Oleh: Fatimah Az-Zahra
(Mahasiswi Hukum Keluarga UIN Imam Bonjol Padang)
Hari Buruh sering dibicarakan sebatas upah, kontrak kerja, dan tuntutan kesejahteraan. Tapi ada satu sisi yang sering luput: pengalaman perempuan dalam dunia kerja yang tidak selalu adil, bahkan sejak awal sudah berada dalam posisi yang lebih berat.
Perempuan tidak hanya bekerja di kantor, pabrik, atau sektor formal lainnya. Banyak dari mereka juga menjalani pekerjaan domestik yang menguras tenaga dan waktu, namun tidak pernah dihitung sebagai kontribusi ekonomi. Mereka bekerja tanpa upah, tanpa jaminan, bahkan tanpa pengakuan. Di saat yang sama, ketika perempuan masuk ke ruang kerja publik, mereka masih harus menghadapi diskriminasi upah, stereotip, hingga risiko pelecehan.
Bagi mahasiswa, terutama di Sumatera Barat, ini bukan isu yang jauh. Kita tumbuh dalam budaya Minangkabau yang sering dibanggakan karena memuliakan perempuan. Tapi realitas hari ini menunjukkan hal yang berbeda. Banyak perempuan tetap berada dalam tekanan ganda dituntut mandiri secara ekonomi, tapi juga tetap memikul tanggung jawab domestik secara penuh. Di sinilah pentingnya kesadaran mahasiswa. Hari Buruh tidak hanya tentang pekerja hari ini, tapi juga tentang kita sebagai pekerja di masa depan. Jika sejak sekarang kita tidak peka terhadap ketimpangan ini, maka pola yang sama akan terus berulang.
Perempuan sering kali harus membuktikan diri dua kali lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama. Ironisnya, kerja keras itu sering dianggap sebagai kewajiban, bukan perjuangan. Ini yang membuat ketidakadilan terasa “normal”, padahal seharusnya dipertanyakan. Hari Buruh seharusnya menjadi ruang refleksi bersama. Bukan hanya soal kenaikan upah atau kebijakan pemerintah, tapi juga tentang siapa saja yang selama ini tidak terlihat dalam sistem kerja. Selama masih ada yang bekerja tanpa dihitung, selama itu pula keadilan belum benar-benar tercapai.
Sebagai Penutup, Hari Buruh bukan hanya tentang tuntutan, tapi juga tentang keberanian menjaga kesadaran agar tidak padam. Saya Fatimah Azzahra, mahasiswi Program Studi Hukum Keluarga, Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol Padang, memandang bahwa suara perempuan dan mahasiswa harus terus hadir, bukan hanya di momen peringatan, tetapi di setiap ruang yang masih menyisakan ketidakadilan.