Kasus Teroris Atas Nama Jihad, Begini Pandangan Pakar Hukum UIN IB

Sosok Asasriwarni, Pakar Hukum Islam UIN IB Padang (Foto: Wikipedia)

Suarakampus.com- Kasus seorang perempuan yang terduga teroris di Markas Besar (Mabes) Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Jakarta mengundang perhatian publik. Salah satunya yang disampaikan oleh Pakar Hukum Islam UIN Imam Bonjol Padang, Asasriwarni, Jumat (02/04).

Ia mengatakan jalan jihad bukan dengan cara bunuh diri maupun membunuh orang lain. “Masih banyak jihad yang bisa kita lakukan sekarang ini seperti berinfak, berwakaf, sedekah, menyampaikan ajaran agama (syiar), penyuluhan, dan menegakkan hukum agama dengan baik, itu juga jihad di jalan Allah,” katanya kepada wartawan suarakampus.com.

Asasriwarni menjelaskan ketika para sahabat Nabi Muhammad SAW kembali dari perang badar, mereka berkata bahwa telah kembali dari jihad yang paling besar dan Nabi SAW menjawab kalau itu bukan jihad yang paling besar. “Perang yang dilakukan kaum muslimin itu masih dapat dikatakan jihad kecil, sesungguhnya jihad yang paling besar itu adalah jihad melawan hawa nafsu kita masing-masing,” tuturnya.

Lanjutnya, sebagai generasi muda kita harus mampu memilih dan memilah berita-berita yang tersebar di media sosial. “Maka dari itu, kita perlu memperdalam ilmu di perguruan tinggi masing-masing agar dapat memfilter informasi yang kita baca atau dengar,” ucapnya.

Ia juga menuturkan faktor dominan penyebab terjadinya hal ini karena adanya ketidakpahaman terhadap ajaran agama Islam, sehingga menolak sesuatu tanpa adanya landasan dan alasan yang jelas. “Dengan belajar sungguh-sungguh kita dapat menganalisis pendapat yang dikemukakan orang-orang, sehingga dapat memilih menerima atau menolak hal tersebut,” lanjutnya.

Kemudian Asasriwarni menjelaskan kita dapat menolak ketika pemerintah menyuruh untuk berbuat maksiat, namun lain halnya ketika negara dalam keadaan aman-aman saja.“Sekarang ini sudah banyak Undang-undang yang berdasarkan agama, contohnya Pasal 29 UUD 1945 yang berbicara tentang Ketuhanan Yang Maha Esa,” terangnya.

Ia berharap untuk ke depannya dengan menimba ilmu di perguruan tinggi agama seseorang bisa lebih bijak menelaah informasi.“Saya berharap kita tidak menerima begitu saja berita di media sosial, namun harus mampu menganalisisnya terlebih dahulu,” harapnya. (rta)

Wartawan: Nada Andini (Mg)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Bantuan Kuota Belum Direalisasikan, WR II: Menunggu Kebijakan Pemerintah Pusat

Next Post

Menggenggam Bara Api

Related Posts
Total
0
Share