Kerajaan Sunyi

Oleh: Talia Sartika Bara Widya

Aku tahu kau pasti paham kalau aku ini bukan orang yang romantis dalam bertindak, aku sesekali kaku dan tidak benar-benar bisa mengatakan apa yang aku rasakan, seringkali aku keras kepala dan egois, tak sekali-dua kali sifatku yang begini membuatmu kesal. Sungguh, aku minta maaf, hanya saja kau tahu setelah hidup sekian tahun dengan kenangan dan pengalaman buruk, aku melihatmu sebagi cahaya dalam hidupku, kau yang selalu secerah matahari sekalipun setelah hujan deras di malam itu kau menceritakan semua yang menganggumu. Tentang hal-hal buruk yang tak kusangka pernah kau alami.

Saat itu jantungku berdebar hebat tapi aku tidak ingin menyandarkan kepalamu ke dadaku, aku benar-benar takut jika aku tahu bahwa setelah sekian lama kita cukup dekat, nyatanya baru pada momen itu aku jatuh cinta denganmu. Bahkan mungkin, hanya itu satu-satunya momen jatuh cinta yang kumiliki setelah sekian lama aku menjalani suatu hubungan ke hubungan lainnya, dan aku mengira bahwa kau dan aku tercipta untuk jadi satu dan bersama selamanya, biar orang berkata apa tapi itulah hal yang ingin aku percayai.

Tapi itu dulu, dan kini aku ingin menghitung hari yang sudah aku habiskan, kusadari orang-orang di sekitar mulai menunjuk beberapa helai rambut keabuan menggantikan helaian hitam di kepalaku, dan mengapa setelah sekian tahun kepergianmu aku masih melajang. Memang beginilah adanya, harga yang pantas untuk sebuah kesetiaan adalah seumur hidupmu, bukan? Ah, iya, kau tahu kini aku melihat apa yang aku harap dapat kau lihat. Seperti asap dari kendaraan perlahan bersatu dengan udara di sekitarnya, lampu jalan yang terang seperti kuning telur setengah matang dengan aspal basah setelah hujan yang memantulkan cahayanya, dan orang-orang yang lalu lalang tanpa dapat kuingat warna baju dan rupa wajahnya di kedai kopi yang sering kita kunjungi.

Aku juga ingin kau dapat menciumi apa yang aku cium; bau asap, bau keringat, bau parfum, bau makanan, bau tembakau dan cengkeh yang terbakar, bau hujan, dan bau aroma kopi dan teh dari kantin fakultas tempat pertama kali kita berjumpa. Aku masih sesekali mengunjungi tempat ini (cukup sering sepertinya) sampai-sampai orang-orang di sana sudah mengenal betul apa yang ingin kupesan. Bahkan, membuatkannya sebelum aku datang. Segelas teh telur, dua buah pisang goreng, dan setengah bungkus rokok putih. Memang tidak seperti apa yang dulu sering aku pesan sewaktu kita berdua mampir, tapi seiring waktu selera makanku mulai berubah, sudah berapa lama aku tak lagi bisa mencicipi masakan buatanmu?

Semuanya mengingatkanku padamu, dan aku masih dapat mengenali setiap sudut yang pernah kita isi, semua gelak tawa, semua gunjing akan skandal di kampus yang belum kita ketahui benar tidaknya. Tapi dari warna yang dapat mata ini kenali, aroma yang dapat hidung ini tangkap, aku masih tidak mengenalimu, aku masih coba menjemputmu dari ingatan yang sudah lama kau bisikan agar aku segera menghilangkannya. Sebelum kita melangkah pada arah yang berbeda malam itu. Semenjak itu, tentu kau tahu, kau tahu betul aku ingin menjemputmu dari ingatan yang sudah lama mesti dihapus ini.

Walau akhirnya aku tetap menemukanmu di sana, pada ranjang kita yang mulai ringkih, pada pakaianmu yang mulai menguning–sungguh maafkan aku yang mulai hilang hitungan hari untuk mencucinya–tentu masih meninggalkan aroma yang sama, parfum sitrus yang terus kau gunakan. Soal parfum itu, tentu masih tersimpan dengan baik di meja riasmu, sesekali aku menyemprotkannya, jika habis tentu aku akan memesannya lagi. Terkadang aku mengambil satu dua helai pakaianmu, menggantungnya pada paku yang kau sematkan di dekat pintu.

