Suarakampus.com– Kepulauan Mentawai tidak hanya menawarkan keindahan destinasi yang digandrungi wisatawan, tetapi juga menyimpan luka yang tak bersuara. Salappa, salah satu dusun di Desa Muntei, menjadi bukti pilu dari riuhnya proklamasi kemerdekaan yang pernah dilontarkan.
Untuk sampai ke Salappa, tidak ada transportasi darat yang bisa digunakan kecuali pompong yang menghubungkan dusun ini ke dunia luar. Menggunakan pompong, tak jarang harus mengarungi muara sungai berkelok panjang dengan arus tak terduga. Di kiri dan kanan pompong, hutan lebat turut mewarnai perjalanan.

Menandai akan sampai di Dusun Salappa, pompong melewati Dusun Bakailuk terlebih dahulu. Saat pompong bermain dengan arus, perasaan asing merambat nyata. Aliran sungai memang menjadi satu-satunya transportasi sebab tidak ada akses darat yang bisa ditempuh kendaraan beroda.

Ternyata, senyap mampu menjadi pengingat bahwa jarak yang tercipta bukan sekadar persoalan geografis, tetapi juga persoalan perhatian yang tak kunjung merata. Lekukan sungai yang membawa pompong terasa sangat panjang, seolah menegaskan bahwa dusun ini sangat terpencil dan terasing.
Sebelum malam menyapa, Salappa tampak hidup dengan kesederhanaan yang ditawarkan. Masyarakat berhilir mudik dengan aktivitasnya masing-masing. Di tengah kesibukan, suara anak-anak dan semilir angin saling bersahutan, menciptakan kesan tenang yang berbeda dengan kehidupan di luar.



Begitu matahari turun, ketenangan itu pupus sebab senja datang diiringi keterbatasan. Perlahan, matahari berhenti menerangi. Bayangan di jalan setapak tampak memudar, suara yang semula gemuruh perlahan menghilang. Senyap dan gulita mulai menguasai, menuntut siapa pun untuk meraba-raba.
Agaknya, begitu matahari tenggelam, Salappa harus melebur. Gelap datang menyelimuti ketenangan. Lokasi yang dianggap pemukiman bersatu dengan hutan. Tanpa lampu, tanpa penerangan. Hanya ada suara angin, dedaunan yang bergerak ke sana ke mari, dan binatang malam yang membuat sunyi lebih mendalam.
“Kami terbiasa dengan gelap bukan karena adat, Pemerintah tidak melirik kami.” ujar warga setempat, Afriyadi Satoinong.
Di antara gulita dan kesunyian, hanya ada satu titik penerangan. Anak-anak warga keluar menapakkan kaki di bawah gelap untuk menuju pondokan. Mereka berbincang, bertukar tawa, menghiasi malam dengan nyanyian. Pondokan kecil di dekat masjid menjadi markas untuk berkumpul. Di tengah kerumunan warga itu terletak genset sederhana berbahan bakar minyak. Genset itu menyala pada waktu tertentu, digunakan untuk mengisi daya ponsel. Malam berbisik pelan, memberi isyarat seolah cahaya itu tak kuat dan terbatas.

Cahaya dan listrik tunggal itu tidak pernah abadi, melainkan lenyap di pertengahan malam. Begitu suara mesin berhenti, satu-satunya cahaya itu turut padam. Kegelapan total menelan seluruh dusun.
Komunikasi terputus, seolah memaksa seluruh aktivitas ikut beristirahat dengan datangnya malam. Gelap di Salappa bukan hanya soal listrik. Pagi disambut dengan penantian panjang, seolah harus mengarungi samudera luas agar benar-benar memperoleh penerangan kembali.

Kepala Dusun Salappa, Natalinus Satainong, mengungkapkan bahwa persoalan ini sudah berlangsung lama. “Keluhan kami sampaikan berkala, namun dibiarkan tanpa realisasi,” jelasnya.
Natalinus mengenang, ada harapan sempat menyala ketika ada program bantuan dari pemerintah. “Ketika ada program panel surya, kami merasa hidup. Namun panel surya tersebut tidak bertahan lama, Cukup bantu kami dengan penerangan, agar kami merasa hidup.” Kenangnya.
Juprianto, warga setempat lainnya, memaparkan bahwa persoalan ini belum sepenuhnya terealisasi sebab ketimpangan pembangunan yang masih sangat nyata. “Pemerintah buta akan kami yang selalu berada dalam kegelapan,” tegasnya.
Salappa dan penghuninya tidak menuntut kemewahan atau proyek berlebihan dari negara. Suara yang selalu disampaikan tidak pernah benar-benar sampai ke permukaan. “Kami juga warga Indonesia. Kami butuh penerangan, transportasi, dan komunikasi,” ungkap Juprianto.
Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan sejak puluhan tahun lalu, tetapi Salappa masih ditelan keterjajahan. Agaknya ini bukan sekadar tentang jarak alam, tetapi masyarakat yang terus dipaksa menunggu. Mereka tidak meminta dikasihani, hanya meminta waktu untuk benar-benar diakui.
Wartawan: Zahra Mustika