Suarakampus.com- Di antara riuh dan hiruk pikuk kehidupan Kota Padang, sebuah ruangan sunyi terselip dalam dekapan perbukitan hijau Indarung, Kompleks Semen Padang, bernama Goa Kelelawar Padayo. Pada sisinya, semilir angin mengalir lembut bertemankan cahaya magis yang menari di dinding gua dan memancarkan keindahan alami bernilai edukatif.
Dahulu, sebelum ramai dikunjungi ia hanyalah situs kecil yang dirawat oleh segelintir pekerja di bawah pengelolaan PT Semen Padang. Namun, komunitas yang pernah berkunjung membawa kesempatan untuk memperkenalkan keindahannya keluar. Pasukan yang beranggota 30 orang, dikenal dengan sebutan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mengajukan proposal untuk pengembangan situs ini kepada pemerintah daerah. “Kami bekerja keras agar goa ini tidak hanya aman dan nyaman, tetapi juga memikat,” ungkap salah satu anggota Pokdarwis.
Setelah proposal diajukan, situs ini kemudian diresmikan oleh Wali Kota Padang pada 12 Mei 2024. Hingga kini, ia terus tumbuh sebagai magnet bagi kerinduan untuk sejenak menarik diri dari rutinitas perkotaan.

Detail formasi batuan gua dengan lampu LED warna warni. (Sumber: Verlandi/suarakampus.com)
Saat ini, didalam goa terdapat sentuhan warna-warni yang menambah keindahan. Bukan hanya sekadar lampu, melainkan penghidupan yang menyinari kegelapan dan menjadi lanskap magis yang memikat. Dengan penuh kehati-hatian, perpaduan keindahan alam berbaur dangan sentuhan modern mengisyaratkan penjagaan kesakralan alam agar tetap utuh.
Pengalaman untuk berkunjung ke goa ini merupakan bagian dari perjalanan yang tak terlupakan. Jalanannya menggiring pengunjung untuk melintasi kawasan perumahan karyawan PT Semen Padang dan perkampungan yang tenang. Setelahnya, pengunjung akan mendapati area parkir di kaki perbukitan. Tanjakan curam menuntut kehati-hatian pengendara kendaraan beroda empat. Setelah perjalanan panjang, rasa lelah akan luruh ketika mendapati hawa sejuk dan keheningan.
“Jalan masuk untuk mobil memang agak curam, tetapi masih bisa dilewati. Suasananya sangat hening dan sejuk, cocok untuk menikmati pemandangan dan bersantai,” tutur Cheysa Amani, pengunjung akhir pekan, menggambarkan pengalaman yang perlahan menjelma menjadi kenangan.

Tangga batu menuju goa yang dikelilingi pepohonan. (Sumber: Verlandi/suarakampus.com)
Dari parkiran, pengunjung sepeda motor dapat langsung mencapai gerbang masuk. Sementara itu, pengguna mobil harus berjalan kaki sekitar lima menit menuruni jalan tanah berbatu. Setelahnya, perjalanan dilanjutkan dengan menuruni tangga-tangga pendek yang tertata rapi sepanjang kurang lebih 400 meter hingga pintu masuk utama goa.

View pemandangan hijau perbukitan dari atas. (Sumber: Verlandi/suarakampus.com)
Dari ketinggian, kawasan pabrik Semen Padang tampak jelas, berpadu dengan hijaunya pepohonan. Aliran sungai kecil terdengar samar seolah menjadi latar suara alami yang menenangkan.
“View-nya hijau dan teduh, udaranya segar, ditemani bunyi air sungai yang terasa terapeutik. Cocok untuk menenangkan diri,” tutur Fitriana Surya yang datang bersama keluarga.

Area taman dengan jembatan hijau yang aesthetic dan hamparan bunga kuning. (Sumber: Verlandi/suarakampus.com)

Mulut goa dengan formasi bebatuan alami. (Sumber: Verlandi/suarakampus.com)
Begitu memasuki goa, cahaya LED warna-warni menyambut pengunjung. Pantulan cahaya pada dinding dan langit-langit goa menciptakan suasana dramatis sekaligus instagramable. Namun Goa Kelelawar Padayo bukan sekadar keindahan dengan estetika visual.

