Global Boiling dan Dampaknya Terhadap Bencana Ruang Hidup

Suarakampus.com- Manusia diberi tempat hidup oleh Tuhan di bumi yang merupakan satu planet diciptakan untuk hidup dari berbagai macam planet di Bima Sakti. Dalam siklus kehidupan, manusia memiliki ruang hidup seperti ruang udara, lautan, dan tanah untuk melangsungkan kehidupan.

Kondisi tersebut saling seimbang antara satu sama lainnya. Kendati demikian, sebaliknya dalam kondisi tidak seimbang tentu akan berdampak negatif pula pada kelangsungan hidup manusia.

Antonit Guterres mengatakan tahun 2023 adalah tahun terpanas yang pernah tercatat. Istilah dulu hanya dikatakan sebagai pemanasan global akan tetapi saat ini telah terjadi pendidihan, artinya terjadi suhu memanas secara ekstrim.

NASA (National Aeronautics and Space Administration) juga mengungkapkan bahkan kondisi laut juga panas. Kondisi abnormal ini berhubungan dengan perampasan ruang hidup, di antaranya:

  1. Cuaca ekstrim, seperti saat musim panas, maka panas tersebut panas sekali, begitupun musim dingin yang teramat dingin, kemarau yang kekeringan, serta hujan yang berakibat banjir.
  2. Bencana hidrometeorologi, seperti banjir, yang mengakibatkan adanya penyakit.
  3. Krisis kesehatan, yang mengakibatkan adanya berbagai penyakit.
  4. Krisis pangan, gagal panennya hingga berakibat banyaknya kelaparan.
  5. Krisis air, dulunya hujan di saat bulan ber-ber (September, Oktober, November, Desember), bahkan pencairan es tetapi berbeda dengan keadaan saat ini.

Adanya pihak korporasi dalam merampas ruang hidup

Data Walhi dan Auriga, menyebutkan sebagian besar lahan di Indonesia di kelola oleh korporasi. Konflik agraria di Indonesia itu wujud dari adanya segelintir orang yang memiliki modal atau pun kekuasaan untuk melakukan kedudukan di wilayah.

Dengan berbagai investasi dan ekspansi lahan, serta perizinan konsesi lahan. Diantara potret perampasan ruang hidup, konflik penolakan geotermal di daerah Solok, adanya kriminalisasi pada masyarakat Bidar Alam di Solok Selatan, banjir akibat pembukaan pariwisata, konflik Proyek Strategis Negara (PSN) Air Bangis yang luasan wilayahnya 30 ribu hektar untuk korporasi dari keseluruhan nya 40 ribu hektar.

Di bebankan kepada generasi, hanya memberikan solusi pragmatis.

Sederet konflik tersebut mengindikasikan bahwa kebijakan-kebijakan tersebut untuk kepentingan pemilik modal dan penguasa. Parahnya semua ini ilegal, dan solusi atas ini hanya di bebankan kepada generasi muda, seperti dalam konsep Zero Waste dan Duta lingkungan, para generasi di bajak perannya.

Pasal 33 (ayat 3) UUD 1945 pun sekadar bahasa formal yang tidak pernah ada realisasinya dalam kehidupan. Seharusnya negara berperan dalam kebijakan ekonominya untuk memenuhi kebutuhan tanah dan lahan bahkan kebutuhan dasar semua rakyat.

Penulis: Nur Hikmah Nasution (Mahasiswi Prodi Hukum Keluarga UIN Imam Bonjol Padang)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Pentas Drama Bahasa Arab, 7 BSA-C Tampilkan Kisah Aisyah Anak Baik Hati

Next Post

Libur Akhir Tahun, Pedagang Sekitar Pantai Pasir Jambak Mengalami Kenaikan Omzet

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty