portal akademik.

Mereka menjadi “mesin fotokopi” teori yang handal. Hafal definisi manajemen menurut ribuan pakar, tapi gagap saat disuruh mengelola tim yang sedang konflik. Pintar mengutip jurnal internasional, tapi bikin email penawaran ke klien saja bahasanya masih berantakan.

Ini adalah kritik pedas untuk kampus-kampus yang lebih peduli pada angka kelulusan daripada kualitas kompetensi. Kita mencetak sarjana-sarjana “etalase”. Bagus dipandang, mentereng dipajang, tapi pecah saat dihantam tekanan nyata.

Gengsi yang Melebihi Fungsi

Banyak mahasiswa yang terjebak dalam delusi bahwa gelar adalah segalanya. Mereka berburu predikat mentereng demi validasi sosial, agar bisa pamer di Instagram atau agar orang tuanya bisa pamer di arisan keluarga.

“Anakku lulus cumlaude, lho!”

Ya, memang membanggakan. Tapi kebanggaan itu akan segera menguap saat si anak mulai masuk ruang interview dan tidak bisa menjawab pertanyaan praktis karena otaknya terlalu penuh dengan teori-teori usang tahun 90-an yang sudah nggak relevan lagi dengan industri sekarang.

Gelar mentereng tanpa skill itu ibarat punya Ferrari tapi nggak tahu cara nyetir. Cuma bisa dipanasin di garasi, dikagumi tetangga, tapi nggak bisa dibawa jalan ke mana-mana. Sia-sia.

Dunia Kerja adalah Hutan, Bukan Ruang Kelas

Di kantor, atasan tidak akan peduli apakah kamu lulusan terbaik atau bukan. Yang mereka pedulikan adalah: “Bisa beres nggak kerjaanmu?”

Ironisnya, banyak pemilik gelar mentereng ini justru memiliki attitude yang rapuh. Mereka merasa sudah “pakar” hanya karena nilai ijazah mereka tinggi. Akibatnya, mereka malas belajar hal baru, anti-kritik, dan merasa pekerjaan-pekerjaan dasar itu merendahkan status intelektual mereka. Aduhai, sombongnya minta ampun, padahal skill-nya masih sebatas copy-paste.

Jangan sampai kita menjadi sarjana yang cuma jago di atas kertas. Dunia luar itu kejam, Bung. LinkedIn tidak akan menyelamatkanmu jika pas disuruh eksekusi project, kamu malah sibuk mencari referensi di buku teks.

Gelar Jangan Jadi Beban

Pada akhirnya, ijazah itu cuma selembar kertas bertanda tangan. Nilainya ditentukan oleh apa yang bisa kamu lakukan dengan tanganmu sendiri, bukan oleh seberapa bagus nilai yang tertera di sana.

Buat adik-adik mahasiswa: silakan kejar cumlaude, tapi tolong jangan jadi sarjana “aduhai” yang cuma modal ijazah tanpa isi kepala yang relevan. Malu-maluin almamater itu satu hal, tapi mempermalukan diri sendiri di depan HRD karena nggak bisa kerja itu pedihnya tak berkesudahan.

Sebab, di akhir hari, gelar menterengmu itu nggak bisa dipakai buat bayar kos-kosan kalau skill-mu masih kaleng-kaleng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Ketidakpastian Jadwal Ujian Komprehensif Tuai Keluhan Mahasiswa Akhir UIN IB Padang

Next Post

Kritik, Kecurigaan Negara, dan Stand-Up Comedy sebagai Ruang Nalar Publik

Related Posts