Bukan Sarung yang Menjadi Masalah, Tapi Prioritaslah yang Salah Arah

Ilustrator: Tsamara

Oleh : Khairul Fadli Rambe (Anggota Komunitas Scocy)

“Jika seseorang mengoreksimu, dan kamu merasa tersinggung, maka kamu memiliki masalah ego.” – Nouman Ali Khan

Menilik peran strategis Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) sebagai salah satu benteng yang mengawal isu-isu kemahasiswaan, sungguh ironis melihat bagaimana belakangan ini fokus mereka tampaknya bergeser pada hal-hal yang tidak substansial. Secara historis dan substantif, DEMA memiliki peran vital dalam fungsi advokasi, kontrol sosial, dan pengembangan nalar kritis. Sebagai representasi aspirasi kolektif, mereka seharusnya menjadi teladan dalam menjalankan tanggung jawab dengan efektif dan berintegritas. Posisi ini, memberikan DEMA otoritas moral dan intelektual besar, yang menuntut mereka untuk selalu berfokus pada permasalahan strategis dan bukan sekadar mencari celah-celah kecil yang mudah diserang.

Namun, ironi tersebut semakin nyata dalam kritik yang dilayangkan DEMA terhadap panitia Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). Mereka mempersoalkan sarung yang digunakan sebagai atribut mahasiswa baru terkesan nyeleneh dan alay, lebih lagi dengan mengatasnamakan bahwa atribut ini “memberatkan” dan “tidak jelas substansinya”. 

Kritik terhadap atribut PBAK ini, yang mungkin dianggap sebagai ancaman atau ketidakpatuhan. Sesungguhnya, adalah sebuah kemunduran intelektual dan semangat kritis yang salah alamat. DEMA, dengan segala sumber daya, posisi, dan otoritas moral yang dimilikinya, seharusnya memprioritaskan isu yang lebih substansial, bukan malah terjebak pada masalah teknis yang dangkal lagi sepele. Daripada berfokus pada bentuk rompi atau hal-hal sepele lainnya, DEMA seharusnya mengalihkan energi dan perhatian pada masalah yang lebih fundamental, seperti transparansi dana PBAK, kualitas materi yang disajikan, atau hak-hak mahasiswa yang sering kali terabaikan, justru persoalan demikian yang jauh lebih layak dan pantas untuk diperjuangkan. Kritik yang dilayangkan sebelumnya, justru menampilkan arah yang menyimpang dari etika akademik yang berlandaskan pemikiran mendalam, tetapi juga berpotensi merusak nilai budaya, estetika, dan nalar kritis mahasiswa baru yang sedang dibentuk.

Fenomena ini mengingatkan saya pada satu isu lucu terkait aparat kepolisian, yang menjalankan otoritasnya dengan gaya arogan, yang justru merusak citra institusi itu sendiri di mata publik. Kritik DEMA terhadap atribut sarung ini, bagaikan polisi yang justru sibuk mengungkap siapa orang yang berani merugikan bandar Judi Online, bukan malah memburu bandar judi itu sendiri. Polisi seharusnya menindaklanjuti kejahatan yang lebih besar, begitu pula DEMA. Mereka seharusnya berani membasmi “bandarnya”—apa saja masalah struktural dan esensial di balik pelaksanaan PBAK—bukan “orang yang membongkar” atau, dalam kasus ini hal-hal teknis yang tidak esensial seperti atribut. Fakta tersebut menegaskan bahwa masalah ini, bukan sekadar tentang PBAK, tetapi tentang cara berpikir kritis yang keliru dan salah arah.