Interior goa dengan jalur jembatan kayu dan penerangan. (Sumber: Verlandi/suarakampus.com)
Dengan pendampingan pemandu, pengunjung diajak mengenal formasi goa serta kehidupan kelelawar yang menjadi penghuni alaminya. Demi keselamatan, pengelola menyediakan helm, sepatu bot, dan senter.
“Untuk goanya sendiri tidak terlalu dalam, tapi sudah dilengkapi lampu penerangan dan jembatan kayu, sehingga aman dan nyaman dikunjungi,” jelas Abbas Musyabullah.

Detail formasi batuan goa dengan pencahayaan hijau. (Sumber: Verlandi/suarakampus.com)
Meski demikian, akses pengunjung dibatasi saat memasuki sekitar 100 meter ke dalam goa. “Merokok dan melewati pagar pembatas dilarang,” ujar Hafizh, mengingatkan pentingnya menjaga keselamatan dan kelestarian.
Dengan tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang, pengunjung sudah dapat menikmati pesona Goa Kelelawar Padayo yang menghadirkan pengalaman wisata berkesan. Harga yang ramah di kantong berpadu dengan fasilitas keamanan yang memadai, menjadikan kunjungan terasa sederhana, namun tetap meninggalkan kesan mendalam.

Pondok istirahat di area luar goa. (Sumber: Verlandi/suarakampus.com)
Di luar goa, pondok-pondok istirahat berdiri di antara pepohonan. Fasilitas pendukung seperti toilet, mushola, hingga wifi gratis turut disediakan. Area luar yang luas kerap dimanfaatkan untuk kegiatan komunitas, mulai dari senam akhir pekan hingga lomba panjat pinang saat perayaan Hari Kemerdekaan. Area outbound juga tersedia untuk kegiatan kelompok.
Warung makan di sekitar gerbang masuk menyajikan makanan ringan dan jajanan khas seperti katan goreng, karupuak kuah sate beserta pelengkap sederhana setelah menyusuri alam.
Goa Kelelawar Padayo beroperasi setiap hari dengan jadwal kunjungan Senin hingga Jumat pukul 08.00–17.00 WIB, sementara pada akhir pekan dibuka lebih awal, yakni pukul 07.00 hingga 18.00 WIB. Akses jalan ditutup pada pukul 17.00, sehingga pengunjung diimbau mengatur waktu kunjungan secara cermat.
Bagi anak-anak, goa ini menjadi ruang belajar tentang ekosistem dan satwa. Remaja dan dewasa menikmati sudut-sudut visual yang estetis, sementara orang tua menemukan ketenangan di bawah rindangnya pepohonan.
“Meskipun datang di hari libur, tempatnya tetap relatif sepi. Adem, asri, dan tenang,” kata Naysila Rozana. Ia mencatat, area parkir mobil cukup jauh, namun wifi yang disediakan membantu pengunjung tetap terhubung atau justru memilih digital detox.
Pengunjung lain, Deniar Rusdar, mengingatkan pentingnya kesiapan fisik. “Karena harus naik turun tangga, pastikan kondisi fisik siap. Wisata alam seperti ini harus dijaga bersama,” pesannya.
Goa Kelelawar Padayo menjadi bukti bahwa kolaborasi masyarakat, perusahaan, dan pemerintah mampu menghadirkan destinasi wisata berkelanjutan. Dari ruang yang nyaris terlupakan, ia kini tumbuh sebagai ikon wisata baru Kota Padang yang memadukan keindahan alam, nilai edukatif, dan kesadaran pelestarian.
Dari balik lipatan perbukitan kota, Goa Kelelawar Padayo berbisik lembut disetiap ingatan, ketenangan akan selalu menunggu mereka yang siap untuk melangkah sejenak, menjauh dari riuh yang biasa disebut rumah.
Layaknya harta karun yang tak selalu terbenam di palung laut, Goa Kelelawar Padayo memilih persembunyian dalam hening, di balik perbukitan kota yang ditinggali. Salah satu rahasia dari surga tersembunyi adalah Goa Kelelawar Padayo yang setia menunggu untuk ditemukan.
Wartawan: Verlandi Putra