Sesekali aku mendengar suara langkah kakimu yang terburu-buru mengambil baju, suara omelanmu soal pekerjaan yang menyebalkan, gaji yang pas-pas saja tidak sebanding dengan seluruh perjuangan dan prestasimu selama ini, yang sungguhan mesti kau gadai dengan keringat dan darah. Hanya saja kau tahu, bahwa aku terdiam sebab aku mulai heran akan keterburu-buruanmu, jam lemburmu yang semakin bertambah, dan semua keluhanmu yang mulai ikut buatku sesak.

Tapi aku tak pernah berkata apa-apa, tidak pernah mengomentari apa-apa, aku hanya ingin menjemputmu dari ingatan yang sudah lama aku kubur, dari tangis yang kau genang pada botol-botol minuman keras, yang kemudian kau hempaskan ke dinding, dan kumohon jangan sampai aku terpaksa menceritakan bagaimana kau menangis, dan bagaimana pecahan kaca itu hampir kau tanamkan pada leher dan pusarmu. Tentu kau tidak cukup berani, dan aku jamin ucapan ini. Kau sudah terlalu takut akan hal seperti itu. Sebab mengingatkanmu pada sesuatu, kan? Jadi kau menjemputku dalam ingatanmu, dan kau lukis segala tentangku, warna-warna yang kupakai, warna-warna yang ada di tubuhku. Pada malam itu kau tahu persis apa warnanya, kan?

Sebelum semua berakhir pada robekan kertas atau bau terpanggang dari segala roman picisan yang ingin kau sampaikan, seolah kau orang baik, kau romantis, kau benar-benar merindukan dan mencintaiku, sebab jejak digital terlalu menyeramkan, katamu. Lembar-lembar kertas itu tak lain hanya bentuk lain penyesalanmu, yang tak sempat kau sampaikan di saat kau harus menyampaikannya. Kau yang diam-diam bangga dengan segala kesendirianmu dan segala hal yang kau sebut sebagai pengabdian.

Tidak denganku, aku mengenal bahwa kau orang yang selalu saja egois dan keras kepala, aku sudah bertahun coba bertahan. Jadi mengapa kau tidak lelah dan mengakhiri semua ini, membayangkan semua kenangan indah antara kau dan aku, bahkan mungkin siapapun yang mengisi kesengganganmu kala itu. Ketika aku bertanya mengapa kau berselingkuh? Tapi kenapa kau hanya diam saja?

Kau brengsek, mengakhiri segalanya tentang kita dan memenjarakanku dalam kenanganmu menjadi semua hal yang kau ingin aku lakukan, sedang aku tak mungkin bisa mengingatmu dan kau menciptakan sosokku yang baru, yang kau panggil sayang dan kau sarangkan dalam kepala, sebelum kau pecah bunyinya dengan tangis dan makian. Bahkan hingga kini orang-orang mengira bahwa akulah yang ceroboh dan tak berhati-hati, semua hanya karena aku mohonkan maaf bahwa kita tidak bisa bersama lagi.

Sialnya, tidak ada satu pun hal yang bisa membantah apa yang kau ucap malam itu, selain mataku pada detik-detik sebelum semuanya gelap. Kini kuharap kau membusuk, kini kuharap kau bisa berpikir sepertiku dan membenci dirimu sejadinya. Aku sudah bersarang di kepalamu, menjadi dirimu yang baru, dan membangun kerajaanku pada sunyi penyesalanmu. Kau sudah hiasi warna malam itu di bawah lampu jalanan sewarna dengan kuning telur setengah matang, sedang aku merah yang mulai padu dengan rinai hujan, sedang kau memijaki anyirku dengan tangismu.

Talia Sartika Bara Widya. Lahir di Padang 26 Juni 1999. Saat ini sedang menjadi mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Andalas, ilustrator pemula di beberapa media daring.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Walhi Sumbar Galang Dana Bertajuk Rendang untuk Kemanusiaan

Next Post

Cara Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh di Masa Pandemi

Related Posts

Rumput Tetangga

Oleh: Firga Ries Afdalia Tut..tut..tut… Nada sambung itu berbunyi sekaligus mengakhiri percakapan. Kebiasaan kaum rebahan menghabiskan akhir pekan…
Selengkapnya

Tenbi Love Story

Oleh: Annisa Juita Muhdi (Mahasiswa Tadris Matematika) Tenbi begitu anak-anak Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Imam…
Selengkapnya
Total
0
Share