Dampak Buruk terhadap Mahasiswa Baru: Senjata Makan Tuan

Di satu sisi, kritik DEMA terhadap panitia PBAK tampak seperti pertunjukan heroik yang menunjukkan kepada mahasiswa baru,  bahwa ruang kritis itu terbuka lebar. Namun, tindakan ini menampilkan keambiguan dan kontradiksi yang jelas: apakah kritik ini murni untuk perbaikan atau hanya sebatas drama politik internal yang dikemas sebagai aksi kritis atau bisa jadi ini sebuah gertakan untuk menunjukkan siapa penguasanya? Keraguan ini muncul sebab, kritikan yang dilontarkan hanya berfokus pada hal-hal dangkal dan tidak substansial. Kritik yang hanya berfokus pada atribut seperti sarung justru mendidik mereka untuk berani bersuara tanpa dibekali fondasi pemikiran yang kuat. Mereka mungkin belajar berteriak lantang, tetapi, tidak diajarkan merumuskan argumen yang cerdas dan berbobot. Ini adalah pendidikan ironis yang melatih mereka menjadi vokal tanpa isi.

Ironisnya, kritik yang tidak substansial ini berpotensi menjadikan mahasiswa baru sebagai “alat” atau “senjata” yang makan tuan. Mereka diajarkan untuk menjadi vokal, tetapi tanpa pemahaman mendalam tentang isu yang sebenarnya diperjuangkan. Alih-alih membentuk pribadi yang kritis dan analitis, pendidikan seperti ini justru berisiko menciptakan potensi anarkisme yang tidak dilandasi oleh diskursus mendalam, melainkan hanya dari emosi dan arahan yang dangkal. Dengan kata lain, ini adalah bentuk pendidikan yang tidak berkualitas, yang pada akhirnya hanya akan melahirkan generasi mahasiswa yang reaksioner dan mudah dimobilisasi untuk tujuan-tujuan yang tidak jelas.

Merenungkan Kembali Esensi Gerakan Mahasiswa

Pada akhirnya, tulisan ini bukan sekadar ekspresi terkejut yang saya lontarkan, melainkan sebuah ajakan untuk merenung dan bertafakur sebagaimana perintah Allah dalam surat Ali Imran ayat 190-191. Saya tidak yakin DEMA melakukan kritikan tersebut tanpa makna yang mendalam. Mereka bukan sekadar iseng atau kurang kerjaan sampai-sampai repot mengurusi sarung sebagai rompi. Saya yakin, di balik kritik “nyeleneh” tersebut, ada upaya licik namun cerdas, yaitu untuk membangkitkan jiwa kritis kita yang sudah lama disegel oleh ketenangan dan rutinitas.

Kita mungkin bisa mengesampingkan arah perlawanan yang tampak salah sasaran itu, dan justru memandang esensinya sebagai pancingan. DEMA, layaknya Dewan yang setia pada rakyatnya, tahu bahwa untuk membangunkan “rakyat” yang terlanjur pulas, terkadang perlu memancing dengan isu yang remeh-temeh. Mereka ingin menunjukkan bahwa ruang untuk mempertanyakan sesuatu—sekecil apa pun itu, bahkan sebatas sarung—selalu ada dan terbentang luas. Ini adalah taktik “perang psikologis” yang mencoba menggugah, bahwa jika kita bisa kritis terhadap sarung, seharusnya kita bisa lebih kritis lagi pada isu-isu besar yang selama ini kita biarkan membisu.

Meskipun demikian, kita harus tetap kembali pada esensi sejati gerakan mahasiswa, yakni menjadi agen perubahan yang cerdas, strategis, dan berintegritas. DEMA harus menjadi teladan dalam merumuskan kritik yang berbobot dan konstruktif, bukan sekadar mencari celah yang mudah diserang. Tujuan utama kita bukanlah membuat mahasiswa baru berani bersuara keras, melainkan mendidik mereka agar mampu berpikir secara kritis, mengidentifikasi akar masalah, dan merumuskan solusi yang relevan. Hanya dengan cara inilah kita dapat memastikan bahwa semangat mahasiswa baru tidak disia-siakan, melainkan diarahkan untuk membangun perubahan yang bermakna dan berkelanjutan, selaras dengan apa yang disampaikan Tan Malaka “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.”

Salam Masyarakat Baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Tercapai dengan Sukses, Panitia GEMARAWA Tahun 2025 dari Gemar Belajar FH USU Berhasil Laksanakan Penyuluhan dan Konsultasi Hukum Gratis

Next Post

Festival Budaya Paninggahan Perkuat Solidaritas Pemuda Lokal

Related Posts