Oleh : Putri Wahyuni
(Mahasiswi Jurusan Komunikasi Penyiaran IsIam)
Hidup di keluarga yang jauh dari pendidikan dan selalu pasrah dengan keadaan adalah takdir paling gelap yang pernah Kalu rasakan. Mereka selalu mengira semua ini sudah takdir, padahal dari buku-buku yang selalu Kalu baca, manusia bisa bangkit kalau mau berusaha. Man jadda wa jada.
Tapi apalah daya mimpi anak perempuan bungsu dari tujuh bersaudara ini. Hanya dia satu-satunya yang berhasil duduk di bangku SMA. Selebihnya ada yang hanya tamat SD, SMP, bahkan salah satu kakaknya hamil di luar nikah.
“Bah… kalau Kalu tamat SMA, Kalu mau kuliah jadi guru ya,” ucap Kalu pelan.
Kalu sudah menyiapkan telinganya untuk mendengar cemoohan dari seisi rumah.
Rumah kecil dan pengap itu padat penghuni.
Andra sibuk bermain judi online hampir setiap hari. Jeki ikut Abah mencari rongsokan.
Sisi menjadi janda dengan dua anak.
Beni kadang membantu angkat barang di pasar.
Putra sering meminta uang orang di jalanan.
Amel ikut suaminya merantau.
Dan terakhir, Kalu anak paling kecil yang terlalu banyak bermimpi.
“Mending lu bangun,” cibir Andra sambil tertawa kecil.
“Iya, Kal. Baru juga bisa sekolah sampai SMA, udah mau kuliah segala,” sambung Putra.
Abah hanya menghela napas panjang, lalu pergi keluar rumah tanpa mengatakan apa-apa.
Sedangkan Kalu menunduk menatap lantai rumahnya yang mulai retak. Matanya panas, hampir basah.
Mengharapkan beasiswa untuk anak kurang mampu pun terasa percuma. Keluarga Kalu bahkan tidak tercatat dalam data bantuan pemerintah. Entah bagaimana sistem itu bekerja.
“Iya, Ra. Papa gue nyuruh kuliah di Bandung sih. Kalau lu di mana?” bincang Yaya dan Zara di kelas.
Kalu yang mendengarnya pura-pura sibuk merapikan bukunya sendiri, takut kalau giliran dirinya ditanya.
Mereka bertiga sudah berteman sejak SMP. Walaupun di antara mereka, keadaan Kalulah yang paling memprihatinkan. Yaya dikenal kaya raya dan sering membantu Kalu dalam hal uang. Sedangkan Zara sering membantu mengantar jemput, meminjamkan buku, bahkan kadang membawakan bekal.
Di satu sisi, Kalu merasa bersyukur. Tapi di sisi lain, ia lelah merasa seperti orang yang selalu dikasihani.
“Kayaknya gue sama abang gue di Jogja deh. Kalau lu, Kal?” tanya Zara hati-hati.
Kalu pura-pura tidak mendengar.
Yaya dan Zara saling berpandangan tidak enak. Zara langsung merasa bersalah karena sudah menanyakan hal itu.
“Eh, gue ke toilet bentar ya. Kalau Buk Angun datang, bilangin gue izin,” kata Kalu cepat sambil berdiri.
Ia berjalan sendirian menuju toilet sekolah.
Di depan cermin kusam itu, Kalu menatap dirinya lama.
Ia tidak tahu harus menyalahkan siapa. Menjadi orang susah membuat mimpi terasa seperti sesuatu yang mewah. Buku-buku yang selama ini ia baca seolah memberi harapan bahwa semua orang bisa sukses asal mau berusaha.
Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Orang-orang di luar sana mungkin bisa berkata bahwa kemiskinan bisa dilawan. Tapi bagaimana caranya melawan kalau akses menuju hidup yang lebih baik saja terasa mustahil untuk dimiliki?
Kalu mulai bertanya-tanya, apakah mimpi memang hanya pantas dimiliki oleh orang-orang Kaya?
Buku-buku karya Ahmad Fuadi yang selalu Kalu baca tiba-tiba terasa seperti kebohongan baginya.
“Abahku bukan seperti ayahnya Ahmad Fuadi yang selalu mendukung anaknya.” Batin Kalu lirih.